Petani “Gaptek”? Hah, Mereka di Sini Justru Ciptakan Lahan Pakai Sensor dan Drone!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI – Hari ketiga Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk 60 petani milenial di UPTD BPPP DPTPH, Sabtu (15/11/2025), disemangati oleh optimisme baru. Dipandu oleh Firdaus Ardianto, seorang dosen yang juga praktisi petani milenial, acara ini menghadirkan paparan visioner tentang masa depan pertanian Indonesia.

Zaini, seorang dosen Universitas Andalas (Unand), hadir membawa angin segar inovasi. Di hadapan para petani milenial, ia memaparkan sebuah transisi yang tak terelakkan: dari bertani dengan keringat dan naluri, menuju “Smart Farming” yang presisi dan berkelanjutan.

“Kondisi pertanian kita saat ini masih sangat bergantung pada cuaca dan tenaga manusia. Produktivitas lahan rendah, akses teknologi terbatas, ditambah tantangan iklim dan degradasi tanah,” ujar Zaini, menggambarkan realitas yang akrab dihadapi petani. Ia menegaskan, dalam situasi force majeure, proteksi seperti asuransi dari pemerintah seharusnya menjadi hak petani.

Namun, di balik tantangan, selalu ada peluang. Zaini membeberkan peta jalan menuju perubahan. Tantangan utama seperti ketergantungan pada alam, efisiensi air dan pupuk yang rendah, hingga SDM yang belum melek digital, bisa dijawab dengan tiga komponen utama pertanian cerdas: Internet of Things (IoT) dengan sensor-sensornya, Kecerdasan Artifisial (AI) dan Big Data, serta Cloud dan Dashboard untuk pemantauan real-time.

“Tapi ingat,” pesannya, “tidak semua teknologi cocok. Implementasinya harus disesuaikan dengan kondisi dan jenis tanaman.”

Ia lalu menghadirkan bukti yang tak terbantahkan. Sebuah studi di Jepang yang menggunakan sensor dan AI untuk menentukan waktu tanam dan panen berhasil meningkatkan efisiensi air hingga 20% dan produksi 15%. Sementara dari Kolombia, cerita sukses datang dari perkebunan kopi. Di sana, drone diterbangkan untuk mendeteksi penyakit, dan hasilnya, kerugian merosot drastis hingga 25%. Di dalam negeri, startup seperti eFishery, Habibi Garden, dan Tani Hub telah menjadi bukti nyata bahwa revolusi digital di sektor agrikultur bukanlah mimpi.

Dampaknya pun langsung terasa di kantong dan tenaga: efisiensi waktu dan biaya, peningkatan produktivitas, serta tersedianya data pertanian yang akurat.

Meski begitu, Zaini tidak menutup mata pada hambatan. Biaya investasi awal yang tinggi, literasi digital, dan infrastruktur internet di pedesaan masih menjadi ganjalan. Namun, ia melihat ini sebagai peluang kolaborasi. “Masa depan pertanian kita butuh dukungan pemerintah dan swasta. Kolaborasi antara petani, koperasi, dan startup teknologi adalah kuncinya. Bahkan, kita punya potensi besar untuk mengekspor teknologi pertanian sendiri,” tegasnya.

Dengan penuh keyakinan, Zaini menutup paparannya dengan sebuah filosofi yang dalam. “Pertanian masa depan yang ideal adalah kolaborasi antara kearifan lokal dan teknologi global,” ujarnya. Ia menambahkan, pertanian cerdas bukan sekadar tentang alat berteknologi tinggi, melainkan tentang cara berpikir yang baru.

“Mari bersama kita bangun pertanian yang efisien dan berkelanjutan,” ajaknya, menggaungkan semangat yang disambut antusias oleh para petani milenial. Dalam pandangannya, elektrifikasi menjadi salah satu solusi konkret untuk meninggalkan ketergantungan pada BBM dan membawa pertanian Indonesia melompat ke masa depan yang lebih hijau dan mandiri.

Related posts