Sekjen MUI Pusat Buya Amirsyah: “Palestina Hanya Bisa Merdeka Jika Dunia Bersatu!”

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Di tengah gema takbir kemerdekaan Indonesia yang ke-81, sebuah seruan menggema dari jantung ibu kota. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, dengan lantang menyerukan persatuan umat manusia di seluruh penjuru dunia untuk bahu-membahu mendukung kemerdekaan Palestina dan menghentikan segala bentuk penindasan yang telah lama membelenggu rakyat di tanah suci tersebut.

Seruan penuh pengharapan ini disampaikan Buya Amirsyah di hadapan ratusan peserta Simposium Masjid Al Aqsho dan Palestina (SIMATINA) 2026, sebuah forum bergengsi yang mengusung tema “Melawan Penistaan Masjidil Aqsa dan Penjajahan Palestina”. Acara yang berlangsung pada Senin (31/8/2026) ini menjadi panggung kebangkitan solidaritas global, didukung penuh oleh BKSAP DPR RI, Pimpinan MPR RI, dan Pimpinan DPR RI.

Momen bersejarah ini juga dimanfaatkan untuk meluncurkan HQ Asia Pacific Coalition for Quds and Palestine (APCQP), sebuah koalisi baru yang diharapkan menjadi garda terdepan perjuangan diplomasi dan kemanusiaan untuk Palestina di kawasan Asia Pasifik.

Di atas podium, Buya Amirsyah tak hanya menyampaikan kata-kata, namun juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menerjemahkan kepedulian menjadi tindakan konkret. Ia menyoroti peran penting para pegiat filantropi Islam yang selama ini menjadi tulang punggung bantuan bagi masyarakat Palestina yang terkepung.

“Secara filantropi, bukti kasih sayang kita kepada saudara-saudara kita tidak pernah putus. Kita berikan bantuan berupa material, mungkin makanan, minuman, atau ke depan kita akan berikan bantuan berupa pendirian masjid,” ujarnya dengan suara bergetar penuh haru.

Baginya, membantu Palestina adalah cerminan iman dan kemanusiaan yang tak bisa ditawar-tawar. Bantuan material memang penting, namun dukungan moral dan spiritual juga sama krusialnya untuk menjaga semangat juang rakyat Palestina yang tak pernah padam.

Dengan penuh hikmat, Buya Amirsyah mengaitkan perjuangan Palestina dengan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki usia 81 tahun. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan yang sudah dinikmati bangsa Indonesia selama lebih dari delapan dekade seharusnya menjadi cermin bahwa masih ada saudara-saudara kita di belahan dunia lain yang belum merasakan manisnya kebebasan.

“Indonesia merdeka 81 tahun. Itu artinya kita mensyukuri nikmat kemerdekaan kita. Tetapi saudara-saudara kita yang belum merdeka sepenuhnya,” tuturnya dengan nada sendu yang mengundang hening di ruang simposium.

Ia menegaskan bahwa persoalan Palestina bukanlah monopoli umat Islam semata. Ini adalah persoalan kemanusiaan universal yang menyentuh hati nurani setiap insan di muka bumi. Ketika seorang ibu menangisi anaknya yang gugur di bawah reruntuhan, ketika seorang anak kehilangan masa kecilnya di tengah hiruk-pikuk konflik, maka di situlah kemanusiaan terpanggil untuk bersuara.

—

“Bersatulah Wahai Manusia!” Seruan yang Mengguncang Nurani

Di bagian akhir pidatonya, Buya Amirsyah meninggikan suara dengan semangat membara. Ia mengajak seluruh masyarakat dunia untuk membangun persatuan lintas agama, lintas bangsa, dan lintas budaya dalam menolak segala bentuk kezaliman. Baginya, Palestina hanya bisa merdeka jika dunia bersatu padu dengan suara yang sama.

“Palestina hanya bisa merdeka kalau dunia bersatu, yaitu dunia yang berdiri terhadap kemanusiaan,” tegasnya dengan mata berbinar.

Ia mengajak hadirin untuk menggunakan hati nurani dan tidak tinggal diam menyaksikan penderitaan yang terus berlangsung. Nilai-nilai kemanusiaan, menurutnya, harus menjadi landasan bersama dalam memandang konflik yang telah memakan korban tak terhitung jumlahnya ini.

“Bersatulah wahai manusia! Bersuaralah wahai manusia! Tolak segala bentuk kezaliman, kenistaan terhadap agama, masjid, dan seluruh peradaban manusia yang ada di dunia ini,” serunya menggelegar, disambut tepuk tangan meriah dan takbir dari seluruh peserta yang hadir.

Menutup pidatonya, Buya Amirsyah kembali mengokohkan tekad seluruh peserta untuk terus menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Dengan penuh keyakinan, ia memimpin seluruh hadirin menyatakan komitmen bersama.

“Mari nyatakan, kita harus dukung kemerdekaan Palestina. Palestina merdeka!” tutupnya dengan lantang, diikuti oleh ribuan suara yang bergema serentak, menembus batas ruang dan waktu, menyampaikan pesan harapan kepada saudara-saudara di Gaza, Tepi Barat, dan seluruh penjuru Palestina.

Simposium yang berlangsung khidmat ini menjadi wadah pertemuan bagi berbagai tokoh, pegiat kemanusiaan, hingga para pembela isu Palestina dari berbagai penjuru dunia. Mereka bersatu dalam satu visi: memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina dan menjaga kesucian Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam.

Kegiatan yang didukung penuh oleh pimpinan legislatif ini diharapkan menjadi titik balik lahirnya gerakan-gerakan baru yang lebih terstruktur dan masif dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.

Di balik seruan yang menggema, tersimpan harapan besar bahwa suatu hari nanti, anak-anak Palestina bisa bermain dengan bebas di bawah langit biru yang damai, tanpa bayang-bayang ketakutan dan penindasan. Sebab, seperti yang selalu diyakini para pejuang kemanusiaan, keadilan pasti akan datang—dan persatuan dunia adalah kuncinya.

Palestina merdeka! Dari Jakarta, untuk dunia!

Pos terkait