MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Kerjasama kebudayaan antara Indonesia dan India memasuki babak baru yang menggembirakan. Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan komitmen negaranya untuk terus memperkuat dialog berkelanjutan guna meningkatkan kolaborasi di bidang kebudayaan, sekaligus mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedua negara.
Pernyataan optimis ini disampaikan Sandeep dalam acara silaturahmi di Kementerian Luar Negeri RI yang dipimpin oleh Direktur Asia Selatan, Ricky Eka Virgana Ichsan dari Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika. Sandeep menilai, peningkatan hubungan masyarakat sipil antara Indonesia yang mayoritas muslim dan India menjadi salah satu pilar penting dalam memperkokoh kekuatan kedua negara di kancah global.
Ricky Eka Virgana Ichsan pun menyambut antusias harapan tersebut. Ia menilai hubungan bilateral yang selama ini sudah berjalan baik memiliki potensi besar untuk ditingkatkan ke tingkat yang lebih tinggi, terutama dalam sektor kebudayaan dan pendidikan.
Momen ini juga dimanfaatkan oleh Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah, untuk mengingatkan kembali tentang akar sejarah panjang hubungan kedua bangsa. Ia menyebutkan bahwa teori Gujarat merupakan salah satu hipotesis utama masuknya Islam ke Nusantara melalui para pedagang dari wilayah India pada abad ke-13 Masehi. Teori yang didukung oleh sejumlah bukti sejarah dan tokoh pencetus seperti Snouck Hurgronje ini, menurut Buya Amirsyah, menjadi fondasi penting bagi penguatan kerjasama ke depan, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pengungkapan sejarah perjuangan bangsa.
Tak hanya hubungan dagang dan dakwah, sejarah juga mencatat kedekatan emosional antara dua tokoh besar pendiri bangsa: Soekarno dan Jawaharlal Nehru. Berbasis pada kesamaan peradaban dan solidaritas politik internasional, keduanya menjalin persahabatan erat sebagai sesama pemimpin negara dunia ketiga yang gigih memperjuangkan anti-kolonialisme dan menjadi motor pendirian Gerakan Non-Blok.
Meski berbeda latar belakang agama—Soekarno tumbuh dari keluarga Muslim tradisional-modernis yang bahkan sempat menjadi pengurus Muhammadiyah, sementara Nehru adalah Hindu sekuler yang dibesarkan dalam kultur budaya India—keduanya memiliki titik temu ideologis yang kuat. Solidaritas anti-kolonialisme menjadi jembatan yang menyatukan visi mereka untuk membebaskan bangsa-bangsa Asia dan Afrika dari cengkeraman penjajahan Barat, yang akhirnya memuncak pada Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung.
Dengan semangat sejarah yang kaya dan visi masa depan yang sama, kerjasama pengembangan budaya antara Indonesia dan India kini bukan sekadar nostalgia, melainkan langkah strategis untuk melahirkan peradaban baru yang lebih maju dan bersaudara.






