“Selama Ini Kita Gagal Paham Soal Berbakti!”, Buya Gusrizal Bongkar Rahasia Ihsan yang Jarang Diketahui Anak Jaman Now

  • Whatsapp
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Gak cuma memberi uang ke orang tua, tapi beri dengan hormat. Itu baru namanya ihsan.

Begitu tegas Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar, Datuak Palimo Basa, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, saat mengisi pengajian Fiqh Keluarga di Masjid Surau Buya Gusrizal, Bukittinggi.

Banyak anak zaman sekarang salah kaprah. Merasa sudah memberi uang, beli ini-itu buat orang tua, lalu bangga dan merasa paling berjasa. Padahal, kata Buya, cara pikir begitu keliru besar.

“Jangan dianggap dengan kita telah memenuhi segala kebutuhan material, berarti kita telah berbuat ihsan kepada orang tua. Keliru cara pemahaman seperti itu,” tegas Buya.

Kalau benar ingin berbuat ihsan kepada kedua orang tua, berilah dengan menempatkan mereka di posisi terhormat. Bukan dengan gaya ‘orang besar’ yang memberi sedekah.

Buya mengingatkan satu hal yang sering dilupakan anak: Berapa tahun orang tua menerima dari kita? Seberapa besar dibanding jerih payah mereka membesarkan kita?

“Kita tidak menjadi tua karena menanggung kehidupan orang tua kita. Orang tua kita menjadi tua karena menanggung beban kehidupan kita,” ujar Buya menyentil.

Allah pun mengingatkan dalam Al-Qur’an, Allah tidak suka dengan sifat mukhtalan (orang yang berkhayal merasa hebat sendiri) dan fakhur (sombong). Dua karakter ini menghambat seseorang berbuat ihsan, meskipun dia sudah memberi.

Lalu bagaimana cara memberi yang benar?

“Berilah dengan tawaduk, berilah dengan ikram, dengan memuliakan. Baru kita mencapai perbuatan ihsan,” pesan Buya.

Buya bahkan mengaku punya prinsip pribadi: lebih rela menyelipkan uang ke bawah bantal orang tua daripada memberi langsung ke tangan. Kenapa? Karena tangannya orang tua tidak pantas berada di bawah tangan anak.

“Sebab kalau diambil pun dari saku kita, ada yang keliru. Sabda Nabi: Anta wa māluka li abīka — Engkau dan hartamu itu milik bapakmu,” ingat Buya.

Buktinya, dalam hukum Islam, kalau orang tua mengambil uang anak, tidak termasuk pencurian yang kena hudud. Artinya apa? Harta anak pada hakikatnya bukan milik mutlak anak semata.

Buya juga mengingatkan jangan sampai anak yang sukses terjebak dalam khayal. merasa berhasil, berpangkat, beruang karena jerih payah sendiri. Lupa bahwa di balik kursi dan kedudukan itu, ada saham keringat, air mata, dan doa orang tua yang sudah renta.

“Nah, ini yang dilupakan. Banyak anak sekarang berkhayal. Ketika dia memberi, seolah-olah seribu perbuatan baik. Lupa bahwa kedudukan yang dia dapat, apakah tidak ada saham orang tua?” tegas Buya.

Ihsan bukan sekadar ibadah ritual shalat atau haji. Ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya. Jika tak melihat, yakinlah Allah melihat kita. Dan Allah tidak hanya melihat rupa dan harta kita, tapi hati dan perbuatan kita.

Karena itu, kalau ingin berbuat baik kepada orang tua, lakukan dengan ketulusan lahir dan batin. Hilangkan rasa “aku yang paling hebat”. Sadari bahwa kamu bisa sampai di titik ini, tak lepas dari titik peluh kedua orang tuamu.

“Jadi kalau kamu lupakan itu, berarti kamu sedang mengkhayal. Namanya tidak realistis,” pungkas Buya.

Pesan Buya: Berilah dengan hormat, jangan dengan keangkuhan. Karena orang tua pantas dimuliakan, bukan sekadar diberi.

Related posts