Sumbangsih Bahasa Minang Terhadap Bahasa Indonesia

  • Whatsapp
Rumah Adat Minangkabau
Rumah adat 'Baanjuang' di Bukittinggi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Muhammad Shalahuddin Al Ayyubi

Indonesia sebagai negara yang heterogen, beragam suku, budaya, kesenian, dan lainnya tentu sudah sepatutnya menjadikan khazanah keberagaman tersebut selayaknya identitas jati diri yang harus dijaga. Salah satu bentuk kekayaan itu adalah keberadaan kultur resam Minangkabau selaku etnis yang mendiami daerah Sumatera Barat.

Read More

Mungkin umumnya khalayak mendengar budaya Minangkabau tidak jauh dari corak bangunan rumah bagonjong, perayaan hoyak tabuik, taripiriang, atau mungkin dari segi kuliner yang sangat masyhur yaitu rendang – di mana menurut versi CNN di tahun 2021 rendang termasuk 50 makanan terbaik di dunia. Tapi, pernahkah sanak mendengar bagaimana bahasa Minang memiliki kontribusi terhadap keberadaan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia?

Sebagai bagian dari kekayaan budaya, bahasa Minang memiliki keterkaitan erat dan pastinya sulit dipisahkan dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut lantaran sangat banyak kosakata bahasa Minang yang diserap oleh bahasa Indonesia sejak dahulu. Bahkan tidak sedikit kosakata yang berasal dari negeri Urang Awak demikian telah kita gunakan ketika hendak melakukan pemilihan kata dalam menulis sastra. Misalnya: bagaimana penggunaan kata “nan” untuk menggantikan “yang”, itu dapat kita baca hanya di berbagai gubahan. Sementara di Ranah Minang penggunaan kata “nan” sudah selalu diucapkan dalam sehari-hari. Belum lagi beragam kata yang telah merepresentasikan kultur kehidupan masyarakat Minangkabau seperti: “rangkiang” yang menjadi lumbung padi untuk menyimpan panen, “surau” atau tempat ibadah nan fungsinya serupa dengan masjid namun secara istilah menurut Dobbin (1971) sudah ada pra-Islam di mana digunakan untuk menuntut ilmu pula, “talempong” atau alat musik pukul khas Ranah Minang yang terbuat dari logam, dan masih banyak lagi.

Perlu diketahui, kosakata yang saya sebutkan diatas pun telah termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bukan hanya segitu saja, bahkan menurut data yang disajikan Adi Budiwiyanto di sebuah artikel “Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa” mengatakan jumlah kosakata yang berasal dari bahasa Minangkabau berjumlah 929. Menempatkan bahasa Minang berada di posisi terbanyak setelah bahasa Jawa yang berjumlah 1109. Ini adalah suatu hal yang patut untuk diketahui khalayak, agar kita tidak melulu memandang bahwasanya hanya bahasa Belanda nan memiliki peranan besar menambah kosakata bahasa bangsa kita. Kalau itu memang wajar mengingat kolonialisme yang Belanda lakukan, adapun perlu diingat bahasa-bahasa daerah memiliki peranan gadang pula dalam memperkaya khazanah kebahasaan ibu pertiwi.

Jika Belanda secara historis mendapat ruang menambah kosakata bahasa Indonesia sebab penjajahannya yang amat politis, Urang Awak sebagai bangsa asli Indonesia tidak demikian. Orang-orang kebanggaan bundo kanduang menyumbangkan kosakata-kosakata mereka pada bahasa nasional kita melalui jalur perjuangan lewat sastra dan literatur-literatur yang amat rancak. Tokoh-tokoh seperti Sutan Muhammad Zain selaku penyusun gramatika bahasa Indonesia, Sutan Takdir Alisjahbana sang sastrawan sekaligus ahli tata bahasa, Abdoel Moeis sebagai novelis yang tergabung dengan Sarekat Islam, Buya Hamka sang pengarang masyhur, dan tak lupa Chairil Anwar sebagai pujangga besar. Mereka semua adalah keturunan Minang yang memiliki sumbangsih besar memperkaya bahasa Indonesia lewat jalur damai dengan karya tanpa tindak pemaksaan. Tidak seperti upaya asimilasi terstruktur suatu bangsa yang pernah menjajah negeri kita.

Kemudian bila kita tinjau lebih lanjut keterkaitan bahasa Minang dan bahasa Indonesia maka tak jauh kita tengok kembali sejarah di tahun ’66. Bahasa Minang pernah menjadi bahasa daerah terbanyak kosakatanya di Kamus Bahasa Indonesia, bahkan saat itu melebihi bahasa Jawa dan Sunda. Meskipun sayangnya pada perkembangannya hingga dewasa kini, kosakata bahasa Minang lebih condong menurun (Alwasilah, 1997). Belum lagi yang menjadi alasan eratnya bahasa Minang dan bahasa Indonesia – yang cikal bakalnya dari bahasa Melayu – adalah pada sebuah penelitian linguistik dalam bentuk jurnal yang ditulis Hafizah (2018) di mana terdapat sebuah kesimpulan bahwa dialek Bukittinggi bahasa Minang mempunyai tingkat kekerabatan nan tinggi dengan bahasa Indonesia, secara persentase pun mencapai 82,2%. Hal tersebut sudah diperhitungkan melalui bagaimana dalam perkembangannya terdapat perbedaan lafal, pergeseran makna kata yang satu bunyi, pinjaman kosakata, dan lain-lain. Disimpulkan pula secara historis bahwa dialek Bukittinggi bahasa Minang terpisah dengan bahasa Melayu (Indonesia) dari sebuah wadah bahasa induk ketika tahun 1576 masehi atau sekitar 445 tahun silam.

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia.

Related posts