Tak Hanya Merayakan Milad, GMM Jadi Saksi Syahadat Pemuda Tiongkok

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, FEATURE — Di lantai II Masjid Asyyuhada, siang itu angin berembus pelan. Orang-orang datang silih berganti, sebagian menyalami, sebagian lagi hanya tersenyum hangat, lalu duduk bersila di karpet masjid yang sederhana namun terasa teduh. Dari pengeras suara terdengar lantunan ayat suci, mengisi udara dengan getar spiritual yang sulit dijelaskan.
Gerakan Muslim Minangkabau (GMM) tengah merayakan hari penting: Milad ke-26. Dua puluh enam tahun bukan waktu sebentar bagi sebuah gerakan sosial-keagamaan yang lahir dari semangat kampung dan tekad perantau. GMM telah menjadi rumah bagi banyak orang yang mencari cahaya iman.
Namun, hari itu bukan hanya soal usia. Ada sesuatu yang membuat suasana lebih hangat, lebih hidup—sebuah peristiwa kecil yang diam-diam mengguncang hati semua yang hadir.
Seorang pria muda, berkoko putih dan berpeci hutam, berwajah oriental dengan sorot mata penuh gugup, duduk bersila di depan jamaah. Namanya Wangjabu, 29 tahun, warga negara asing asal Guangsu, Tiongkok. Di sampingnya, seorang perempuan Minang berwajah teduh, mengenakan jilbab hijau lembut: Silvia, 23 tahun, calon istrinya yang berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan.
Hari itu, Wangjabu akan mengucapkan syahadat.
Prosesi yang Sunyi tapi Menggema
Suasana masjid hening ketika Ustaz Salman berdiri, ditemani Buya Ibu Aqil, Buya Isrul Hosein, Tengku Abdurrahman dan Ketua GMM, Buya Maad Atjin. Dengan suara rendah namun tegas, ustaz menuntun Wangjabu mengucapkan kalimat yang akan mengubah garis hidupnya.
“Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah…”
Kalimat itu terbata-bata keluar dari bibir Wangjabu. Tangannya sedikit gemetar, namun wajahnya tak bisa menyembunyikan ketenangan baru yang datang seperti ombak kecil menyapu pantai. Jamaah yang hadir menahan napas, beberapa meneteskan air mata.
Silvia, yang duduk tak jauh darinya, tampak tersenyum lega. Di sampingnya, ayah dan ibunya menyaksikan dengan tatapan campur aduk antara haru, syukur, dan entah sedikit cemas. Menikahkan putri dengan seorang mualaf adalah keputusan besar, tetapi iman, dalam banyak tradisi, selalu datang dengan keberanian.

Dua Puluh Enam Tahun Perjalanan
Bagi GMM Sumbar, momen seperti ini bukan hal asing. Selama lebih dari dua dekade, organisasi ini telah menjadi saksi ratusan orang yang menemukan rumah baru dalam Islam.
“Sejak awal, kami ingin menjadikan masjid bukan hanya tempat salat, tapi juga ruang pulang bagi siapa pun yang mencari hidayah,” kata Buya Maad Atjin dalam sambutannya. Suaranya bergetar, namun penuh wibawa.

Di Sumatera Barat, GMM dikenal bukan sekadar kumpulan tokoh, tapi sebuah gerakan yang menjejak hingga ke pelosok. Mereka membina muallaf di daerah 3T—tertinggal, terdepan, dan terluar. Mereka membangun masjid hingga ke Aceh dan Donggala, dua wilayah yang pernah diguncang gempa dan tsunami. Kini, mereka kembali menoreh sejarah dengan menyambut seorang pemuda dari negeri jauh, yang hatinya terpaut pada Islam sekaligus pada seorang perempuan Minang.

Dari Tiongkok ke Ranah Minang
Cerita Wangjabu mungkin terdengar sederhana: seorang pria jatuh cinta pada seorang perempuan, lalu mengikuti jalan yang ditempuh kekasihnya. Namun di balik itu, ada lapisan-lapisan makna yang lebih dalam.
Dalam sejarah Minangkabau, pertemuan budaya dengan “orang jauh” selalu menghasilkan cerita-cerita baru. Dari para pedagang Gujarat yang membawa Islam ke pesisir, hingga orang-orang Cina peranakan yang sejak berabad-abad lalu hidup berdampingan di nagari-nagari Minang. Kini, cerita itu berlanjut dalam diri Wangjabu, yang memilih menjadi bagian dari kisah panjang hubungan Minang dan dunia luar.
“Islam itu cahaya,” ucap Tengku Abdurrahman, usai prosesi pensyahadatan. “Siapa saja yang mendapatkannya, tak peduli dari mana asalnya, akan menemukan jalan pulang.”

Sebuah Janji di Bawah Kubah
Ketika prosesi usai, jamaah berdiri, saling menyalami. Wangjabu tampak lebih rileks, wajahnya berseri seperti anak kecil yang baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.
Di bawah kubah Masjid Asyyuhada, ia menatap Silvia yang menunduk malu-malu. Mereka belum resmi menikah, tapi hari itu terasa seperti akad pertama: akad keimanan.
Bagi GMM, peristiwa ini adalah hadiah terindah di milad ke-26. Sebuah pengingat bahwa dakwah bukan sekadar ceramah atau pembangunan fisik, melainkan menyentuh hati satu per satu manusia—hingga mereka menemukan Tuhan dalam perjalanan cinta, pencarian, dan keberanian.
Dan di Ranah Minang yang selalu terbuka bagi pertemuan budaya, sebuah nama baru kini tercatat dalam daftar panjang muallaf yang menemukan Islam. Namanya: Wangjabu.

Related posts