Potensi Panas Bumi dan Peran Danantara: Kunci Akselerasi Transisi Energi Menuju Swasembada Energi Hijau

  • Whatsapp


MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA, 12 Februari 2026 – Center for Strategic Development Studies (CSDS) MITI menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Proyek Panas Bumi di Lirik Danantara: Bagaimana Masa Depan Energi Terbarukan di Indonesia?”.

Diskusi ini menyoroti potensi besar energi panas bumi (geothermal) sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional dan peran strategis badan pengelola investasi baru, Danantara, dalam memitigasi risiko eksplorasi.

​Indonesia memiliki cadangan panas bumi yang melimpah, namun pemanfaatannya belum optimal akibat tingginya risiko eksplorasi dan kebutuhan investasi awal yang besar. Dalam diskusi tersebut, Prof. Yunus Daud, Guru Besar Geothermal Universitas Indonesia, menekankan bahwa panas bumi adalah anugerah istimewa yang bersifat baseload power—tidak tergantung cuaca dan mampu beroperasi 24 jam nonstop.

“Kita tidak boleh lagi melihat panas bumi hanya sebagai alternatif, melainkan sebagai fondasi utama kedaulatan energi kita. Potensi 24 gigawatt yang kita miliki adalah harta karun yang terkubur; tantangannya kini adalah bagaimana kita berani melakukan terobosan teknologi seperti cogeneration untuk mengekstraksi energi dari aset yang sudah ada tanpa harus selalu memulai dari nol. Jika kita serius ingin swasembada, maka panas bumi adalah jawaban paling logis karena ia tersedia secara melimpah di tanah air kita sendiri,” tegas Prof. Yunus.

​Lebih lanjut, Prof. Yunus memaparkan keunggulan teknis panas bumi dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya. ​“Secara efisiensi, panas bumi memiliki capacity factor yang sangat tinggi, mencapai 80% hingga 90%, jauh melampaui energi surya atau angin yang bersifat intermiten.

Selain itu, emisi karbon yang dihasilkan sangat rendah, yakni 34-330 gram CO2 per kilowatt-jam, yang menjadikannya solusi paling bersih dan stabil untuk dekarbonisasi industri. Ini adalah solusi nyata untuk mencapai target Net Zero Emission dan mendukung visi Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai swasembada energi hijau,” ujar Prof. Yunus Daud. Beliau juga memaparkan fasilitas panas bumi memiliki masa operasional yang sangat panjang, bahkan bisa bertahan hingga lebih dari 40 tahun dengan pemeliharaan yang tepat, menjadikannya investasi infrastruktur yang sangat bernilai bagi generasi mendatang.

​Sementara itu, Dr. Makky Jaya, Principal Geophysicist di Petronas, menyoroti aspek ekonomi dan manajemen risiko global. Ia menekankan bahwa kehadiran Danantara sangat krusial sebagai akselerator investasi yang mampu melakukan lifting risk atau mengambil alih sebagian risiko modal di tahap awal proyek.

“Hambatan utama investasi energi terbarukan selama ini adalah profil risiko yang tidak sebanding dengan skema perbankan konvensional. Di sinilah peran vital Danantara untuk masuk sebagai instrumen ‘penjamin risiko’ yang bisa memberikan kepercayaan diri bagi investor global. Kita harus menciptakan ekosistem di mana modal tidak hanya masuk, tetapi juga menetap dan memberi manfaat langsung bagi komunitas di sekitar wilayah kerja panas bumi, sehingga tidak ada lagi resistensi sosial dalam pembangunan infrastruktur energi hijau,” jelas Dr. Makky.
​Dr. Makky juga memberikan perspektif mengenai efisiensi biaya jangka panjang.

“Kita harus jujur bahwa belanja modal (CAPEX) untuk panas bumi jauh lebih tinggi dibandingkan batubara atau tenaga surya, karena risiko kegagalan di tahap awal pengeboran sangat besar. Namun, jika kita melihat gambaran besarnya, biaya operasional (OPEX) panas bumi adalah yang paling stabil dan kompetitif dalam jangka panjang karena tidak terpengaruh fluktuasi harga komoditas global seperti fosil. Investasi besar di awal ini sebenarnya adalah biaya yang kita bayar untuk mendapatkan kepastian pasokan energi yang bersih dan berkelanjutan selama puluhan tahun ke depan, sebuah nilai ekonomis yang tidak bisa ditawarkan oleh sumber energi volatil lainnya,” paparnya.

​Diskusi ini juga mengungkap rencana strategis Danantara dalam memperkuat infrastruktur hijau melalui proyek di wilayah Ulubelu dan Lahendong. Proyek-proyek ini direncanakan menjadi percontohan bagaimana integrasi pendanaan dari Danantara dapat mempercepat ekspansi kapasitas pembangkit yang sudah ada melalui penerapan teknologi terbaru.

Fokus utama di kedua wilayah ini tidak hanya pada peningkatan produksi listrik untuk jaringan nasional, tetapi juga pada penciptaan ekosistem ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah bagi industri lokal di sekitar wilayah kerja panas bumi, sejalan dengan peta jalan swasembada energi nasional.

​Guna mewujudkan visi tersebut, diskusi ini merumuskan sejumlah arah kebijakan strategis yang memerlukan sinergi lintas sektoral.

Pemerintah didorong untuk mengoptimalkan peran Danantara dalam menyediakan skema pembiayaan khusus yang mampu menanggung risiko eksplorasi di tahap awal, di samping percepatan adopsi teknologi cogeneration guna meningkatkan kapasitas listrik nasional secara instan dari sumur-sumur yang telah tersedia.

Selain itu, diperlukan pergeseran paradigma dalam pengelolaan lahan, di mana pendekatan ganti rugi konvensional diubah menjadi kemitraan strategis dengan masyarakat lokal guna memastikan keberlanjutan sosial dan ekonomi di sekitar proyek energi hijau.

​Sebagai penutup, diskusi ini menegaskan bahwa transisi energi bukan hanya soal mengganti sumber daya, tetapi soal kemandirian bangsa. Dengan kolaborasi lintas sektor antara akademisi, praktisi global, dan lembaga keuangan seperti Danantara, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk memimpin sektor energi terbarukan di kawasan.

Tentang CSDS Indonesia

Center for Strategic Development Studies (CSDS) adalah lembaga riset dan pengembangan di bawah Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI) yang berfokus pada analisis kebijakan strategis, pembangunan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong Indonesia yang lebih mandiri dan berkeadilan.

Related posts