Seni untuk Sesama

  • Whatsapp

Oleh: Jaya Putra Ramadhan

Hiruk pikuk terdengar dari berbagai sudut meja, berbagai kata terlontar dari mulut kemulut, hingga canda tawa menggempar, seakan mereka lupa akan masalah yang sedang dihadapi, hening sehening-heningnya, tatapan mereka tertuju kepada moderator yang menyampaikan telah siapnya kru panggung menata alat dan properti yang akan digunakan dalam penampilan.

Read More

Tajamnya tatapan penonton seperti lubuk tak berdasar tertuju kepada penampil yang sedang focus dengan permainannya, indahnya ritme talempong yang di dukung oleh drum, lalu ditambah dengan senandung suara pedendang nan indah. Membuat para pengunjung sekaligus penonton tersebut terkesima, seakan mereka masuk dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh penampil.

Selama penampilan sedang berlangsung, terdengar berupa bisikan yang mengatakan “wahh, abang itu keren yaa. Udah tampan, suara nyaman didengar, pinter main musik lagi” Memang, memang sering terjadi percakapan yang seperti itu, tidak jarang festival atau penampilan musik lainnya yang menjadi ajang cuci mata bagi kaum muda-mudi, baik itu laki-laki maupun perempuan. Mungkin hanya sesaat, tetapi karena yang sesaat itulah mereka menganggap itu indah.

Penampilan ini berupa sebuah komposisi musik yang ditampilkan dalam rangka penggalangan dana yang bertema “Taragak Basuo Babagi Raso” sangat meriah, walaupun jumlah penonton yang sangat jauh turun drastis. Hal ini disebabkan oleh penampilan komposisi music tersebut berlangsung pada masa transisi pandemic Covid-19, Tetapi pengunjung sekaligus penonton yang datang di café tersebut telah mengikuti prokes (protocol kesehatan) yang di anjurkan oleh pemerintah.

Seperti yang kita ketahui awal tahun 2021 telah terjadi bencana gempa di daerah asal suku Mandar yaitu Mamuju, Sulawesi Barat, seakan alam memperingati daerah yang menjadikan Jepa sebagai makanan khas tradisional suku Mandar tersebut. Akibat bencana gempa yang terjadi di Mamuju, telah banyak memakan korban, bukan hanya manusia melainkan makhluk hidup lainnya juga ikut serta menjadi korban bencana.

Tidak berlangsung lama, terjadi kembali bencana banjir bandang di daerah asal suku Banjar yaitu Kalimantan Selatan. Seakan alam memperingati daerah yang dikenal dengan warung kuliner terapung di atas air tersebut. Agar lebih berhati-hati, bencana ini bisa saja disebabkan oleh manusia itu sendiri. Banjir bandang yang terjadi juga sangat –sangat merugikan dari segi ekonomi, geografis dan lainnya.

Tersebar luasnya berita mengenai bencana-bencana alam yang terjadi di awal tahun itu, membuat masyarakat Indonesia mengadakan penggalangan dana diberbagai daerah. Termasuk Kota Padang, yang menjadi ibu kota dari Provinsi Sumatera Barat. Berbagai relawan hingga komunitas baik itu dari politik hingga kesenian juga mengadakan penggalangan dana.

Padang, 11 Februari 2021 merupakan puncak dari penggalangan dana yang bertemakan “Taragak Basuo Babagi Raso”. Penggalangan dana ini dilakukan dari tanggal 8 sampai dengan 11 Februari, Penggalangan dana ini bertempat di Kayo Coffe dan Resto Kota Padang, dari pukul 15.00 sampai dengan 20.00 Wib. Penggalangan dana ini ditujukan untuk saudara-saudara kita yang tertimpa bencana gempa Mamuju, Sulawesi Barat dan banjir bandang Kalimantan Selatan.

Biasanya penggalangan dana dilakukan menyebar diberbagai titik, tetapi penggalangan dana kali ini menggunakan cara yang sedikit berbeda yaitu dengan menampilkan beberapa penampilan karya komposisi musik pada puncak penggalangan dana tersebut. Dan berharap pada hari puncak tersebut lebih banyak orang yang menyumbang baik itu dalam bentuk uang, pakaian atau semacamnya.

Apabila kita berbicara perihal izin, mungkin saja kita beranggapan bahwasanya acara tersebut tidak mendapatkan izin dari pihak kepolisian, karena acara ini secara tidak langsung mengundang khalayak ramai untuk memeriahkannya. Namun sebaliknya pihak kepolisian dan berbagai pihak yang terkait justru mendukung acara penggalangan dana ini dengan syarat harus mematuhi protocol kesehatan yang sudah di anjurkan oleh pemerintah. Puncak penampilan tersebut juga bertempat di Kayo Coffe dan Resto Kota Padang.

Beberapa kelompok kesenian yang ada di Kota Padang di undang dan ikut serta dalam penggalangan dana itu seperti, SAPAMAINAN yang menampilkan karya dengan judul (Cek Wo Go Mpek), SA TONGGAK ART menampilkan karya dengan judul (Melodi Of Rithym) , NTM REBORN menampilkan karya dengan judul (Nyanyian Tapian Mandi), SIPONGANG ART’17 juga menampilkan karya dengan judul (Babaliak Ka Asa). Dari berbagai penampilan yang ada, berbagai ragam pula cerita yang dibungkus dalam alunan musik.

Ada salah satu kelompok yang menarik perhatian saya sebagai penulis yaitu SIPONGANG ART’17, kelompok itu menampilkan komposisi musik dengan judul babaliak ka asa . Karya itu menceritakan bagaimana terpukulnya seseorang karena kepergian orang yang dicintainya, namun ia tersadar dan percaya bahwasanya peristiwa tersebut, merupakan sebuah hikmah yang harus ia petik dan jadikan sebagai pembelajaran, serta harus bisa untuk mengikhlaskan, karena segala yang ada didunia ini pasti akan kembali ke asalnya.

Cerita yang ditampilkan dalam sebuah penampilan komposisi musik itu sangat abstrak, mungkin tidak semua dari penonton yang menyadari bahwa karya itu tertuju kepada daerah yang sedang tertimpa musibah. Bantuan berupa pakaian yang didapatkan dalam penggalangan dana “Taragak Basuo Babagi Raso” di salurkan kepada pihak panti asuhan, mengapa tidak di kirim ke daerah yang terkena bencana? Karena penyaluran berupa pakaian telah ditutup, maka dari itu pakaian yang didapatkan dalam penggalangan dana “Taragak Basuo Babagi Raso” dialihkan kepada panti asuhan yang berada di Kota Padang, bantuan berupa dana langsung disalurkan kepada pihak yang berwenang dalam pengurusan bantuan bencana tersebut.

Dari penampilan komposisi musik tersebut, bisa kita lihat bahwasanya kesenian bisa membantu sesama walaupun tidak bisa menghibur secara langsung. Semoga sedikit bantuan yang dikumpulkan dalam penggalangan dana “Taragak Basuo Babagi Raso” bisa membantu saudara kita yang sedang tertimpa musibah.

/*Penulis: Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

Related posts