RAHASIA 10 MALAM TERAKHIR: Malam Lebih Baik dari 1000 Bulan yang Sering Kita Lewatkan Begitu Saja

  • Whatsapp
Ketua Pengurus Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, Buya Ki Jal Atri Tanjung (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Buya Ki Jal Atri Tanjung (Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumbar)

Setiap kali Ramadhan tiba, selalu ada satu malam yang dibicarakan dengan penuh harap: Lailatul Qadar. Malam yang konon lebih baik dari seribu bulan. Tapi jujur, berapa banyak dari kita yang benar-benar bersiap menyambutnya? Atau malah kita lebih sibuk dengan takbiran keliling, belanja baju Lebaran, dan drama pulang kampung?

Saya teringat cerita seorang kawan, sebut saja si Fulan. Tahun lalu, ia nekad cuti seminggu sebelum Lebaran. Bukan untuk liburan, tapi untuk duduk diam di masjid. I’tikaf, katanya. Awalnya saya pikir ia lebay. Tapi setelah ia cerita pengalamannya, saya baru sadar: kita ini sering melewatkan sesuatu yang mahal dengan alasan “belum rezeki”.

Malam Lailatul Qadar itu bukan sekadar malam biasa. Dalam QS. Al-Qadar ayat 3, Allah dengan tegas bilang: Lailatul qadri khairum min alfi syahr — malam itu lebih baik dari seribu bulan. Hitung sendiri: seribu bulan itu sekitar 83 tahun lebih! Satu malam setara dengan seumur hidup manusia. Kalau kita raih, seolah kita beribadah selama hampir satu abad. Luar biasa, bukan?

Lalu, di mana letak relevansinya dengan i’tikaf? Sederhana. Rasulullah SAW sendiri memberi contoh: ketika 10 malam terakhir Ramadhan tiba, beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malam dengan ibadah, dan beri’tikaf di masjid. Beliau tidak keluar-masuk masjid untuk urusan dunia. Beliau fokus. Kenapa? Karena Lailatul Qadar ada di malam-malam ganjil sepuluh terakhir. 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, ia bersembunyi di antara malam-malam itu.

I’tikaf adalah cara kita “mengintai” malam istimewa itu. Dengan diam di masjid, kita meminimalisir gangguan. Tidak ada godaan nonton TV, tidak ada drama medsos, tidak ada riuh rendah dunia. Hanya kita dan Allah. Kita bisa shalat malam, baca Al-Qur’an, berdzikir, dan merenung. Di malam itu pula Malaikat Jibril turun bersama para malaikat lainnya, mengatur segala urusan hingga fajar. Subhanallah.

Coba bayangkan: saat kita sedang sujud panjang di malam ganjil, bisa jadi kita sedang berada di malam yang sama ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan dari Lauh Mahfuz ke langit dunia. Ada nuansa sakral yang sulit dijelaskan. Malam itu penuh kedamaian, sampai-sampai Allah menyebutnya salaamun hiya hattaa matla’il fajr — sejahtera sampai terbit fajar.

Saya jadi ingat QS. Al-Dukhan ayat 3: Innaa anzalnaahu fii lailatim mubaarakatin — sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Malam berkah itu ya Lailatul Qadar. Dan berkah itu tidak akan datang jika kita hanya duduk manis di rumah sambil rebahan. Perlu usaha. Perlu i’tikaf.

I’tikaf itu sederhana. Tidak harus di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Cukup di masjid dekat rumah, asalkan kita berniat ikhlas. Selama i’tikaf, kita bisa perbanyak shalat sunnah, tilawah, tadabbur, dzikir, doa, dan istigfar. Juga bisa ikut kajian atau sekadar merenungi makna hidup. Yang penting, kita keluar dari rutinitas duniawi untuk sementara, fokus pada Sang Pencipta.

Banyak orang berpikir i’tikaf itu berat. Padahal, coba bayangkan kita investasi 10 malam untuk meraih pahala 83 tahun. Mana ada investasi dunia yang return-nya sebesar itu? Bahkan saham paling gacor pun tidak akan memberi keuntungan abadi seperti ini.

Maka, jangan sia-siakan malam-malam terakhir Ramadhan. Jika tahun lalu kita belum sempat i’tikaf, tahun ini bisa kita coba. Mulai dari satu malam dulu. Atau dua malam. Yang penting ada niat. Rasulullah saja yang sudah dijamin masuk surga, tetap i’tikaf. Lalu kita yang penuh dosa, masa tidak?

Mari kita sambut malam-malam ganjil ini dengan hati yang haus akan ampunan. Siapa tahu, malam itu adalah malam Lailatul Qadar. Dan siapa tahu, malam itu menjadi titik balik kehidupan kita. Dari gelap menuju terang. Dari lalai menjadi sadar. Dari jauh menjadi dekat.

Ramadhan hanya datang setahun sekali. Jangan biarkan ia pergi tanpa membawa berkah. Ayo, rebut malam seribu bulan itu. Karena kita tidak tahu, tahun depan masih diberi umur atau tidak.

Selamat berburu Lailatul Qadar. Semoga kita termasuk hamba yang mendapatkan kemuliaannya.

Related posts