Siapa Sangka Babi Unik Asli Indonesia Ini Terancam Punah

  • Whatsapp
Babirusa
Babirusa (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Cinthya Fitri Hardianti

Saat kita mendengar kata babi hal pertama yang terlintas adalah keviralannya yang baru-baru ini membuat heboh dunia maya. Babi sering dikaitkan dengan ilmu mistis yang sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali. Babi biasanya banyak diburu untuk mengendalikan serangan babi hutan terhadap pertanian warga. Apa yang anda pikirkan ketika disebut nama Babi Rusa? Kenapa ada dua satwa, babi dan rusa, bergabung menjadi satu? Sepintas memang terdengar aneh, namun sesungguhnya babirusa merupakan hewan endemik Sulawesi. Babi Rusa memang termasuk famili Suidae, disebut rusa karena pengaruh taring atas (tusk) yang menyerupai tanduk rusa.

Read More

Babi Rusa hidup berkelompok di sekitar daerah rawa-rawa dan semak-semak, mencari makan pada malam hari (nocturnal), pada siang hari tidur, makanannya terdiri atas umbi, akar, binatang tanah, buah-buahan, dan kelapa yang jatuh. Habitat babirusa banyak ditemukan di hutan hujan tropis. Hewan ini gemar melahap buah-buahan dan tumbuhan, seperti mangga, jamur dan dedaunan. Panjang tubuh babirusa sekitar 87-106 cm, tinggi Babi Rusa berkisar pada 65-80 cm dan berat tubuhnya bisa mencapai 90 kg. Babirusa jantan memiliki taring yang mencuat ke atas, sedangkan taring pada betina kecil atau tereduksi. Taring ini berasal dari gigi taring yang termodifikasi. Taringnya panjang mencuat ke atas, berguna melindungi matanya dari duri rotan. Babirusa betina hanya melahirkan sekali dalam setahun dengan jumlah bayi satu sampai dua ekor sekali melahirkan. Masa kehamilannya 125 hari hingga 150 hari. Setelah melahirkan, bayi babirusa akan disusui induknya selama satu bulan. Setelah itu, bayi babirusa mencari makanan sendiri di hutan bebas. Hewan endemis ini dapat bertahan hingga berumur 24 tahun.

Saat ini terdapat tiga spesies Babi Rusa yang masih hidup dan satu spesies yang hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Tiga spesies itu adalah Babi Rusa Sulawesi (Babyrousa celebensis), Babi Rusa berbulu lebat atau hairy babirusa (Babyrousa babyrussa) yang terdapat di Kepulauan Sula dan Pulau Buru, serta Babi Rusa togean atau Togean Babirusa (Babyrousa togeanensis). Sementara yang sudah punah adalah Babi Rusa Bolabatu (Babyrousa bolabatuensis) yang ditemukan dalam bentuk fosil di semenanjung selatan Sulawesi. Babirusa itu diberikan perlindungan penuh di bawah hukum Indonesia pada tahun 1931. Spesies telah disertakan pada Appendix I CITES sejak tahun 1982, meskipun perdagangan internasional spesies ini tidak dianggap telah menjadi isu penting dalam beberapa kali. Ada dua kawasan lindung di Buru hutan hujan yang tersisa, Gunung Kelpat Muda (1380 km) dan Waeapo (50 km), dan satu di Taliabu, Pulau Taliabu (700 km). Gunung Kelpat Muda, ke bagian barat-tengah pulau. memiliki keuntungan tambahan untuk terus menjadi perlindungan hewan menurut adat setempat.

Sejak tahun 1996 hewan ini telah masuk dalam kategori langka dan dilindungi oleh IUCN dan CITES. Namun masih sering dijumpai perdagangan daging babirusa di daerah Sulawesi Utara. Karena itu, pusat penelitian dan pengembangan biologi LIPI bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat beserta Departemen Kehutanan dan Universitas Sam Ratulangi mengadakan program perlindungan terhadap hewan langka ini. Perlindungan tersebut meliputi pengawasan habitat babirusa dan membuat taman perlindungan babirusa di atas tanah seluas 800 h. Menurut data BB TNLL, babirusa mengalami penurunan populasi. Pada data awal tahun 2013 jumlah populasi babirusa sebesar 74 sedangkan data 2018 mengatakan bahwa hanya terdapat 41 ekor. Data ini menunjukan penurunan jumlah populasi sekitar 44 persen dalam kurun waktu 5 tahun. IUCN Red List, satwa endemis ini didaftarkan dalam kategori konservasi vulnerable (rentan) sejak 1986. Dan, oleh CITES binatang ini didaftar dalam Apendiks I yang berarti tidak boleh diburu dan diperdagangkan.

Operasi penebangan komersial skala besar telah menjadi ancaman utama bagi spesies ini. Ancaman saat ini ke hutan hujan Buru tersisa rendah dan prospek konservasi relatif stabil, tetapi tetap rentan. Berkurangnya populasi babirusa diakibatkan oleh perburuan untuk mengambil dagingnya yang dilakukan oleh masyarakat sekitar. Selain itu, rusaknya habitat utama hewan endemis ini dan jarangnya frekuensi kelahiran juga membuat satwa endemis ini semakin langka.

/* Penulis adalah Mahasiswi Biologi Universitas Andalas

Related posts