Oleh: Advokat Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo, Sekretaris Umum MUI Sumatera Barat
Akhir-akhir ini, saya merasa sesak. Bukan karena udara, tapi karena kata-kata yang bertebaran di ruang publik. Istilah-istilah aneh mulai bermunculan, seolah-olah Islam sedang diobral menjadi merek dagang.
“Islam ala Prabowo.” “Islam ala Anies.” “Islam Nusantara.” “Islam Progresif.” “Islam Moderat.”
Saya bertanya dalam hati: sejak kapan Islam butuh embel-embel nama manusia?
Di suatu sore, saya duduk bersama beberapa kawan ulama di Padang. Kami berbincang tentang keadaan umat. Salah seorang tertua di antara kami, dengan suara lirih tapi mantap, berkata:
“Dulu, kami berjuang agar Islam tidak dicampuri politik. Sekarang, politiklah yang mencampuri Islam dengan cara yang lebih halus.”
Benar. Ketika seseorang menyebut “Islam ala Prabowo” atau “Islam ala siapa pun,” itu sama saja dengan memasung ajaran yang sejatinya universal. Rasulullah SAW diutus bukan untuk satu partai. Bukan untuk satu ormas. Bukan untuk satu calon presiden. Beliau diutus untuk seluruh alam.
Islam itu milik Allah. Bukan milik siapa-siapa.
Saya khawatir. Sungguh sangat khawatir.
Sebab ketika istilah-istilah ini dibiarkan, perlahan tapi pasti akan muncul tiga kerusakan besar:
Pertama, umat akan tercerai-berai. Saudara-saudara kita akan saling curiga. Saling mengklaim paling benar. Padahal yang benar itu hanya milik Allah, dan kita semua sedang mencari-Nya dengan cara masing-masing.
Kedua, agama akan menjadi senjata politik. Ia dipakai untuk menyerang, bukan untuk meneduhkan. Ia dijadikan alat untuk menjatuhkan lawan, bukan untuk membangun kebersamaan.
Ketiga, makna Islam menjadi dangkal. Masyarakat awam—yang tidak tahu persoalan—akan mengira Islam itu bisa diedit-edit. Ditambah-tambah. Dikurang-kurang. Sesuai selera dan kepentingan.
Padahal tidak begitu. Islam itu jelas. Akidahnya, ibadahnya, akhlaknya, dan muamalahnya sudah terang dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Yang boleh berbeda hanyalah metode dakwah, pendekatan sosial, dan konteks kebangsaan. Tapi prinsip-prinsip dasar—tauhid, keadilan, kejujuran, kemaslahatan—tidak bisa diganti-ganti.
Lalu Islam seperti apa yang kita butuhkan?
Di sinilah saya teringat pada kampung halaman saya, Minangkabau. Di sini, Islam sudah hidup berabad-abad. Ia berpadu dengan adat, merawat kebersamaan, dan menjaga keharmonisan.
Inilah Islam wasathiyah. Islam jalan tengah.
Bukan Islam yang kiri, bukan Islam yang kanan. Tapi Islam yang mengimani Allah dengan penuh, mencintai Rasul dengan sungguh, mengamalkan syariat dengan istiqamah, dan di saat yang sama mencintai tanah air dengan tulus.
Inilah Islam yang dipraktikkan oleh NU, Muhammadiyah, dan mayoritas umat di ranah ini. Mereka mengaji di surau, bergotong royong di nagari, taat pada ulama dan umara, serta teguh memegang adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Islam model ini tidak butuh embel-embel “ala” siapa-siapa. Karena ia sudah terbukti merawat kebangsaan selama ratusan tahun.
Maka dari itu, saya mengajak kita semua. Ulama, umara, tokoh masyarakat, ormas Islam, dan seluruh umat.
Mari kita hentikan penggunaan istilah “Islam ala Prabowo” dan “Islam ala-ala” lainnya. Mari kita kembalikan marwah Islam sebagai agama yang menyatukan, bukan memecah.
Para ulama dan umara harus menjaga agar agama tidak ditarik ke ranah politik praktis. Cukup sudah. Jangan biarkan ayat-ayat suci menjadi komoditas kampanye.
Para ormas dan tokoh masyarakat hendaknya fokus pada pendidikan, dakwah, dan pengabdian. Bukan pada pemberian label yang hanya akan memperuncing perbedaan.
Dan umat—kita semua—harus cerdas dalam memilih. Jangan mudah diadu domba atas nama agama. Karena agama justru mengajarkan kita untuk bersaudara, bukan bermusuhan.
Di penghujung tulisan ini, saya ingin mengajak kita merenungkan satu hal.
Islam tidak butuh embel-embel nama manusia. Islam tidak butuh stempel kekuasaan. Islam tidak butuh label politik yang membingungkan.
Islam hanya butuh satu hal: umat yang mengamalkannya dengan kaffah. Secara utuh. Dengan kesadaran. Dengan cinta.
Seperti firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 107:
“Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin.”
Dan Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.
—
Bukan untuk satu golongan. Bukan untuk satu pilihan. Bukan untuk satu calon.
Untuk seluruh alam.
—
Stop Islam ala Prabowo. Stop Islam ala-ala lainnya.
Mari kita hidupkan Islam yang satu: Islam yang rahmat, Islam yang wasathiyah, dan Islam yang membangun Indonesia.
Karena pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah Islam dengan label, tapi Islam yang membawa kedamaian.
Wallahu a’lam bish-shawab.







