MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Malam itu, udara di Gedung Gubernuran Sumbar terasa begitu berat. Hening yang mencekam justru lebih keras terdengar daripada suara-suara di dalam ruang sidang. Tiga ruangan berbeda menggelar sidang bersamaan, namun sorot mata seluruh peserta Musda MUI Sumbat keXI tertuju pada satu pintu: ruang sakral tempat para formatur bermusyawarah.
Di dalam, 15 orang formatur duduk dengan tatapan fokus. Prof. Zulfan, Sekretaris Umum demisioner MUI Sumbar, dengan suara lantang membacakan nama-nama yang duduk di ruang penting itu. Panitia berjaga di luar dengan pengamanan superketat. Tak seorang pun diizinkan keluar. Apalagi masuk. Ruangan itu seolah menjadi ‘ruang hampa’ yang hanya berisi suara hati dan kepentingan besar organisasi.
Awalnya, semua berjalan ideal. Utusan dari Perti Muhammad Arif dan utusan Ormas NU, Tan Gusli, hadir lengkap. Semua elemen duduk setara. Suhu mulai hangat. Tapi, di tengah jalan, petir politik menyambar.
Pimpinan sidang tiba-tiba menskors jalannya musyawarah. Dan di momen paling genting itu, dua orang yang mewakili Ormas besar itu—Tan Gusli dan Muhammada Arif—meminta izin keluar. Mereka pergi. Meninggalkan ruangan yang masih menyisakan ‘tanda tanya’ besar di udara.
Sidang belum selesai. Belum ada nama Ketua Umum terpilih yang tertoreh.
“Karena kedua anggota tim formatur ini tidak kembali, maka pimpinan sidang memutuskan menunda pelaksanaan sidang formatur di Hari Ahad di BKOM Pelkes Padang,” ujar Prof. Zulfan dengan nada diplomatis, namun tetap menegaskan kepastian.
Keputusan diambil: sidang dilanjutkan pada Ahad, 12 Juli, pukul 08.30 pagi.
Tebakan pun bermunculan. Akankah ketegangan berlanjut? Akankah formatur kehilangan arah?
Namun, di hari yang dinanti, keajaiban kecil terjadi.
Sidang lanjutan berlangsung tanpa hiruk-pikuk. Tidak ada drama. Tidak ada saling sindir. Para formatur yang tersisa malah menunjukkan kedewasaan politik yang luar biasa. Mereka berhasil menyusun struktur Dewan Pimpinan baru. Rapat formatur menetapkan Buya Zulkarnaini secara aklamasi menjadi Ketum MUI Sumbar periode 2026-2031 sekaligus menetapkan Prof Asasriwarni sebagai Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar.
Bahkan, yang paling mengejutkan: struktur itu secara cerdas mengakomodir keterwakilan berbagai utusan peserta MUSDA, terkhusus dari unsur Ormas yang sempat hengkang.
Lho, kok bisa?
Ternyata, tim formatur tidak tinggal diam. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa Ketua Wantim telah bergerak cepat. Ia berkomunikasi intens dengan anggota formatur yang belum kembali hadir. Hasil komunikasi itulah yang menjadi dasar penyusunan struktur, memastikan semua pihak tetap merasa terwakili, meski kursi mereka kosong dalam sidang fisik.
Keputusan final pun diambil. Semua elemen sepakat. Tidak ada yang dirugikan. Formatur kembali bersatu, bahkan di saat dua rekannya memilih pintu keluar.
Malam itu berakhir dengan syukur. Sidang formatur dilanjutkan besok pagi. Panitia yang semula tegang kini menarik napas lega. Semua mata tertuju pada peta baru kepengurusan yang siap mengawal organisasi ke arah yang lebih maju.
Pertanyaannya sekarang: akankah dua utusan Ormas yang ‘hilang’ itu kembali bergabung? Atau justru struktur yang ada ini menjadi awal dari kebangkitan solidaritas sejati? Yang jelas, MUSDA kali ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang. Bahkan di ruang sidang tanpa dua ‘angin besar’, formatur tetap mampu mengukir sejarah.






