MINANGKABAUNEWS.com, MANADO– Di tengah gempuran musik modern dan gadget yang melenakan, sebuah kabar menggembirakan datang dari Sulawesi Utara. Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Provinsi Sulawesi Utara dengan berani mengusung misi mulia: menghidupkan kembali dentingan merdu kolintang, alat musik tradisional khas Minahasa yang nyaris tenggelam ditelan zaman.
Kepala Sekolah SRT 3 Sulut, Yefta Makikui, dengan antusias mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja memasukkan musik kolintang sebagai bagian dari kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung hingga 13 September 2026. Bukan sekadar perkenalan biasa, para siswa baru diajak menyelami langsung ekstrakurikuler musik kolintang, sebuah langkah berani untuk menanamkan cinta budaya sejak dini.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga bangga dan peduli terhadap kekayaan budaya Nusantara. Kolintang adalah warisan leluhur yang harus terus kita gaungkan,” ujar Yefta dengan penuh semangat di sela-sela kegiatan di Minahasa, Kamis.
Pilihan ini ternyata tepat sasaran. Di era modern seperti sekarang, suara khas bilah-bilah kayu yang disusun rapi di atas bak kayu itu sudah semakin jarang terdengar. Padahal, di masa lampau, kolintang adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Minahasa. Alunan merdunya selalu mengiringi berbagai momen penting, mulai dari ibadah di gereja, pesta sukacita, hingga upacara kedukaan. Bahkan, jauh sebelum itu, kolintang memiliki peran sakral dalam upacara ritual adat sebagai sarana pemujaan roh leluhur sebelum akhirnya bertransformasi menjadi hiburan rakyat dan bahkan ajang lomba yang bergengsi.
Namun, lebih dari sekadar melestarikan alat musik, Yefta menjelaskan bahwa belajar kolintang adalah sekolah kehidupan itu sendiri. Dimainkan secara ansambel atau berkelompok, kolintang mengajarkan nilai-nilai luhur yang sangat dibutuhkan generasi muda saat ini: kebersamaan, kedisiplinan, dan harmoni. Tidak ada tempat bagi egoisme di sini. Setiap pemain harus saling mendengar dan menyelaraskan irama untuk menciptakan satu kesatuan melodi yang indah.
“Kolintang mengajarkan siswa untuk bekerja sama, tepat seperti masyarakat kita yang harus hidup rukun dan damai,” tambahnya.
Melalui ekstrakurikuler ini, para siswa tidak hanya diajari teknik dasar memukul bilah kayu atau membaca notasi angka. Mereka juga akan diasah kemampuannya untuk mengaransemen, menciptakan aransemen baru dari lagu-lagu daerah maupun lagu modern yang sedang tren. Ini adalah cara cerdas untuk membuat generasi Z tetap terhubung dengan akar budayanya tanpa harus meninggalkan dunia mereka saat ini.
Dengan langkah konkret ini, SRT 3 Sulut telah membuktikan bahwa melestarikan budaya tidak harus selalu kuno dan membosankan. Justru, dengan kemasan yang menarik dan relevan, kearifan lokal seperti kolintang bisa kembali bersinar dan menjadi kebanggaan baru bagi generasi penerus bangsa. Sebuah harmoni masa lalu yang kini kembali dinyanyikan untuk masa depan.







