Rahasia Hamka di Padang Panjang: Dari Hotel Kolonial Jadi Pesantren Legendaris!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG -– Siapa sangka, di balik kemegahan nama Buya Hamka sebagai sastrawan dan ulama besar, tersimpan kisah kepemimpinan yang jarang diungkap: bagaimana sang maestro menjadi nahkoda pertama sebuah pesantren yang lahir dari tanah penuh sejarah.

Kota Padang Panjang di masa silam bukan sekadar kota biasa. Dijuluki Serambi Mekkah, kota ini menjadi medan pergulatan ide-ide progresif Islam dan tradisi Minangkabau. Tahun 1927 menjadi titik balik: Muhammadiyah Cabang Padang Panjang mendirikan Tabligh School, benih pendidikan modern yang kelak tumbuh menjadi Pesantren Kauman Muhammadiyah.

Read More

Yang mencengangkan, lokasi sekolah ini berdiri di atas lahan Hotel Merapi—properti milik Johanes Paulus Stephanus Rox, seorang tokoh non-Muslim. Fakta ini membuka jendela tentang harmoni lintas agama di era kolonial, sebuah fondasi inklusivitas yang langka.

Puluhan tahun berselang, tepatnya dekade 1950-an, Hamka kembali ke kota kelahirannya. Bukan untuk sekadar mengajar, melainkan memimpin transformasi total lembaga yang telah berusia hampir tiga dekade itu. Sebagai direktur pertama, ia menjadi arsitek yang membentuk ulang DNA institusi—dari kurikulum hingga karakter santri.

Metode Hamka revolusioner untuk zamannya. Ia menyuntikkan sastra ke dalam pembelajaran agama. Novel seperti *Tenggelamnya Kapal Van der Wijck* bukan sekadar bacaan, tapi alat bedah untuk memahami moralitas, cinta, dan keadilan. Para santri tidak hanya menghafal, tetapi berdialog dengan kompleksitas kehidupan.

Pemikiran tafsirnya yang monumental, *Tafsir Al-Azhar*, lahir dari interaksi intensifnya dengan dunia pesantren. Pendekatan kontekstualnya—memadukan sastra, sejarah, dan filsafat—diterapkan langsung dalam membuka nalar kritis santri terhadap kitab suci.

Gaya kepemimpinannya pun unik. Hamka tidak berjarak. Ia hidup sederhana, mengobrol di serambi, mendengar keluh kesah, memberi nasihat yang menyentuh langsung. Kedekatan inilah yang membuatnya bukan sekadar pemimpin, tapi pembentuk jiwa.

Warisan kepemimpinannya masih terasa hingga kini. Pesantren ini melahirkan generasi pencinta literasi, pemikir Islam moderat yang menolak ekstremisme, dan individu yang mampu berdialog dengan keberagaman—persis seperti spirit inklusivitas dari tanah tempat lembaga ini pertama berdiri.

Di tengah pendidikan modern yang kerap terjebak orientasi material, jejak Hamka di Padang Panjang mengingatkan esensi sejati: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Bukan soal ijazah, tapi karakter, akal, dan hati yang terbangun kokoh.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang bukan sekadar monumen sejarah. Ia adalah bukti hidup bahwa karya terbesar seorang intelektual bukanlah buku, melainkan manusia-manusia yang dibentuknya—generasi berilmu, berakhlak, dengan jiwa merdeka.

Seperti kata Hamka sendiri: “Hidup ini bukan untuk mencari hidup, tapi untuk memberi arti hidup.” Di Padang Panjang, ia telah memberi arti yang abadi—melalui institusi yang terus menyalakan cahaya ilmu dan kearifan, generasi demi generasi.

Related posts