Tampak Terpancar Kebahagiaan di Wajah Aisyah Saat Mengetahui Akan Bersekolah Lagi

  • Whatsapp
Aisyah anak kedua dari Sahiful dan Yulinar
Aisyah saat menggendong sang adik, Selasa, (1/6/2021).

MINANGKABAUNEWS, AGAM — Pancaran kebahagiaan tampak dari wajah Aisyah Nurjanah (10) saat mengetahui ia bersama 3 saudaranya akan kembali bersekolah lagi. Cita-cita Aisyah bersama 3 saudaranya hampir saja sirna setelah berhenti sekolah karena kondisi kedua orang tuanya yang kurang mampu.

Kebahagiaan itu datang saat Pemerintah Nagari bersama Pemda Agam datang mengunjungi kediamannya di Simaruok, Jorong II Nagari Geragahan, Kecamatan Lubuk Basung, Minggu, (30/5/2021), kemarin.

Read More

Pj Walinagari Garagahan, Syafridameli mengungkapkan, 2 dari 4 orang anak pasangan Yulinar dan Saiful ini akan dibina di panti asuhan setempat. Hal ini sesuai perhitungan mengurangi biaya tanggungan keluarga serta keduanya bisa terus mendapat pendidikan lebih tinggi.

Sementara itu, untuk anak ketiga dan keempat tetap bersekolah di rumah dan pihaknya tetap berupaya mencarikan bantuan.

“Untuk yang nomor 3 dan 4 tetap sekolah di rumah dan kita akan tetap berupaya mencarikan bantuan,” katanya.

Selain mendapat kesempatan kembali duduk di bangku sekolah, Pemerintah Nagari juga akan berupaya mengupayakan keluarga ini untuk mendapat bantuan bedah rumah serta listrik sebagai penerangan.

“Saat ini kita sudah meminta untuk mempersiapkan syarat-syarat yang dibutuhkan seperti KK dan Surat kepemilikan tanah. Secepatnya akan kita ajukan ke Dinas Perkim atau BAZDA Agam,” ucapnya.

Sebelumnya, Aisyah Nurjanah merupakan anak kedua dari pasangan Shaiful (46) dengan Yulinar (37). Karena kondisi ekonomi 4 dari 6 anak pasutri tersebut putus sekolah karena tidak ada biaya.

Shaiful sebagai tulang punggung keluarga kesehariannya bekerja sebagai pengumpul batu dan pasir di aliran sungai Batang Kalundutan. Ia tidak memiliki penghasilan yang menentu. Hal tersebut tergantung pada besar kecilnya aliran sungai yang membentang daerah itu.

“Jika hujan deras, pasir dan batu akan hanyut dari hulu, ini saya kumpulkan dan dijual ke truck yang biasa membeli untuk material bangunan. Sudah hampir 2 bulan aliran sungai kecil jadi tidak bisa mengumpulkannya,” ujar Shaiful, saat ditemui MinangkabauNews.com dikediamannya, Selasa, (1/6/2021).

Selain itu, keluarga tersebut hanya tinggal disebuah gubuk semi permanen berdindingkan bambu yang dianyam dan berlantaikan papan yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Terlihat, dinding tersebut sudah mulai bolong karna dimakan masa dan ada sebagian telah ditambal seadanya.

Selain itu, rumah semi permanen tersebut belum dialiri listrik sehingga untuk penerangan di malam hari masih menggunakan lampu minyak.

“Saat ini belum bisa diperbaiki. Untuk kebutuhan sehari-haripun susah apalagi buat anak-anak sekolah,” ucap Yulinar pada MinangkabauNews.com.

Sebelumnya, keluarga kecil ini tinggal di Kota Medan dan bekerja sebagai penjual buah keliling. Namun tiga tahun terakhir memutuskan pulang karena orang tua sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia.

Sempat terbersit niat kembali kembali mengadu nasib ke rantau orang, namun kondisi sudah tidak lagi memungkinkan ditambah lagi lahirnya anak ke lima dan enam membuat keluarga mereka sulit untuk bergerak bebas.

Sebelumnya anak tertua Sherli Aulia Putri (11) sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 3 Sekolah dasar, namun sesampai di kampung halaman terpaksa menganggur.

“Sherli sempat menyambung sekolah di sini, namun sudah 2 tahun terakhir berhenti, seharusnya sekarang sudah kelas 5 SD, sementara 3 orang lainnya tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali,” ucap Yulinar sambil mengekar air mata.

Harapan satu-satunya saat ini seluruh anaknya bisa mendapatakan pendidikan yang layak, sehingga tidak bernasib sama seperti orang tua mereka. (JNS)

Related posts