Tangis Haru Pecah di Sholat Tarawih Terakhir: Jemaah Masjid Taqwa Gelar Silaturahim, Ramadhan Pamit

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Saat lantunan ayat suci Alquran mereda, takbir bergema sayu memenuhi ruang Masjid Taqwa Muhammadiyah. Udara malam itu terasa begitu berat. Bukan karena gerimis yang mengguyur Kota Padang, melainkan karena kesedihan yang nyata menggelayuti hati para jemaah. Hadir dalam silaturahim itu Bendahara Haji Amrizal, ustad Hendri Novigator, Imam Frista dan Habib.

Di penghujung malam ke-30 Ramadhan, Rabu (18/3) malam, pengurus Masjid Taqwa tak hanya menggelar sholat Isya dan Tarawih. Usai salam terakhir, suasana berubah menjadi forum silaturahim yang penuh haru. Raut wajah yang biasanya berseri karena ibadah, kali ini terlihat sayu. Air mata para jemaah pun tak terbendung.

Semua larut dalam kesedihan karena tahu bulan suci yang penuh berkah akan segera berangkat, meninggalkan kenangan dan kerinduan.

“Kita semua merasa berat melepas kepergian Ramadhan. Bulan ini adalah tamu agung yang mengajarkan kita kesabaran dan ketakwaan. Malam ini, kami ingin para jemaah bisa melepasnya dengan hati yang bersih dan saling memaafkan,” ujar Ketua Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar Ki Jal Atri Tanjung dengan suara bergetar, didampingi Bendahara Masjid, Haji Amrizal.

Momen yang paling mengharu biru terjadi ketika para pengurus dan jemaah saling bersalaman. Bukan sekadar jabat tangan biasa, tetapi sungkeman hangat yang diiringi isak tangis. Suara-suara paruh baya dan para orang tua terdengar saling meminta maaf, saling merangkul, seolah ingin mengunci semua kebaikan di bulan puasa sebelum benar-benar berakhir.

“Saya sudah tua, Ustad. Belum tentu ketemu Ramadhan tahun depan,” ucap seorang nenek dengan suara bergetar sambil memeluk erat pengurus masjid. Kalimat sederhana itu sontak membuat beberapa jemaah di sekitarnya ikut mengusap mata.

Haji Amrizal menambahkan, tradisi silaturahim di malam terakhir ini sengaja digelar untuk memperkuat ukhuwah. “Suasana haru ini wajar. Ini pertanda cinta kita kepada Ramadhan. Semoga air mata ini menjadi saksi bahwa kita benar-benar rindu dan ingin dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia,” imbuhnya.

Malam semakin larut, namun jamaah enggan beranjak. Masjid Taqwa yang biasanya hening setelah sholat, malam itu justru dipenuhi bisik doa dan kalimat maaf. Mereka seolah ingin memungut sisa-sisa keberkahan malam, seraya berharap Ramadhan tak benar-benar pergi dari hati.

Menjelang Perpisahan dengan Tamu Agung, Haru Biru Sambut Malam Terakhir Ramadhan di Masjid Taqwa.

Related posts