Tasawuf Muhammadiyah: Keseimbangan Dunia dan Akhirat

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PAYAKUMBUH – Pemahaman dan praktik tasawuf dalam Muhammadiyah memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan tasawuf yang lazim dipahami oleh umat Islam pada umumnya. Tasawuf Muhammadiyah tidak dilakukan melalui kontemplasi mendalam atau aktivitas zikir yang melibatkan kehanyutan spiritual semata.

Hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh, Dr. Irwandi Nashir, dalam Pengajian At-Tanwir di Masjid Godang, Nagari Koto Nan Gadang, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh, Sabtu (25/1/2025).

Menurut Dr. Irwandi, tasawuf Muhammadiyah tidak menekankan pada penghindaran dunia atau fokus berlebihan pada kehidupan akhirat. “Tasawuf Muhammadiyah adalah bagaimana menggunakan anugerah Allah Ta’ala untuk bekal akhirat, sembari tetap aktif mengelola kehidupan dunia,” ungkapnya, merujuk pada Surah Al-Qashash ayat 77 yang menekankan pentingnya keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tasawuf Muhammadiyah bukan sekadar mengejar maqam spiritual tertentu, seperti dalam tarekat, melainkan bagaimana hasil duniawi yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah Islam. Hal ini diwujudkan melalui berbagai amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang bertujuan untuk memberikan manfaat luas bagi umat.

“Sebagaimana konsep manusia ideal dalam Muhammadiyah, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.

Untuk menggambarkan sosok ideal tersebut, Dr. Irwandi sering merujuk pada teladan Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah yang kaya raya namun tetap menjalani hidup penuh ketaatan dan kepedulian terhadap umat. Harta kekayaannya tidak membuatnya lalai, melainkan digunakan untuk memperjuangkan Islam. Ia juga menyebutkan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai contoh lain, seorang sahabat yang menggunakan hampir seluruh hidupnya untuk memikirkan umat tanpa melupakan kebutuhan pribadinya.

Irwandi mengajak warga Muhammadiyah untuk menjadi model teladan muslim yang taat beribadah, tetapi tidak melupakan tanggung jawab terhadap urusan dunia. “Tasawuf Muhammadiyah menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat, dengan orientasi pada keridhaan Allah Ta’ala sebagai tujuan utama, menggunakan perangkat dunia yang dimiliki untuk meraih tujuan tersebut,” jelasnya.

Dengan pendekatan ini, Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari hubungan dengan Allah, tetapi juga dari kontribusi nyata kepada masyarakat.

Related posts