MINANGKABAUNEWS.com, ARTIKEL –Di jantung Kota Padang Panjang, sebuah pesantren berusia ratusan tahun justru menjadi garda terdepan menjawab kegelisahan generasi milenial dan Gen Z. Bagaimana mungkin?
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, yang akarnya membentang sejak zaman kolonial, ternyata tidak sekadar melestarikan kitab kuning. Ia berubah menjadi “laboratorium hidup” tempat nilai-nilai Islam klasik berdialog kreatif dengan realitas zaman now. Di sini, smartphone bukan musuh, melainkan alat dakwah. Kitab Ta’lim Muta’allim dibedah relevansinya untuk menghadapi budaya “like” dan “follower”.
Dr. Derliana, MA, Mudir Pesantren, menjelaskan strateginya: “Kami larang ponsel jika mengganggu ibadah dan belajar. Tapi kami wajibkan untuk riset, akses sumber ilmu terpercaya, dan produksi konten dakwah yang kreatif.”
Tiga Jurus Rahasia Kauman Menaklukkan Zaman
1. Kurikulum Dwi-Kewarganegaraan: Santri diajak menguasai dua dunia sekaligus. Pagi hari dihabiskan dengan mendalami fikih dan tafsir. Siang hingga sore, beralih ke kewirausahaan syariah, literasi digital, dan ilmu kontemporer. Setiap proyek bisnis online, misalnya, wajib disertai analisis fikih muamalah yang ketat.
2. Kelas Diskusi, Bindo Ceramah Satu Arah: Forum bahtsul masail (diskusi masalah aktual) dihidupkan dengan tema-tema kekinian: “Investasi Crypto dalam Tinjauan Syariah”, “Mengatasi Stres Ala Nabi untuk Generasi Sandwich”, hingga “Batas Ghibah di Media Sosial”. Ustadz bertransformasi dari sumber kebenaran tunggal menjadi moderator yang mendorong santri berargumentasi dengan dalil.
3. Wadah Kreativitas yang ‘Syar’i’: Energi muda tidak dipadamkan, tetapi dialirkan. Pesantren ini memiliki Kauman Creative Hub untuk produksi konten dakwah digital, Entrepreneurship Cell untuk melatih bisnis online syariah, dan Komunitas Literasi yang tak hanya bedah kitab, tapi juga novel dan buku pemikiran Islam modern.
Jawaban untuk Milenial yang Bertanya: “Ini Urusan Apa Buat Saya?”
Pertanyaan kritis generasi milenial tentang relevansi ilmu dijawab langsung dengan aksi:
· Link and Match dengan Dunia Kerja: Belajar bahasa Arab tidak hanya untuk ngaji, tapi juga untuk peluang di pasar global dan diplomasi. Hafalan Al-Qur’an (tahfizh) dipadukan dengan pelatihan mental health. Disiplin dan integritas khas pesantren diolah menjadi soft skills premium yang dicari dunia usaha.
· Iman yang Turun ke Jalan: Jiwa sosial disalurkan ke program nyata: berkolaborasi dengan tim bencana Muhammadiyah (MDMC), mengajar anak-anak marginal, hingga kampanye peduli lingkungan. Iman tak lagi abstrak, tapi terlihat solutif bagi masalah masyarakat.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Jalan adaptasi ini tidak sepenuhnya mulus. Kesenjangan digital masih ada antara ustadz senior dan santri digital native. Tekanan ekonomi beberapa santri menyulitkan akses perangkat digital. Tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan: tetap modern agar relevan, namun cukup tradisional agar tidak kehilangan ruh pesantren.
Akar Kuat, Dahannya Menjulang Modern
Kunci keberhasilan Kauman adalah prinsip sederhana: Yang klasik tidak ditinggalkan, tetapi diberi napas baru. Yang modern tidak ditakuti, tetapi disaring dan diislamkan.
Mereka tidak sekadar menampung generasi milenial, tetapi membentuk “Milenial Muslim yang Berakar” – generasi yang pemahaman agamanya kokoh berdasarkan warisan ulama, namun metodologi dan cara pandangnya segar, kontekstual, dan siap memberi solusi.
Di pesantren tua ini, kitab kuning dan gawai hidup berdampingan. Layar smartphone menampilkan peluang zaman now, sementara jari-jari santri masih setia membuka halaman kitab yang berusia ratusan tahun. Kauman membuktikan, pesantren bukan museum. Ia bisa jadi inkubator terbaik untuk melahirkan pemimpin masa depan: paham tradisi, tapi tidak gagap zaman; melek digital, tapi beradab; sukses di dunia, dengan pijakan kuat untuk akhirat.






