Relawan PAkSa Jemput Warga Bukik Barisan 50 Kota Korban Gempa yang Terlantar di Pasbar

  • Whatsapp
Para relawan PAkSa yang dikoordinatori, Ferizal Ridwan, ketika melakukan penjemputan warga 50 Kota yang menjadi korban gempa dan terlantar di Kinali, Pasaman Barat. (Foto: Ist)

MINANGKABAUNEWS.COM, LIMAPULUH KOTA – Relawan Palanta Aksi Sosial (PAkSa) Luak Limopuluah melakukan upaya penjemputan terhadap satu keluarga miskin korban gempa Pasaman, yang terdampar di Nagari Aia Maruok, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat, Jumat (11/3).

“Penjemputan salah seorang warga Limapuluh Kota, kami lakukan sekaligus dengan kegiatan kita mengantar bantuan bagi para korban bencana. Alhamdulillah, satu keluarga sudah kita evakuasi ke kampung halamannya,” kata Koordinator PAkSa, Ferizal Ridwan, kepada Minangkabaunews.com, Sabtu (12/3).

Read More

Proses penjemputan warga Limapuluh Kota korban gempa Pasaman dilakukan menggunakan sejumlah armada mobil, yang sebelumya sudah dipersiapkan oleh tim relawan PAkSa. Ferizal menyebut, pihaknya memperoleh kabar adanya warga Limapuluh Kota yang menjadi korban gempa di Pasaman Barat.

Para relawan PAkSa sebelumnya, dikatakan, memperoleh informasi masyarakat, bahwa ada sekitar 4 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban gempa dan kondisinya masih terlantar di Nagari Aia Maruok, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.

Begitu mendapat informasi, para relawan sosial-kemanusiaan langsung bergerak mencari data dan informasi kontak para korban. Begitu ditemukan, para relawan menyusun strategi hingga menghimpun donasi guna membantu para korban.

“Disana, informasi yang kita peroleh, terdapat 4 KK warga asal Limapuluh Kota yang terkena dampak gempa. Mereka sampai Kamis (10/3) kemarin, setelah ditutupnya masa tangap darurat, kondisi mereka masih terlantar,” tambah Ferizal.

Kepada Ferizal, para korban gempa menyebut belum mendapatkan bantuan dan perhatian dari pemerintah. Hal itu disinyalir disebabkan karena mereka tidak ber-KTP daerah setempat.

Dari 4 KK yang dilaporkan ke relawan PAkSa, 1 rumah dilaporkan mengalami rusak berat. Rumah itu diketahui dihuni Nini (40). Nini yang diketahui telah ditinggal mati suaminya, disebutkan, meninggali rumah kontrakan itu bersama 4 orang anaknya.

Sedangkan 3 rumah warga lain di sekitar lokasi, hanya mengalami rusak ringan dan retak retak. Adapun rumah yang dikontrak Nini berikut satu buah warung tempatnya berusaha, terpaksa harus ditinggalkan, karena sudah rusak dan tidak layak ditempati dan akhirnya diambil pemilik bangunan.

“Padahal, Nini yang merupakan warga Nagari Kototangah, Kecamatan Bukik Barisan itu, mengontrak rumah untuk satu tahun, dan baru ditempatinya 5 bulan,” sebut Ferizal didampingi sejumlah relawan yang ikut turun ke Kinali, Pasaman Barat.

Akibat peristiwa yang dialaminya, Nini memutuskan mengungsi ke rumah tetangga beserta anak-anaknya. Namun, akibat keterbatasan keuangan Nini, yang ditinggal mati sang suami sejak 3 tahun lalu, harus menumpang hidup bersama tetangga bersama 4 anak anaknya.

“Awalnya Nini senjak 9 bulan yang lalu, datang ke Kinali, bermaksud berobat karena ia mengalami sakit perut, pendarahan yang terus-menerus hingga ia tak punya biaya. Untuk berobat terpaksa ke dukun,” cerita Ferizal.

Setelah menyerahkan bantuan gempa kepada pihak keluarga terdampak bencana di Kinali, tim relawan PAkSa beserta 10 relawan lainnya, langsung membawa Nini bersama keluarga hingga peralatan rumah tangganya ke kampung halaman di Bukit Barisan.

Selain Ferizal Ridwan, turut hadir Hafnizal Oyong, Zulheri Ramli, Edison Sumar, Aspon Dedi, Yarteti, Linda serta sejumlah relawan PAkSa lainnya yang selalu bergerak membantu para kaum dhuafa dan korban bencana. (akg)

Related posts