Pernikahan ‘Pulang ka Bako’ di Minangkabau

Pernikahan Minang
Aurel dan Atta memakai pakaian pengantin adat minang (YouTube/ Aurelie Hermansyah)

Oleh: Sri Handayani

Tahukah kamu, di Minangkabau terdapat tradisi unik yang termasuk dianjurkan untuk dilakukan yaitu tradisi ‘pulang ka bako’. Mengapa tradisi itu dianjurkan, ya karna dengan ‘pulang ka bako’ keturunan terjaga di sekelilingnya. Untuk lebih jelasnya mari simak penjelasan berikut apa itu tradisi ‘pulang ka bako’?.

Read More

Setiap manusia dikodratkan untuk berpasang-pasangan hingga menghasilkan keturunan. Dengan begitu manusia perlu mengikat janji suci dalam bentuk sebuah pernikahan atau perkawinan. Pernikahan atau pernikahan itu juga harus sesuai baik itu sesuai dengan ketentuan negara, agama dan juga adat tertentu dalam suatu daerah.

Perkawinan atau pernikahan adalah hubungan permanen antara laki-laki dan perempuan yang diakui sah oleh masyarakat yang bersangkutan yang berdasarkan atas peraturan perkawinan atau pernikahan yang berlaku oleh ketentuan agama, ketentuan negara dan juga ketentuan adat atau tradisi di daerah setempat. Bentuk perkawinan tergantung budaya atau tradisi daerah di setempat bisa berbeda-beda dan tujuan perkawinan atau pernikahan pun bisa berbeda-beda juga.

Bagaimana dengan pernikahan di adat Minangkabau? Sebenarnya hampir sama saja dengan pernikahan atau perkawinan yang biasa lazim dilaksanakan. Namun, di Minangkabau terdapat pernikahan yang termasuk ideal yang biasa disebut pernikahan atau perkawinan ‘pulang ka bako’. Bako adalah keluarga dari ayah. ‘pulang ka bako’ merupakan perkawinan antara kemenakan dan anak mamak atau mengawini kemenakan ayah.

Perkawinan ‘pulang ka bako’ ini ideal di karenakan dengan perkawinan ‘pulang ka bako’ ini merupakan perkawinan antara keluarga dekat. Beberapa tujuan dari perkawinan ‘pulang ka bako’ ini salah satu alasannya yaitu dengan perkawinan ka bako ini maka harta warisan tetap terjaga di dalam keluarga tersebut.Misalnya saudara ayah termasuk keluarga yang banyak harta warisan,jadi mengawinkan dengan anak mamak maka harta warisan akan tetap berputar di daerah atau kawasan keluarga terdekat saja.

Sebagian pandangan remaja yang menginjak dewasa berpikiran bahwa perkawinan ‘pulang ka bako’ sendiri itu membuat kita tidak berkembang atau kurang beradaptasi dengan daerah luar. Yang istilahnya hanya bergaul dengan daerah setempat atau keluarga terdekat saja yang maksudnya tidak menjalin hubungan atau pengalaman hubungan dengan orang luar yang menjadikan anak keturunan itu-itu saja.

Jika menjalin hubungan yang untuk bertujuan perkawinan atau menikah pandangan dari remaja atau dewasa yang ingin menikah pada zaman saat sekarang ini lebih banyak menginginkan menikah dengan orang di luar daerah setempatnya atau ingin dengan orang diluar Minang. Yang bertujuan supaya adanya hal yang unik di dalam rumah tangga misalnya antara orang Minang dengan orang Jawa seperti anak laki-laki dari keturunan Jawa dan perempuan dari keturunan Minang, maka akan mendapatkan harta warisan dari kedua insan atau pasangan tersebut masing-masingnya.Lain halnya dengan cerita dalam novel merantau ke Deli, di dalam novel ini diceritakan bahwa ada seorang laki-laki Minang menikah dengan perempuan Jawa. Hal ini merupakan hal yang di Minang tidak boleh dikarenakan laki-laki Minang haruslah menikah dengan perempuan Minang. Menurut logika memang benar,kalau memang laki-laki dari Minang dan perempuan dari Jawa tentu tidak ada yang mendapat harta warisan. Dan anak keturunan pun tidak memiliki suku.Jadi jika yang dari laki-laki dari darah Minang maka sangatlah tidak boleh dengan perempuan di luar Minang karena akan timbul masalah.

Selain perkawinan ‘pulang ka bako’, ada juga perkawinan ideal yaitu perkawinan “ambiak maambiak” ambil mengambil.Maksudnya kakak beradik laki-laki dan perempuan Annisa menikah secara bersilang dengan kakak beradik laki-laki dan perempuan Betri.Hal ini juga diperbolehkan dalam adat tradisi Minangkabau dikarenakan juga yang akan menikah juga tidak sedarah.Dan dalam hal ini ada masing -masing dua orang saling bersaudara menikah.Hal ini juga sama halnya menjalin dengan keluarga terdekat jadinya apabila kakak dengan kakak terlebih dahulu baru adik sama adik juga menjadi keluarga yang disitu juga.Hal ini juga bisa menjaga harta warisan keluarga yang bertujuan tidak melebar kemana-mana.

Ada juga perkawinan orang sekorong sekampung.Senagari,seluhak dan akhirnya juga sesama dengan orang Minangkabau.Perkawinan dengan orang luar kurang disukai, meskipun tidak dilarang. Dengan kata lain. perkawinan ideal bagi masyarakat Minangkabau ialah perkawinan antara “awak samo awak”, ltu bukannya menggambarkan bahwa orang Minang menganut sikap yang tertutup. Tetapi memang pola perkawinan atau jalinan perkawinan “awak samo awak” itu berlatar belakang sistem yang dianut adat Minang. Dengan bertujuan menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki seperti ada anak keturunan yang tidak memiliki suku.

Dalam pandangan atau hukum Islam perkawinan yang tiga tadi yaitu perkawinan ‘pulang ka bako’, perkawinan ambiak maambiak, dan perkawinan awak samo awak juga diperbolehkan.Perkawinan atau pernikahan.Ini diperbolehkan dikarenakan dalam dua insan manusia masing-masing juga tidak bertalian darah.Didalam Islam yang dilarang itu jika perkawinan atau pernikahan yang dilangsungkan itu setali darah.Berpedoman kepada hukum Islam yang memperbolehkan dan juga didalam adat juga dianjurkan maka sangatlah ideal perkawinan atau pernikahan dilaksanakan seharusnya menjadi pilihan kita seorang yang berdarah Minang.

Begitu indah dan lekatnya budaya atau tradisi Minang dikarenakan yang semuanya itu di atur dalam aturan adat Minangkabau.Dengan perkembangan bentuk perkawinan atau pernikahan di Minangkabau seiring berjalannya zaman mulai mengalami perubahan.Hari ini sudah banyak yang melanggar aturan-aturan ketentuan adat tradisi Minangkabau sendiri. Hal ini harus dikurangi, jangan sampai hal ini akan menjadi kebiasaan masyarakat Minang yang melanggar tentang perkawinan yang dianjurkan. Sepatutnya bisa tetap menjalankan, dilestarikan dan dijaga aturan-aturannya dalam kehidupan.Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga aturan-aturan adat Minang tersebut. Dengan begitu anak cucu kita juga bisa mengenal dan merasakan adat-adat atau tradisi Minangkabau ini. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Minangkabau Universitas Andalas.

Related posts