Rektor ISI Padang Panjang: Tidak ada Yang Mustahil, Selama Kita Masih Bersama, Bertekad Kuat dan Bersikap Tegas

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG PANJANG – Di Wisuda Periode II Tahun Akademik 2025/2026 kampus ISI Padangpanjang, Rabu (8/4/2026).

Dr Febri Yulika SAg MHum Rektor ISI Padang panjang menyampaikan kepada minangkabaunews.com,
Dalam konteks kepemimpinan, tentu harus ada semacam desain, perencanaan, sehingga indikator yang telah diangkat oleh badan akreditasi nasional harus dikejar ISI Padangpanjang.

Read More

Dalam konteks ini, Febri merasa beberapa program stimulus untuk mendukung peningkatan SDM telah dilakukan. Namun tidak diketahui, mengapa hasilnya belum sesuai harapan.

“Terkadang, seperti saya sudah sampaikan secara terbuka, bahwa ini bukan saatnya SDM berdiam di zona nyaman. Ketika kementerian meningkatkan kesejahteraan dengan adanya peningkatan tunjangan kinerja, tentu kinerja dosen juga haru meningkat,” ucap Febri.

Febri menyebut konteks kinerja tersebut dalam tiga hal (Tri Dharma) perguruan tinggi, yang dapat dicapai dengan memiliki kapasitas mumpuni. Dalam jembatan akademik seorang itu harus menjadi Lektor Kepala hingga Guru Besar.

“Kita telah memberikan dan mendukung bantuan pendidikan bagi dosen-dosen yang memiliki semangat, namun tidak mendapatkan beasiswa. Dan beberapa di antaranya sudah tamat dengan pola seperti itu,” sebutnya.

Menyikapi kondisi jika akreditasi ISI Padangpanjang masih jalan ditempat, Febri mengaku yang harus diupayakan adalah berbagai hal. Selaku pimpinan mendesain dari sisi program dan infrastruktur, dalam menindaklanjuti tidak adanya penambahan fisik di ISI Padangpanjang.

“Hari ini, dengan niat untuk membangun, saya membangun dua bangunan. Ada ruang belajar yang juga menjadi sarana pameran dan merevitalisasi auditorium. Namun masih banyak lagi, tentu saja harus bertahap dan perlahan sesuai skala prioritas,” jelas, Febri.

Sebenarnya, masih banyak lagi, termasuk gedung ini sendiri. Tapi tentu saja, kita harus perlahan-lahan memikirkan mana yang menjadi prioritas dan sebagainya.

Dari program peningkatan prestasi, yang mengharuskan dosen membuat jurnal, Febri mengaku ISI Padangpanjang merupakan Perguruan Tinggi Seni yang pertama, memberikan penghargaan setingkat dengan pendidikan tinggi sekelas PTNBH.

“Kami, untuk jurnal akreditasi, memberikan stimulus kepada mahasiswa untuk mendapatkan dana penghargaan sebesar 25 juta. Namun tidak terserap semuanya, kembali pada kesadaran dan keinginan seluruh unsur SDM,”

Dalam konteks mahasiswa dikatakannya, terkadang kegiatan yang dilaksanakan kementerian masih minim diikuti. Jangankan untuk menang, untuk ikut serta saja jumlahnya masih belum seberapa.

Saat ini dikatakan masih sedang berjuang membawa orang-orang yang berkompeten atas akreditasi, untuk mendapatkan stimulasi dan motivasi yang kuat. Termasuk agar mahasiswa tidak terjebak masa studi yang panjang.

Masa studi yang panjang mungkin terasa nyaman bagi mahasiswa, tetapi tidak baik bagi institusi. Guru yang berada di zona nyaman dengan penghasilan tertentu tanpa tuntutan yang tinggi mungkin merasa nyaman, namun itu tidak berdampak bagi pengembangan institusi.

“Dan jika institusi tidak berkembang, kepercayaan masyarakat bisa menurun. Ini memang periode tahun terakhir kepemimpinan saya, namun saya yakin masih ada waktu.

Tidak ada yang mustahil, selama kita masih bersama, bertekad kuat, dan bersikap tegas,” tutupnya. (Edi Fatra).

Related posts