Saluang Pauah di Minangkabau

  • Whatsapp

Oleh: Fadila Deliankar

Kesenian Saluang Pauah merupakan suatu corak dan ragam budaya Pauah Kota Padang yang harus dikembangkan didalam masyarakat Pauah Kota Padang. Musik Saluang Pauah adalah alat musik yang mengiringi nyanyian dengan lagu-lagu yang berupa cerita. Saluang Pauh adalah sejenis alat musik tiup yang terbuat dari bambu tipis (talang). instrument ini memilki enam buah lubang nada dan merupakan alat musik tiup jenis wistle flute (mempunyai lidah), hal ini tentunya sangat berbeda dengan beberapa Saluang di Minangkabau yang cenderung termasuk jenis end blown flute (tidak mempunyai lidah). Apabila di lihat secara sekilas maka alat musik ini menyerupai Bansi (alat musik tiup Minangkabau yang mempunyai tujuh lubang nada) akan tetapi memiliki ukuran yang lebih besar.

Read More

Kesenian Saluang Pauah mempunyai arti tersendiri dan kebanggaan bagi masyarakat Pauah karena kesenian Saluang Pauah dianggap sebagai kesenian yang beradat karena isi dari dendang pauah ini bisa didengar oleh semua umur serta pertunjukan ini penonton bisa dari mana pun baik itu muda atau tua kaya atau miskin ataupun lainnya karena penyajian pertunjukan Saluang Pauh berisi tentang Kaba (cerita). Pertunjukan Saluang Pauh hanya terdiri dari dua pemain yaitu seorang pemain Saluang dan seorang Pedendang.

Pertunjukan Saluang Pauah ini yaitu pertunjukan dendang yang didiiringi oleh alat musik tiup yang terbuat dari bambu atau bisa disebut sebagai Saluang yang mana musik Saluang diiringi oleh dendang, yang mana dendang tersebut berisikan nasehat-nasehat sehingga kesenian ini menjadi kesenian yang layak untuk di pertunjukan. Namun dari penjelasan Kaba adalah cerita prosa berirama berbentuk narasi (kisahan) dan tergolong pantun yang panjang. Kaba (cerita) yang dibawakan pada umumnya merupakan cerita kontekstual yang menyangkut fenomena-fenomena yang terjadi di Masyarakat. Adapun beberapa judul Kaba yang dibawakan seperti : Kaba Urang Bonjo, Kaba Urang Batawi, Kaba Urang Batipuah, Kaba Urang Bukiktinggi, Kaba Urang Lubuak Sekajuang, Kaba Urang Makasar, Kaba Urang Mangilang Payokumbuah.

Kaba yang dilantunkan oleh pendendang pada beberapa bagian dendang akan menimbulkan respon dari penonton berupa “Kuaian” yaitu sorakan spontan dari penonton apabila ada suatu hal dalam dendang yang dianggap ganjil atau lucu, sehingga melalui interaksi tersebut akan timbul komunikasi antara penonton dengan penampil dalam pertunjukan Saluang Pauh. Interaksi-interaksi yang terjadi dalam pertunjukan Saluang Pauh semakin malam akan semakin meriah sehingga akan tercipta suatu bentuk pertunjukan yang mencerminkan sikap kerjasama dan sosial di masyarakat. Keberadaannya sebagai media hiburan, terdapat fenomena yang menarik dalam pertunjukan Saluang Pauh yang dinamakan Bagurau. Bagurau sendiri merupakan suatu wujud interaksi sosial yang terbentuk melalui komunikasi antara penonton (masyarakat) dengan penampil (seniman) dalam suatu pertunjukan Saluang Pauh. Interaksi-interaksi tersebut bagi masyarakat pelaku aktif Bagurau berfungsi sebagai sarana pengungkapan ekspresi emosi, dialog estetis, sarana latihan manajemen konflik, eksistensi diri dan kelompok, kontrol sosial.

Jika melihat eksistensinya dalam masyarakat Pauah Kota Padang, kesenian Saluang Pauah ini sering dipergunakan dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti acara pernikahan “baralek”,acara turun mandi, dan acara batagak gala. Didalam acara pesta perkawinan “baralek” kesenian Saluang Pauah di tampilkan didalam rumah tempat pesta perkawinan di adakan karena kesenian Saluang Pauah ini dianggap kesenian adat. kesenian Saluang Pauah ditampilkan di dalam rumah tidak boleh di dalam rumah tempat pesta perkawinan karena pertunjukan Saluang Pauah ini merupakan salah satu kesenian adat yang mana masyarakat sudah menganggap suci pertunjukan yang sakral.

Sebagai suatu produk kebudayaan yang syarat akan nilai-nilai kearifan lokal, kesenian Saluang Pauh tidak banyak diketahui oleh masyarakat Minangkabau. Masuknya pengaruh kesenian modern tentunya membuat perubahan persepsi dari masyarakat mengenai konsep seni pertunjukan. Penawaran sajian yang lebih menarik dari kemasan pertunjukan modern membuat masyarakat menganggap konsep sajian kesenian Saluang Pauh lebih monoton. Apabila dibandingkan dengan beberapa kemasan kesenian tradisional Minangkabau seperti Talempong dan Saluang Darek yang telah mengalami perubahan bentuk dengan menambahkan unsur-unsur modern (kolaborasi instrument dan perubahan tonalitas) ternyata pertunjukan Saluang Pauh dari waktu ke waktu tidak mengalami perubahan. Hal ini di sebabkan karena di dalam struktur pertunjukkan Saluang Pauh memiliki unsur-unsur yang kompleks seperti ciri khas Irama Saluang Pauh (Pado-pado, Pakok 5 dan Pakok 6) dan penggunakan irama dendang yang khas (Jain, Lereang, Baliang-baliang dan Lambok Malam). Struktur nada yang rumit menjadikan Saluang Pauh sangat sulit untuk digabungkan dengan instrument modern.

/*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts