Shadiq Pasadigoe Bicara Empat Pilar di Sungayang: “Beda Boleh, NKRI Harga Mati!”

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, TANAH DATAR — Suasana Gedung Serbaguna Nagari Sungayang, Minggu (21/9/2025), sore itu terasa penuh energi kebangsaan. Ratusan warga dari berbagai lapisan—tokoh agama, pemuda, dan organisasi masyarakat—berkumpul mengikuti sosialisasi Empat Pilar MPR RI bersama Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Ir. M. Shadiq Pasadigoe, SH., MM.
Acara yang berlangsung lebih dari empat jam ini dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan Indonesia Raya, hingga sambutan Forum Kerukunan Umat Beragama. Nuansanya khidmat sekaligus hangat.
Empat Pilar, Bukan Sekadar Slogan

Dalam paparannya, Shadiq menegaskan Empat Pilar MPR RI—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—bukan hanya jargon yang dihafal, melainkan panduan hidup bangsa.

“Persatuan dalam keberagaman adalah modal utama kita. Empat Pilar bukan wacana kosong, tapi pedoman praktis yang harus hadir dalam keseharian,” ujarnya tegas.

Sebagai legislator di Komisi XIII DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan imigrasi, Shadiq menyoroti pentingnya Empat Pilar untuk menghadapi problematika kekinian: mulai dari penegakan hukum yang adil, penguatan karakter generasi muda, hingga menjaga harmoni di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.

“Pancasila itu bukan hanya filsafat, tapi etika hidup dan pedoman politik. UUD 1945 kontrak sosial kita. NKRI harga mati, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah ruh toleransi yang membuat bangsa ini tetap utuh,” jelasnya.

Shadiq tak sekadar mengulang teori. Ia mengaitkan Empat Pilar dengan realitas sehari-hari: bagaimana membangun nagari, menjaga persatuan di tengah perbedaan, hingga memperkuat daya tahan bangsa menghadapi gempuran ideologi asing.

“Kalau masyarakat lupa pada pilar-pilar ini, kita mudah goyah. Justru di tengah dunia digital yang deras, Empat Pilar harus jadi benteng ideologis,” katanya.

Ditutup Komitmen Kebangsaan
Acara berakhir dengan doa bersama dan ramah tamah. Para peserta menyampaikan apresiasi, merasa mendapat pencerahan tentang arti kebangsaan di era kini.
Shadiq menutup dengan pesan lantang:

“Boleh berbeda pandangan, agama, atau adat. Tapi jangan lupakan, kita tetap satu di bawah Pancasila dan NKRI. Itulah kekuatan Indonesia.”

Related posts