Si Muntu, Siapa Dia?

  • Whatsapp
Si Muntu
Si Muntu (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Ranika Ralnandes

Salah satu budaya dan tradisi yang unik namun sangat menarik, para penikmat wisata Tanah Datar tak lepas dari satu sosok yang aneh dan bertingkah lucu. Si Muntu salah satu tradisi Minangkabau mulai hilang dan tergerus oleh budaya luar, kalau ditanya kepada generasi muda saat ini apa itu Si Muntu, sudah jelas pasti gelengan kepala yang akan dilakukan mereka.

Read More

Si Muntu yakni seluruh tubuhnya dibungkus dengan ijuk. Mereka beraksi berkelompok dengan beranggotakan sebanyak 3-4 orang. Wajahnya bertopeng seperti monyet dan selalu bertingkah lucu, Si Muntu dikenal selalu mampu membuat penonton terpingkal-pingkal akibat tingkah lucunya, sungguh menghibur hati terutama bagi anak-anak, biasanya Si Muntu digunakan untuk mencari sumbangan dan sumbangan itu diperuntukan bagi kepentingan masyarakat seperti kegiatan anak nagari berupa kegiatan olahraga atau kesenian dan khitanan masal.

Menurut Dt putih Niniik Mamak di Nagari Andaleh, Si Muntu sudah ada sejak dahulu masa Kerajaan Pagaruyung dan digunakan juga untuk mencari sumbangan bagi kegiatan kalangan anak muda.

Alkisah suatu ketika acara kesenian memerlukan biaya yang cukup besar. Sumbangan ninik mamak saja tidak mencukupi. Mau kepada masyarakat nagari, tidak ada yang diminta mau menjalankannya. Ketika itulah ide untuk membuat si Muntu ditemukan.

“Si Muntu diarak keliling kampung. Dia tidak bersuara. Dia tidak pula meminta. Tetapi di kedua tangan itu terpegang “tangguk” kosong. Bila merasa senang dengan kehadiran si Muntu yang bisa melenggang lenggok di jalan sambil diiringi telempong, maka berilah sesuatu ke dalam tangguk yang dia pegang,” katanya.

“Jarang rumah yang didatangi tidak memberikan sumbangan. Sehingga modal acara kesenian jadi lebih maksimal. Sejak itu pula, sudah jamak di nagari-nagari berguna si Muntu sebagai pencari dana. Sehingga keberadan si Muntu masa lalu dapat diibaratkan sebagai bentuk proposal sebuah kegiatan, ” Ucap Dt Putih.

“Hal ini sangat sangat kreatif sekali, biasanya kami tak pernah mau memberikan sumbangan. Namun untuk siMuntu kami tak ragu,” ucap warga.

“Sekaitan dengan kurangnya Si Muntu di tonjolkan Dt Putih mengungkapkan ,Kini sudah berubah zaman. Si Muntu sudah jarang dipertontonkan lagi. Hiburan sudah banyak, Kalangan pemuda pun, kini maunya serba instan. Sebagai seorang ninik mamak Ia berharap , agar Si Muntu terus dilestarikan melalui undangan acara yang dilaksanakan baik oleh Pemkab maupun di seluruh Nagari,” harapnya. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas

Related posts