PLN Luncurkan laporan Pertama TCFD Support Transisi Energi Rendah Karbon

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA – PT PLN (Persero) meluncurkan laporan pertama bertajuk Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) untuk mendukung transisi energi rendah karbon.

Laporan TCFD berisi informasi penting tentang tata kelola, strategi hingga manajemen risiko yang berkaitan dengan dampak perubahan iklim terhadap bisnis PLN. Laporan itu juga mencakup roadmap dan strategi PLN untuk mencapai net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

Read More

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo lewat keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, mengatakan PLN berkomitmen penuh mewujudkan visi Pemerintah Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Melalui laporan TCFD tersebut, PLN ingin meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan risiko dan identifikasi peluang yang berkaitan dengan perubahan iklim.

“Kami berkeyakinan akan mencapai NZE di sektor listrik pada tahun 2060. Secara rinci kami telah merancang tahapan transisi energi yang komprehensif serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Darmawan.

Dalam menjalankan transisi energi, PLN juga telah melakukan studi terkait kerentanan transisi energi menggunakan dua skenario iklim, yaitu representative concentration pathway (RCP) 4.5 dan RCP 8.5, yang memaparkan dampaknya terhadap permintaan listrik, ketersediaan air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), efisiensi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG),serta kinerja panel surya photovoltaik (PV).

PLN menyebut berdasarkan rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL), emisi GRK ditargetkan turun sebesar 98 juta ton CO2e pada 2030 dibandingkan dengan skenario business as usual. Sejalan dengan itu, intensitas emisi GRK juga ditargetkan menurun hingga 15,7 persen.

 

“Untuk memantau progres transisi energi, PLN menggunakan beberapa metrik parameter seperti tingkat emisi gas rumah kaca, kontribusi energi bersih dari sumber energi baru terbarukan (EBT), dan keandalan infrastruktur kelistrikan,” kata Darmawan.

Menurut dia, pengelolaan risiko terkait iklim bukan hal baru bagi PLN. Pada 2012, PLN telah menerbitkan pedoman asesmen risk rating pembangkit untuk memetakan risiko-risiko fisik yang ada pada pembangkit-pembangkit PLN.

Risiko iklim merupakan salah satu parameter yang diperhitungkan dalam penentuan risk rating pembangkit. PLN kemudian memperluas cakupan aset yang dipantau dengan menerbitkan pedoman asesmen risk rating gardu induk di 2023.

“Laporan ini merupakan pelengkap dari laporan keberlanjutan PLN 2022 yang telah dipublikasikan sebelumnya. PLN berharap laporan TCFD dapat memberikan informasi yang berguna bagi berbagai pemangku kepentingan, pelanggan, dan masyarakat mengenai upaya PLN menghadapi tantangan dan peluang perubahan iklim,” ucap Darmawan. (antaranews.com)


Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Minangkabaunews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Related posts