Tegas! MUI Sumbar Ingatkan pemangku kepentingan dalam Pemilu agar Menghindari Segala Bentuk Penyimpangan Hukum dan Etika yang Tidak Sesuai dengan ABS-SBK, Ini Isi Tausiyah Lengkapnya

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar mengeluarkan pernyataan sikap dalam menyikapi pemilu. Untuk itu, pengurus MUI Sumbar Ingatkan Seluruh Pihak kembali dalam Kebenaran dalam menyikapi pemilu 2024.

Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar,LC mengingatkan ulama agar tidak terjebak untuk meneriakkan dan menyampaikan berbagai pernyataan atas nama apapun bila berakibat kepada mentolerir pemilu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kehidupan bernegara.

Read More

Adapun isi tausiyah keummatan MUI Sumbar sebagai berikut: Menyikapi perkembangan yang terjadi setelah pemberian hak suara pada Pemilu tgl 14 Februari 2024, maka MUI Sumatera Barat menyampaikan taushiyah sebagai berikut:

1. Ulama di MUI Sumatera Barat memandang bahwa pemilu tahun 2024 belum selesai karena masih menyisakan proses yang juga harus dicermati oleh para ulama. Banyak informasi yang tersebar diberbagai media tentang kecurangan pemilu dan berbagai kekeliruan dalam penyelenggaraan. Bila benar terjadi kecurangan dan pengkhianatan terhadap rakyat, maka sudah menjadi tugas ulama untuk mengingatkan seluruh pihak yang terlibat agar kembali kepada yang benar (haq). Jangan sampai ulama terjebak untuk meneriakkan dan menyampaikan berbagai pernyataan atas nama apapun bila berakibat kepada mentolerir pemilu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan dalam kehidupan bernegara.

2. MUI Sumatera Barat sebagai representasi umat Islam di Sumatera Barat berkewajiban menjaga dan memelihara persatuan umat dalam rangka menjaga keutuhan NKRI. Oleh karena itu kami menghimbau kepada semua elemen bangsa, termasuk politisi, agar segera menghentikan narasi-narasi yang berpotensi memecah belah umat dan menjauhkan mereka dari ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari semisal tuduhan tentang “politik identitas” dan sebagainya. Karena keyakinan agama mautak mau, setuju atau tidak, akan membentuk sebuah identitas yang harus dipertahankan olehpemeluknya.

3. MUI Sumatera Barat bersikap kooperatif dan akomodatif dalam menyukseskan Pemilu yang bersih dan bermartabat. Namun dalam fungsinya sebagai penjaga aqidah dan moral umat, MUI Sumatera Barat punya kewajiban untuk mengingatkan semua komponen dan pemangku kepentingan dalam Pemilu agar menghindari segala bentuk penyimpangan terhadap norma-norma hukum dan etika sesuai dengan falsafah Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah .

4. Berkembangnya tuduhan-tuduhan politisasi agama di Sumatera Barat, tidak boleh dibiarkan begitu sajakarena bisa mengarah kepada sekularisasi dan mendiskreditkan masyarakat Sumatera Barat yang mayoritas orang Minangkabau. Ulama menolak tuduhan-tuduhan negatif yang dilontarkan olehberbagai pihak bahkan politisi Sumatera Barat sendiri bahwa telah terjadi politisasi agama dan politik identitas. Ulama MUI Sumatera Barat menjelaskan kepada seluruh pihak bahwa masyarakat harus menjalankan politik beragama, dalam hal ini di Sumbar berlaku ketentuan yang telah disepakati untukdipakai dalam seluruh aspek kehidupan termasuk politik, yaitu “syara’ mangato, adaik mamakai”

5. Bila memakai petunjuk “adaik” yang merupakan implemantasi dari syara’, dituduh sebagai politisasiagama dan politik identitas, maka nilai apakah yang diinginkan si penuduh untuk dipakai oleh masyarakat ? Inilah yang dipandang oleh Ulama di MUI Sumbar sebagai penggiringan umat agarmenjauh dari nilai-nilai mendasar dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

MUI Sumbar menghimbau seluruh pihak untuk berdiri dengan kebenaran dalam segala hal seperti yang diperintahkan oleh Allah swt;

اَهُّيَأََٰٓي َنيِذ اوُنوُكَٱ اوُنَماَء ٱ اوُقذت ٱٱَذَيِقِدَّٰذَّلصلَعَم ّللو

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”.

6. MUI Sumatera Barat menghimbau agar menjaga persatuan yang dibangun di atas kejujuran dankeadilan. Jangan sampai ada pihak-pihak yang mentolelir kebohongan dan pengkhianatan dengan memperalat jargon persatuan dan perdamaian karena Allah swt melarang siapapun untuk membelapara pengkhianat ;

زنَأرَأ هُذ اَنقَن اذنِإكنَٱتِكنلٱ ٱ ٱ َخنلِ ل اَمِبَيِنِئ اَۡلَمُكنحَِنُكَتۡلَس ا ذۡللَََلِإ بََِّٰلَن ِ َكَّٰىَاٗصَخ َي َب ّللِ بو ميِِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,

7. Kepada MUI Kabupaten/Kota se-Sumatera Barat agar menyampaikan taushiyah ini kepada umat dan aktif menolak setiap bentuk narasi serta sikap yang berusaha menyingkirkan peran syari’at dari kehidupan umat. Tetaplah istiqamah dalam mengokohkan panduan bai’at masyarakat Minangkabau yaitu “syara’ mangato, adaik mamakai” walau seberat apapun tantangan yang dihadapi, sebagaimana yang diperingatkan oleh Allah swt dalam Surat al-Maidah ayat 100;
ل وُأََٰٓي ذجنعَأبنلَن نمُكذلَعَلثيِبَن ثي ِبَنلُقٱٱ اوُقذت نوَلَُةَنۡثَك ٱ ٱٱٱۡل َذَُنوُحِلنفُتل ۡلبِ يذۡلَفُطليِوَتنسَي َكَبََََّّٰلل بووِ ِِ

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk denganyang baik, meskipun banyaknyayang buruk itu menarik hatimu,maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal,agar kamu mendapat keberuntungan”.

Demikian taushiyah ini kami sampaikan semoga menjadi perhatian. Wallahu a’lamهللا الوكيل املوىل النصريحسبنا ونعم نعم ونعم

Padang, 10 Syaban 1445 H/ 20 Februari 2024 M
Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia provinsi Sumatera Barat
Ketum MUI Sumbar
dto
Buya Dr. Gusrizal Gazahar, LC
Sekum MUI Sumbar
dto
Dr. Zulfan


Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Minangkabaunews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Related posts