Tangis Haru Pecah saat Bantuan Tiba: Ibu-Ibu Korban Banjir Bandang Koto Tangah Kenang Keluarga yang Nyaris Diseret Banjir

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG – Suasana syahdu bercampur tangis haru menyelimuti rumah Ketua PCA Aisyiyah Koto Tangah Timur, Minggu (15/12/2025). Puluhan ibu dan anak korban banjir bandang yang meluluhlantakkan Kecamatan Koto Tangah berkumpul, menanti kedatangan bantuan sekaligus dukungan moral yang sangat mereka butuhkan di tengah duka yang masih membekas.

Hari itu, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Barat turun langsung menyalurkan bantuan kemanusiaan. Mereka tidak datang sendirian. Lazismu Sumbar, Toko Top 35 Bintuhan Kabupaten Kaur, dan Pagar Alam turut bergandeng tangan dalam misi kemanusiaan ini.

Sebanyak 50 paket pakaian baru untuk ibu dan anak dibagikan kepada para korban yang hadir. Namun, lebih dari sekadar bantuan material, kehadiran tim relawan membawa kehangatan yang sempat hilang ditelan bencana.

Acara penyaluran bantuan tidak hanya berhenti pada distribusi paket pakaian baru. Tim LLHPB PW Aisyiyah Sumbar yang memang berkonsentrasi pada kelompok rentan—lansia, ibu muda, dan balita—juga menyelenggarakan sesi trauma healing untuk para penyintas.

Di sinilah suasana berubah menjadi sangat emosional. Beberapa ibu mulai terisak ketika kenangan kelam itu kembali menghantui. Ada yang masih mencari barang perabotan yang hanyut arus banjir. Ada pula yang menemukan alat elektronik terbenam lumpur.

“Air sudah setinggi pohon kelapa, saya tidak anak dan suami saya dimana,” ucap salah seorang ibu dengan suara bergetar, air mata membasahi pipinya.

Cerita-cerita memilukan seperti ini terus bergulir sepanjang sesi trauma healing. Beberapa korban saling berpelukan, berbagi duka, dan menguatkan satu sama lain. Suasana yang syahdu itu seolah menjadi ruang aman bagi mereka untuk melepaskan beban emosional yang selama ini terpendam.

Ketua LLHPB Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Barat, Fitri Yulianis, MSi, menegaskan bahwa ini merupakan kunjungan kedua mereka ke lokasi bencana di Koto Tangah Timur. Fokus utama tetap pada pemenuhan kebutuhan khusus perempuan dan anak yang kerap terlupakan dalam situasi darurat bencana.

“Kami memahami bahwa perempuan dan anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Karena itu, kami hadir untuk memastikan kebutuhan mereka terpenuhi, baik secara fisik maupun psikologis,” ujar Fiyri Yulianis, SE, MSi dengan penuh empati.

Kolaborasi dengan Lazismu Sumbar, Toko Top 35 Bintuhan Kabupaten Kaur, dan Pagar Alam menunjukkan bagaimana solidaritas lintas organisasi dan daerah bisa menjadi kekuatan besar dalam merespons bencana.

Lokasi penyaluran bantuan dipilih di rumah Ketua PCA Koto Tangah Timur, yang kini memiliki makna sangat mendalam bagi para korban. Saat banjir bandang dan longsor melanda, rumah inilah yang menjadi tempat pengungsian darurat. Ketika yang lain kehilangan atap di atas kepala, rumah ini membuka pintu lebar-lebar.

Tak hanya sebagai tempat berteduh, rumah tersebut juga berubah fungsi menjadi dapur umum. Dari sinilah makanan disiapkan dan didistribusikan kepada pengungsi lain di lokasi-lokasi terdekat. Di tengah kehilangan dan kepanikan, rumah ini menjadi mercusuar harapan bagi puluhan keluarga yang kehilangan segalanya.

“Rumah ini seperti ibu bagi kami semua. Di saat kami tidak punya apa-apa, di sinilah kami dirangkul,” tutur salah seorang pengungsi dengan terharu.

Banjir bandang dan longsor yang melanda Kecamatan Koto Tangah bukan sekadar bencana alam biasa. Intensitas dan keganasannya meninggalkan trauma mendalam, baik fisik maupun psikologis. Puluhan rumah rusak, infrastruktur lumpuh, dan yang paling menyakitkan—nyawa-nyawa melayang dan hilang.

Lumpur yang menjadi ciri khas bencana ini menjadi mimpi buruk tersendiri. Konsistensinya yang kental dan lengket membuat proses evakuasi menjadi sangat sulit. Banyak korban yang terlambat diselamatkan karena terjebak dalam timbunan lumpur yang mengeras.

Hingga kini, tim SAR masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang masih dinyatakan hilang. Setiap hari, keluarga korban menunggu dengan harap-harap cemas, berharap keajaiban masih bisa terjadi.

Kehadiran LLHPB PW Aisyiyah Sumbar dan mitra-mitranya di tengah kesedihan para korban bukan sekadar formalitas. Ini adalah wujud nyata solidaritas kemanusiaan yang melampaui batas organisasi dan wilayah.

Dalam situasi seperti ini, bantuan material memang penting. Namun, kehadiran fisik, telinga yang mau mendengarkan, dan bahu untuk bersandar terkadang jauh lebih berarti. Dan itulah yang coba diberikan oleh tim relawan—kehadiran yang tulus di saat yang paling dibutuhkan.

“Kami tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang, tapi kami bisa berdiri bersama mereka. Itu yang paling kami bisa lakukan sekarang,” tutup Fitri Yulianis.

Sementara proses pemulihan masih panjang, kehadiran mereka yang peduli menjadi secercah cahaya di tengah kegelapan yang masih menyelimuti Koto Tangah Timur. Dan harapan itu akan terus dijaga, hingga kehidupan normal benar-benar bisa kembali.

Related posts