MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Laut Jawa menyimpan duka yang dalam hari ini. Kapal Virgo Transport 8 tenggelam, membawa ratusan jiwa yang bermimpi tiba di tujuan dengan selamat. Kini, gelombang laut seakan menjadi saksi bisu atas kepanikan, tangis, dan perjuangan mereka yang berusaha bertahan hidup.
Kami di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Mari kita bersama-sama menyatukan doa — untuk para korban yang telah berpulang, untuk keluarga yang ditinggalkan, untuk para penyintas yang masih shock, dan untuk seluruh tim SAR yang tak kenal lelah berjuang di tengah ganasnya laut.
Data sementara yang terus diperbarui sungguh memilukan: 6 orang meninggal dunia, 129 masih dinyatakan hilang, dan 98 orang berhasil selamat. Basarnas masih berjuang. Kita tidak boleh kehilangan harapan. Setiap nyawa manusia tidak bisa digantikan oleh apa pun.
Namun, duka dan doa harus berjalan seiring dengan tindakan negara yang cepat, transparan, dan bertanggung jawab.
Manifes Kapal: Kunci yang Harus Segera Dibuka
Tragedi ini tidak boleh berhenti pada pencarian dan evakuasi semata. Ketika sebuah kapal membawa ratusan manusia, keselamatan setiap jiwa adalah tanggung jawab yang sangat besar. Dan hal yang paling mendesak sekarang adalah: buka manifes penumpang!
Kami meminta pemerintah segera memastikan beberapa hal krusial. Pertama, berapa jumlah keseluruhan penumpang dan awak berdasarkan manifes resmi? Kedua, berapa jumlah kendaraan, alat berat, dan muatan yang tercatat? Ketiga, dan ini yang paling mengiris hati — berapa jumlah anak yang berada di dalam kapal?
Keempat, berapa jumlah perempuan, lansia, penyandang disabilitas, orang sakit, dan kelompok rentan lainnya? Kelima, siapa saja yang telah dievakuasi dan teridentifikasi? Keenam, daftar lengkap siapa saja yang masih hilang? Ketujuh, bagaimana proses pencocokan manifes dengan data korban? Dan kedelapan, segera cek daftar tiket awal — apakah ada perbedaan antara data manifes dengan kondisi faktual orang yang benar-benar berada di atas kapal?
Proses ini harus dilakukan secepat mungkin. Kapal dinyatakan tenggelam, maka pencarian bawah laut harus segera didukung dengan kemampuan dan teknologi yang memadai. Jangan hanya mencari di permukaan laut. Peluang menemukan korban harus dimaksimalkan.
Bagi keluarga korban, kepastian identitas bukan sekadar administrasi. Nama seseorang adalah bagian dari kepastian hidup keluarganya. Mereka berhak tahu: apakah anggota keluarganya selamat, masih dicari, atau telah ditemukan. Pendataan, pencarian, identifikasi, dan penyampaian informasi harus dilakukan secara terbuka, akurat, bertahap, dan tetap memperhatikan perlindungan data pribadi.
Kesaksian yang Mengiris: Perempuan dan Anak di Ruang Dalam
KPAI mencermati kesaksian para penyintas. Situasi darurat terjadi begitu cepat. Banyak perempuan dan anak berada di kamar atau ruang dalam kapal ketika kejadian berlangsung. Ini harus menjadi perhatian serius dalam investigasi.
Pertanyaannya bukan hanya mengapa kapal tenggelam, tetapi bagaimana sistem keselamatan bekerja dalam keadaan darurat yang datang dalam hitungan detik? Di mana anak-anak mendapatkan life jacket? Bagaimana akses mereka ke jalur evakuasi? Bagaimana prosedur penyelamatan bagi anak yang tidak bersama orang tuanya? Bagaimana dengan perempuan hamil, lansia, penyandang disabilitas, orang sakit?
Bayangkan situasi seorang anak ketika kapal tiba-tiba miring, gelap, panik, air masuk, dan orang-orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Anak tidak memiliki kekuatan fisik dan kemampuan bertahan di air yang sama dengan orang dewasa. Anak tidak boleh hanya dihitung sebagai angka dalam manifes. Anak harus menjadi bagian dari desain keselamatan, mitigasi risiko, prosedur evakuasi, pendampingan, hingga proses pencarian dan penyelamatan.
Sekoci dan Alat Keselamatan: Jangan Sampai Tidak Sebanding dengan Jumlah Manusia
Perlu pemeriksaan menyeluruh terhadap standar keselamatan Kapal Virgo. Jika kapal berangkat dengan jumlah penumpang tertentu, maka kapasitas sekoci, life jacket, lifeboat, jalur evakuasi, pintu darurat, alarm, radio komunikasi, persinyalan, dan seluruh perlengkapan keselamatan harus mampu mengakomodasi seluruh manusia yang berada di atas kapal sesuai manifes.
Jangan sampai jumlah manusia yang harus diselamatkan jauh lebih besar dibandingkan kapasitas sarana keselamatan yang tersedia. Terlebih apabila terdapat anak-anak. Life jacket untuk anak harus tersedia sesuai ukuran dan kebutuhan mereka. Keselamatan nyawa manusia harus berada di atas segala pertimbangan operasional dan ekonomi.
Evaluasi Keselamatan: Jangan Hanya Jadi Dokumen
Ingatlah, pada 19 Agustus 2026, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan perlunya memastikan manifes penumpang dan kendaraan tercatat akurat serta terintegrasi dengan sistem ticketing dan boarding. Pemerintah juga menyampaikan langkah audit terhadap sejumlah operator kapal.
Karena itu, tragedi Kapal Virgo harus menjadi momentum untuk bertanya: apakah seluruh hasil evaluasi dan rekomendasi keselamatan tersebut benar-benar sudah sampai dan dijalankan di lapangan? Jangan sampai evaluasi keselamatan hanya menjadi dokumen, sementara praktik di lapangan masih menyisakan celah yang mengancam nyawa.
Jika ditemukan ketentuan keselamatan, hasil ramp check, rekomendasi, atau SOP yang tidak dilaksanakan, maka harus ada tindakan tegas sesuai hukum. Keselamatan tidak boleh hanya diperiksa setelah kecelakaan terjadi.
Ini Bukan Lagi Sekadar Satu Peristiwa
KPAI melihat persoalan keselamatan pelayaran harus dibaca lebih luas. Berbagai kecelakaan kapal dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan negara perlu memastikan apakah pengawasan keselamatan pelayaran telah berjalan efektif. Bahkan dalam rapat dengan Komisi V DPR RI pada Agustus lalu, pemerintah mendapat sorotan mengenai keselamatan pelayaran, akurasi manifes, dan kepatuhan terhadap ketentuan keselamatan.
Tragedi Virgo tidak cukup dijawab hanya dengan memanggil operator atau melakukan pemeriksaan administratif setelah kejadian. Harus ada langkah negara yang lebih kuat. Periksa seluruh rantai tanggung jawab: siapa yang melakukan pemeriksaan? Siapa yang memberikan izin berlayar? Bagaimana hasil ramp check? Bagaimana kondisi alat keselamatan? Apakah jumlah penumpang sesuai kapasitas? Apakah manifes sesuai kondisi faktual? Apakah terjadi overload? Bagaimana pengawasan kendaraan dan alat berat? Apakah persinyalan dan radio komunikasi aktif? Bagaimana kesiapan awak kapal? Dan bagaimana prosedur evakuasi terhadap kelompok rentan, khususnya anak?
Anak yang Selamat Harus Segera Dipastikan Aman
KPAI meminta perhatian khusus terhadap anak-anak yang berhasil dievakuasi. Mereka tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat tinggal sementara. Mereka membutuhkan rasa aman, pendampingan keluarga, dukungan psikososial, perlindungan dari paparan situasi traumatis, pendataan, dan reunifikasi keluarga.
Anak yang terpisah dari orang tua harus segera mendapatkan perlindungan khusus agar tidak terjadi kehilangan identitas, salah penempatan, atau risiko kekerasan dan eksploitasi pascakejadian. Anak harus segera diidentifikasi, dilindungi, didampingi, dan dipertemukan kembali dengan keluarganya.
Keselamatan Harus Menjadi Keberpihakan Negara
KPAI memahami kecelakaan di laut dapat terjadi karena berbagai faktor. Namun, ketika menyangkut ratusan jiwa, penyelesaiannya tidak boleh sederhana. Harus ada evaluasi terhadap seluruh rantai keselamatan, dari kapal dinyatakan laik hingga penanganan korban setelah kejadian. Satu nyawa tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Karena itu, KPAI mendorong agar keselamatan transportasi laut ditempatkan sebagai bentuk nyata keberpihakan negara terhadap keselamatan setiap warga negara. Bukan hanya anak. Bukan hanya perempuan. Bukan hanya kelompok rentan. Setiap manusia yang berada di atas kapal harus memiliki hak yang sama untuk pulang dengan selamat.
KPAI berharap operasi pencarian dan pertolongan terus dilakukan secara maksimal, termasuk memperkuat pencarian bawah laut sesuai kebutuhan dan perkembangan operasi SAR. Semoga para penumpang yang masih dinyatakan hilang dapat segera ditemukan dan diselamatkan.
Mari seluruh masyarakat menyatukan doa. Mari kita jaga harapan bagi setiap keluarga yang masih menunggu kabar. Dan dari tragedi ini, negara harus memastikan: jangan sampai ada lagi anak yang kehilangan nyawa karena keselamatan transportasi yang seharusnya dapat dicegah.







