Pesantren Ramadhan dan Misteri 1.561 Masjid yang Tersambung ke Langit Padang

  • Whatsapp

Oleh: Buya Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A. adalah Pengamat, Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Ketua PWM 2015-2022; 2000-2005

Padang, kota yang terbentang di tepian Samudera Hindia, memasuki Ramadhan 1447 H dengan wajah berbeda. Di setiap sudut, dari masjid agung hingga mushalla kecil di lorong-lorong sempit, sesuatu yang tak biasa tengah terjadi. Ramadhan tahun ini bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, ia menjadi laboratorium spiritual terbesar yang pernah dilakukan Pemerintah Kota Padang.

Saya masih ingat percakapan ringan dengan Wawako Maigus beberapa hari sebelum bulan suci tiba. Wajahnya berseri ketika bercerita tentang program yang akan diluncurkan. “Kita ingin semua masjid dan mushalla terhubung, Pak Shofwan. Bukan hanya secara fisik, tapi juga digital,” katanya waktu itu. Saya mengangguk, belum sepenuhnya membayangkan wujudnya.

Ternyata, yang dirancang jauh lebih ambisius dari sekadar imajinasi saya.

Ketika 1.561 Rumah Allah Bersuara Satu Suara

Tanggal 23 Februari 2026, bertepatan dengan awal Ramadhan, Wali Kota Padang Fadly Amran berdiri di mimbar. Dengan satu klik, serentak 1.100 masjid dan mushalla di seluruh Kota Padang menggelar Pesantren Ramadhan. Bukan seremonial biasa. Data yang saya akses via Padang Mobile pada 28 Februari pagi menunjukkan angka fantastis: 1.298 masjid aktif, 88.944 siswa terdaftar, 47.791 di antaranya tercatat mengikuti kegiatan sholat berjamaah. Empat hari pertama Ramadhan, separuh lebih siswa Kota Padang sudah kembali mengisi saf-saf masjid.

Saya membuka aplikasi itu berulang kali, takjub. Di dashboard Smart Surau, semuanya terpampang real-time. Total kelurahan 104, semuanya aktif. Total kecamatan 11, semuanya bergerak. Ini bukan program dadakan. Ini adalah orkestrasi besar yang menjahit 1.561 titik rumah Allah ke dalam satu sistem terpusat.

“Program ini bagian dari upaya penyiapan Padang Juara,” ujar Fadly saat peresmian. “Tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki integritas dan landasan keagamaan yang kuat.”

Fadly-Maigus genap setahun memimpin. Pada 22 Februari, sehari sebelum Ramadhan, mereka menggelar refleksi. Dua kepala daerah itu tegaskan komitmen “Satujuan untuk Kejayaan Kota Padang”. Dan Pesantren Ramadhan menjadi bukti pertama di tahun kedua mereka bahwa janji tentang keberlanjutan bukan sekadar retorika.

Antara Hafalan Juz Amma dan Tiket Umroh

Di Masjid Raya Ganting, seorang ustazd tengah membimbing puluhan siswa SD menghafal Juz Amma. Di Masjid Raya Andalas, siswa SMP berusaha keras mengingat setiap ayat Surat As-Sajadah. Targetnya jelas: hafalan wajib untuk lulus program. Tapi Fadly-Maigus menambahkan bumbu yang membuat anak-anak bergairah: hadiah umroh bagi pelajar terbaik.

“Bayangkan, Pak,” kata seorang guru kepada saya, “anak-anak sekarang rebutan jadi yang paling disiplin. Bukan karena takut dimarahi, tapi karena ingin umroh gratis.”

Tapi Pesantren Ramadhan ini bukan program tunggal. Ia terjahit rapi dalam sembilan program unggulan Fadly-Maigus. Program unggulan ketiga, Smart Surau, menjadi induknya. Di dalam Padang Mobile—aplikasi yang saya unduh dari App Store dan Play Store—semuanya terintegrasi. Dari layanan pendidikan, harga pangan, CCTV, Trans Padang, hingga administrasi kependudukan. Semua dalam satu genggaman.

Di bawahnya, ada tulisan “Coming Soon” untuk fitur Surat, Ayo Ceting, dan Metro Satu. Tapi yang sudah aktif, hampir 100 persen terkoneksi dengan baik. Ini bukan e-government biasa. Ini adalah upaya serius menjadikan layanan publik menyatu dengan denyut nadi masyarakat.

Yang Sering Terlupakan: Ketika 2.500 Siswa Non-Muslim Juga Diberi Ruang

Di tengah hiruk-pikuk Pesantren Ramadhan, ada cerita lain yang tak kalah menarik. Tanggal 23 Februari, di waktu yang sama, Wako Fadly juga membuka program Bina Iman bagi siswa Kristen dan Katolik. 2.500 murid, pelajar, dan siswa non-Muslim mengikuti pelatihan keimanan hingga 17 Maret nanti.

Saya mencermati ini sebagai titik penting. Di kota yang mayoritas Muslim, perhatian pada warga non-Muslim kerap menjadi isu sensitif. Tapi Fadly-Maigus memilih jalan inklusif. Bina Iman hadir bukan sebagai program tempelan, melainkan bagian dari filsafat besar: mewujudkan kerukunan dan penguatan iman lintas agama.

Seorang pendeta di salah satu gereja di Padang bercerita kepada saya, “Anak-anak kami merasa diperhatikan. Mereka tak hanya diajari tentang iman mereka, tapi juga diajak memahami bahwa mereka bagian tak terpisahkan dari Kota Padang.”

Inilah yang jarang disentuh program-program serupa di daerah lain. Fadly-Maigus sepertinya paham betul bahwa kota juara tak hanya dibangun oleh mayoritas, tapi oleh seluruh warganya tanpa kecuali.

Tapi, Mampukah Bertahan?

Saya duduk di beranda rumah, merenung. Program seideal apa pun pasti menghadapi persoalan klasik: waktu terbatas, dana terbatas, SDM terbatas, dan yang paling krusial—kesediaan orang tua mengizinkan anak-anaknya terus mengikuti program hingga tuntas.

Di beberapa masjid yang saya sambangi, ustazd-ustazd muda tampak bersemangat. Tapi saya juga melihat beberapa orang tua menjemput anaknya lebih awal. “Sudah magrib, Bu,” kata seorang ibu. “Nanti takut kehujanan.”

Pertanyaan besar menggantung: apakah program ini akan berkelanjutan? Atau hanya akan menjadi euforia Ramadhan yang meredup setelah Idul Fitri tiba?

Fadly-Maigus tentu tak ingin yang kedua terjadi. Logika refleksi yang mereka lakukan pasti akan berlanjut ke evaluasi. Akan ada updating, rehabilitasi, rekonstruksi. Mana yang harus dilanjutkan dan disempurnakan. Mana pula yang harus diubah secara fundamental, instrumental, atau sekadar fragmental.

Tapi yang lebih penting, apakah filsafat pendidikan yang mendasari program ini sudah tersosialisasi dengan baik? Kementerian Agama punya kurikulum cinta. Kemendikdasmen punya “deep learning”. Dua-duanya berakar pada belajar yang menyenangkan dan bermuara pada kecerdasan, ketaqwaan, dan inklusifitas.

Pesantren Ramadhan dan Bina Iman harusnya menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir. Mereka harusnya menjadi taman bermain spiritual, bukan ruang kelas yang menegangkan. Anak-anak harus pulang dengan mata berbinar, bukan dengan beban hafalan yang membuat mereka enggan kembali ke masjid esok hari.

Padang Juara Dimulai dari Surau yang Cerdas

Malam semakin larut. Suara takbir mengalun dari pengeras suara masjid di kejauhan. Di layar ponsel saya, data Smart Surau terus berubah. Angka-angka bergerak dinamis. Siswa yang sholat berjamaah bertambah setiap jam. Masjid yang aktif melaporkan kegiatan terus mengisi database.

Fadly-Maigus mungkin tak akan membaca renungan ini. Tapi pesan saya sederhana: program ini terlalu berharga untuk hanya menjadi seremonial belaka. Jika dikelola dengan benar, dengan evaluasi yang jujur dan perbaikan yang konsisten, Pesantren Ramadhan bisa menjadi model pendidikan karakter terbesar yang pernah dimiliki kota ini.

1.561 masjid dan mushalla bukan sekadar angka. Mereka adalah titik-titik cahaya yang jika dirawat dengan baik, bisa menerangi seluruh kota. 88.944 siswa bukan sekadar data. Mereka adalah masa depan Padang yang tengah dibentuk, ditanamkan nilai-nilai, dan disiapkan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan.

Dan yang tak kalah penting, 2.500 siswa non-Muslim yang ikut Bina Iman adalah pesan bahwa Padang terbuka untuk semua. Bahwa keberagaman bukan ancaman, tapi kekuatan.

Saya menutup Padang Mobile, meletakkan ponsel di samping tempat tidur. Di luar, hujan turun perlahan. Ramadhan baru berjalan beberapa hari, tapi perubahan sudah terasa. Yang perlu dijaga adalah konsistensi. Karena membangun generasi tak bisa instan. Ia butuh waktu, butuh kesabaran, dan butuh cinta yang tulus.

Sebagaimana kata pepatah Minang: Alam takambang jadi guru. Alam yang terus bergerak dan berubah jadi pelajaran. Dan Padang, melalui Pesantren Ramadhan-nya, sedang belajar menjadi guru bagi kota-kota lain di Indonesia.
Wallahu a’lam bishshawab.

Related posts