MINANGKABAUNEWS.com, AGAM – Dalam menghadapi musibah banjir bandang dan galodo yang melanda Sumatera Barat, solidaritas dan aksi nyata terus bergulir layaknya gelombang yang tak pernah surut. Puncak dari sinergi strategis antarlembaga keagamaan terwujud dalam kolaborasi apik antara Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PW Muhammadiyah Sumatera Barat. Kolaborasi yang mendapat restu dan apresiasi langsung dari pimpinan tingkat nasional ini, kini telah berbuah menjadi distribusi bantuan massif yang menjangkau ribuan korban di titik-titik terdampak paling parah.
Fondasi Kolaborasi: Dari Fatwa ke Aksi Nyata
Kolaborasi antara LPB MUI Pusat dan MDMC Muhammadiyah bukanlah kerja sama spontan, melainkan implementasi dari visi kepemimpinan ulama yang menekankan persatuan dan aksi konkret. Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar, Lc., M.Ag., yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, secara khusus mendorong dan menyoroti sinergi ini.
“Di saat bencana, fatwa terbaik adalah aksi nyata yang meringankan penderitaan. Sinergi antara LPB MUI dan MDMC Muhammadiyah di Sumbar ini adalah implementasi nyata dari pesan-pesan agama dan teladan persatuan umat,” tegas Buya Gusrizal dalam sebuah penyerahan bantuan simbolis di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kota Padang, yang diterima langsung oleh Ketua PWM Sumbar, Dr. Bakhtiar, M.Ag belum lama ini.
Sinergi ini memastikan respons bencana berjalan efektif tanpa tumpang tindih. Kedua lembaga bekerja sama mulai dari asesmen kebutuhan, koordinasi logistik, hingga pendampingan warga di pos-pos pengungsian. Apresiasi atas kolaborasi ini juga datang dari Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang menyebut peran aktif MUI dan Muhammadiyah sebagai kekuatan utama dalam penanganan darurat.
Gelombang Bantuan Mengalir Deras: Relawan Turun ke Titik Terdalam
Semangat kolaborasi tersebut kemudian diimplementasikan di lapangan oleh ujung tombak kemanusiaan. Pada Sabtu, 20 Desember 2025, Tim Relawan Moeslem Disaster Rescue MUI Sumatra Barat—yang merupakan wujud nyata kerjasama lapangan antara relawan MUI dan MDMC—meluncurkan operasi distribusi bantuan besar-besaran.
Dengan membawa berbagai kebutuhan pokok dan penunjang kesehatan seperti Paket Sembako, Familikit, Hygenkit, Selimut, dan Bantal, tim relawan menembus wilayah-wilayah yang terisolasi.
Berikut rincian distribusi bantuan yang berhasil disalurkan:
· Kecamatan Palembayan: 1.500 paket untuk 500 Kepala Keluarga (KK).
· Kecamatan Tanjung Raya Maninjau: Bantuan pokok berupa 500 Kg Beras, Indomie, Minyak Goreng, dan Air Mineral.
· Kecamatan Malalak: 500 Kg Beras, Indomie, dan Susu UHT untuk menjaga gizi warga.
Komitmen tidak berhenti dalam sehari. Pada Minggu, 21 Desember, relawan masih setia mendampingi warga di lokasi yang sangat terdampak, Salareh Aie, Kecamatan Palembayan, dengan mendistribusikan tambahan 150 paket bantuan. Kehadiran mereka menjadi simbol pendampingan berkelanjutan di tengah proses pemulihan.
Dukungan Nasional dan Semangat “Sesama Untuk Bersama”
Aksi kemanusiaan kolosal ini tidak akan mungkin terlaksana tanpa dukungan luas dari berbagai pihak. Tim Moeslem Disaster Rescue MUI Sumbar menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada seluruh donatur dan dermawan. Secara khusus, apresiasi setinggi-tingginya ditujukan kepada Kementerian ATR/BPN, Pertamina, dan Bank BRI yang memberikan dukungan material dan logistik yang sangat vital, memungkinkan relawan bergerak cepat dan menjangkau daerah-daerah yang sulit.
Dukungan ini juga selaras dengan kunjungan kerja sebelumnya di lokasi bencana oleh Wakil Ketua Umum MUI Pusat KH. Marsudi Syuhud dan Ketua Bidang Penanggulangan Kebencanaan MUI yang juga Menteri ATR/BPN, H. Nushron Wahid. Kunjungan tersebut tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga membuka ruang dialog untuk solusi jangka panjang menyangkut pengelolaan lahan pascabencana.
Sebuah Teladan Sinergi di Tengah Duka
Kolaborasi antara MUI dan Muhammadiyah di Sumatera Barat dalam menanggapi bencana ini telah menjadi sebuah model sinergi yang langka dan powerful. Ia membuktikan bahwa ketika kepemimpinan ulama di tingkat nasional dan daerah bersinergi dengan jaringan organisasi keagamaan yang solid, serta didukung oleh kepedulian korporasi dan masyarakat, respons bencana menjadi lebih terorganisir, menyeluruh, dan penuh empati.
Di atas segala materi bantuan, yang dibangun adalah pondasi kokoh persaudaraan (ukhuwah) dan prinsip Sesama Untuk Bersama. Inilah kekuatan sejati yang akan mengantarkan masyarakat Sumatera Barat untuk bangkit, memulihkan diri, dan kembali berharap, setapak demi setapak, meninggalkan lumpur bencana menuju kehidupan yang pulih.






