Satire ‘Robohnya Surau Kami’ dan Fakta Sosial Masyarakat Minangkabau Saat Ini

surau minangkabau
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Irfan Rusli

Tersebutlah suatu kisah yang ditulis oleh seorang Sohibul Hikayat berjudul “Robohnya Surau Kami:. Sebuah cerita pendek yang menggambarkan betapa dinamika dalam ceritanya serta satirnya seolah relevan dengan keadaan masyarakat saat ini.

Read More

Cerita yang ditulis oleh A.A Navis memberikan banyak sekali hikmah dan ibrah yang dapat diambil dari alur dan berbagai peristiwa di dalamnya, sebut saja kisah seorang Garin yang hidupnya penuh kepasrahan pada sang kuasa dengan beberapa kepandaian yang ia miliki. Hidupnya hanya penuh dengan ibadah pada tuhan pemilik alam semesta.

Cerita berawal dari seorang sepuh yang hidup di sebuah surau di suatu kampung. “Kakek” sebutan yang biasa orang orang memanggilnya. Yang sehari harinya ia habiskan untuk beribadah dan bermunajat pada Allah. Mengasah pisau adalah salah satu keahlian kakek sepuh yang diketahui masyarakat, tak jarang orang dan para wanita kampung memintanya melakukan itu, namun ia hidup bukan dari itu.

Keberlangsungan hidup sang kakek ia gantungkan pada sedekah dan pemberian jamaah serta panen ikan mas di kolam depan surau. Hidup kakek telah ia abdikan seluruhnya untuk merawat dan menjaga surau selain beribadah dan bermunajat, tak berumah atau pun anak apalagi istri.

Di hidupnya ia mematrikan bahwa segalanya telah ia berikan untuk Allah, seolah cocok sekali menggambarkan bentuk kezuhudan dan penggambaran serta penyerahan yang paripurna pada Allah.

“Segala kehidupan ku, lahir batin, kuserahkan pada Allah Subhanuwataala, tak kupikirkan hari esok karena ku yakin tuhan itu ada dan pengasih serta penyayang pada umat-Nya. Aku bersuci. Aku pukul bedug supaya membangunkan manusia dari tidurnya, siang ku baca kitab-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia,” tandas kakek itu sendiri.

Kakek begitu kokoh dengan idealisnya bak seorang muda dengan semangat juang. Setidaknya sampai datang seorang penggoyah bernama Ajo Sidi. Seorang yang pandai bercerita atau mungkin pembual ulung tepatnya.

Ajo Sidi bercerita seorang bernama Haji Saleh saat dihisap tuhan di akhirat. Tuhan hanya bertanya satu soalan pada si haji. “Apa pekerjaan mu didunia?”, dan bagi Haji Saleh itu hanya pertanyaan yang tak akan sulit ia menjawabnya.

Pertanyaan itu ia jawab dengan berbagai list dan catatan amal perbuatannya selama di dunia. Sampailah ia pada waktu di mana keputusan diambil oleh Allah , namun bukan manis yang diterima, bukan pula nikmat yang dapat, Haji Saleh justru dilemparkan ke tempat api kobaran peluluh dosa atau neraka.

Neraka pun terjamah oleh sang haji yang ia menjumpai orang-orang yang tak kalah darinya dalam beribadah. Sebab kesamaan yang mereka rasakan pada akhirnya mereka semua protes pada tuhan yang dirasa tak adil pada hamba yang telah beribadah dan menjauhi segala larangannya.

Atas protes makhluk-makhluk-Nya itu, Tuhan balik bertanya, “Kalian tinggal di mana di dunia?” Mereka menjawab: Indonesia, suatu negeri kaya sumber daya tetapi melarat penduduknya. Negeri-negeri yang lama dijajah dan kacau oleh konflik sesama warganya, sehingga anak-cucu mereka ikut melarat.

Pada akhirnya mereka semua tetap masuk neraka. Tetapi, Haji Saleh masih juga sempat bertanya, “Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?”

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya […] Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun,” jawab Tuhan.

Berlalu waktu sebab interaksi antara Si Kakek dengan Ajo Sidi. Ia merasa bahwa cerita Si Ajo adalah sindiran dan cemooh pada si kakek, mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan sang kakek adalah kesia-siaan.

Relung resah beserta sedih hati sang kakek, merah masam wajahnya menahan amarah di usia senja yang tak ia lampiaskan, hanya sabar dan menerima sindiran tajam sebah yang ia lakukan hanya menjaga keimanan dan takwanya pada tuhan setelah sekian lama ini.

Esoknya masyarakat kampung heboh dan riuh mendengar berita kematian si kakek, garin tua penjaga surau. Bagaimana tidak si kakek ditemukan tewas bersimbah darah di kamar petak kecilnya dalam keadaan leher tergorok yang diketahui tergorok oleh sebuah silet yang mengantar kematian dan kepergiannya di sebuah surau tempat ia hidup selama ini.

Itu lah sebuah hikayat yang ditulis oleh A.A Navis, seorang Sohibul hikayat yang di dalam bukunya yang berjudul “Robohnya Surau Kami” memberikan satire dan kisah-kisah yang kaya akan ibrah bagi pembaca, sebut saja kisah sang kakek dan Ajo Sidi di atas yang seolah memberikan kita bagaimana gambaran yang diceritakan secara fiksi, seolah menceritakan bagaimana fakta yang ada pada masyarakat kala itu bahkan cerita yang hanya fiksi itu ditulis jauh sebelum era milenial ini dan tak lekang waktu.

Bagaimana tidak bahkan hingga saat ini masih ada beberapa orang dengan egoisnya hanya melakukan hal-hal yang sama seperti si kakek dalam cerita ini, yang seharusnya sebagai manusia tak hanya terfokus untuk diri sendiri.

Seperti halnya Haji Saleh yang hanya egois dengan kehendaknya pada akhirnya tetap masuk neraka padahal sudah tentu apa yang dilakukannya adalah kebaikan, namun perlu juga jadi pelajaran untuk kita bahwa apa yang dilakukan Ajo Sidi bukanlah suatu hal yang bijak untuk mengubah perilaku seseorang agar lebih peka dengan lingkungannya yang pada akhirnya justru menyinggung perasaan seseorang yang bahkan lebih tua dari Ajo Sidi. Hendaknya mengendepankan amar Maruf nahi mungkar sekiranya adalah jawaban yang bijak. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Andalas.

Related posts