TEROR BUAYA di AIR BANGIS: Anak-Anak Tak Berani Mandi Lagi, Advokat Putra Daerah Turun Tangan Desak Pemerintah!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PASAMAN BARAT – Suara tawa riang anak-anak yang biasa terdengar di pinggir Sungai Air Bangis kini telah lenyap, digantikan oleh keheningan mencekam. Pantai yang dulunya menjadi surga bermain bagi warga kini menjadi tempat yang ditakuti. Bukan karena polusi atau sampah, melainkan karena kehadiran predator ganas yang terus mengintai dari balik air: buaya.

Bayangkan, setiap hari masyarakat Air Bangis harus hidup dalam ketakutan. Setiap kali anak-anak ingin bermain air, orangtua harus was-was. Setiap kali nelayan hendak mencari nafkah, mereka harus berpikir dua kali. Bahaya tidak lagi datang dari ombak atau cuaca buruk, tetapi dari sepasang mata dingin yang mengintai dari permukaan air.

Krisis Kemanusiaan yang Terabaikan

Kelompok Sadar Lingkungan (POKDARLING) Kampung Padang Air Bangis akhirnya angkat bicara. Dalam surat pengaduan yang mencuat ke permukaan, mereka menggambarkan situasi yang sudah tidak bisa diabaikan lagi. Bukan hanya satu atau dua insiden – korban luka-luka terus berjatuhan. Yang paling menyayat hati? Anak-anak yang seharusnya bisa bermain dengan bebas di sungai dan pantai kini menjadi sasaran empuk serangan buaya.

“Ini bukan lagi soal satwa dilindungi atau tidak,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. “Ini soal keselamatan nyawa manusia. Kami tidak bisa terus hidup dalam ketakutan seperti ini.”

Masyarakat Air Bangis bukan menolak keberadaan buaya sebagai bagian dari ekosistem. Mereka hanya menginginkan solusi yang adil – solusi yang melindungi manusia sekaligus menghormati keberadaan satwa tersebut.

Putra Daerah Angkat Suara

Di tengah keresahan yang kian memuncak, seorang putra daerah tampil ke depan. Advokat Ki Jal Atri Tanjung, yang kini berdomisili di Kota Padang, tidak bisa tinggal diam melihat kampung halamannya dilanda ketakutan. Sebagai profesional hukum sekaligus anak Air Bangis yang peduli, ia memutuskan untuk menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah.

“Saya tidak bisa diam ketika saudara-saudara saya di kampung halaman hidup dalam kecemasan setiap hari,” tegas Ki Jal Atri Tanjung. “Ini adalah tanggung jawab kita bersama – pemerintah nagari, pemerintah daerah Pasaman Barat, hingga pemerintah Sumatera Barat – untuk segera bertindak.”

Dalam himbauan resminya, advokat yang dikenal vokal membela kepentingan masyarakat ini menekankan bahwa solusi yang dicari harus berkeadilan dan berkemanusiaan. Bukan sekadar menjerat atau membunuh buaya, tetapi menciptakan sistem yang memungkinkan manusia dan satwa hidup berdampingan dengan aman.

Lima Solusi Konkret yang Bisa Langsung Diterapkan

Ki Jal Atri Tanjung tidak hanya mengkritik, ia juga datang dengan solusi nyata. Berdasarkan kajian dan diskusi dengan berbagai pihak, ada lima langkah konkret yang bisa segera diimplementasikan:

Pertama, penangkaran buaya profesional.** Ini bukan sekadar kandang biasa, tetapi fasilitas yang terstandar dan bisa menjadi solusi jangka panjang. Bayangkan: buaya-buaya yang sebelumnya mengancam di alam liar kini dikelola dalam penangkaran yang aman. Bukan hanya menyelesaikan masalah, penangkaran ini bahkan bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat Air Bangis melalui wisata edukasi. Siapa sangka, ancaman bisa berubah menjadi berkah ekonomi?

Kedua, pemasangan sistem peringatan dini. Papan himbauan yang strategis di titik-titik rawan bukan hanya sekedar formalitas. Ini adalah garis pertahanan pertama yang menyelamatkan nyawa. Informasi yang jelas tentang zona berbahaya, cara mengidentifikasi keberadaan buaya, dan langkah-langkah darurat saat terjadi serangan bisa membuat perbedaan antara hidup dan mati.

Ketiga, program edukasi masif. Pengetahuan adalah kekuatan. Masyarakat Air Bangis perlu memahami perilaku buaya – kapan mereka aktif, di mana mereka berburu, bagaimana menghindari konfrontasi. Dengan pemahaman yang tepat, risiko serangan bisa diminimalkan tanpa harus mengorbankan aktivitas sehari-hari masyarakat.

Keempat, kolaborasi dengan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam). Ini adalah kunci utama. BKSDA memiliki keahlian dan kewenangan dalam penanganan satwa liar. Mereka bisa membantu identifikasi buaya bermasalah, melakukan penangkapan yang aman dan manusiawi, serta mengelola relokasi atau penangkaran. Tanpa keterlibatan BKSDA, upaya apapun hanya akan setengah hati.

Kelima, pembangunan kawasan konservasi terpadu. Ini adalah solusi paling visioner. Kawasan konservasi yang dirancang dengan baik tidak hanya melindungi buaya sebagai bagian dari keanekaragaman hayati, tetapi juga menciptakan zona aman bagi masyarakat. Dengan perencanaan matang, kawasan ini bahkan bisa menjadi destinasi ekowisata yang mendatangkan manfaat ekonomi berkelanjutan.

Urgensitas yang Tidak Bisa Ditunda

Setiap hari yang berlalu tanpa aksi nyata adalah hari lain di mana masyarakat Air Bangis hidup dalam ketakutan. Setiap hari adalah potensi korban baru. Ini bukan lagi soal kebijakan yang bisa dibahas berbulan-bulan dalam rapat. Ini adalah krisis kemanusiaan yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.

Pemerintah Nagari Air Bangis, Pemerintah Daerah Pasaman Barat, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kini berada di persimpangan. Di satu sisi, mereka harus melindungi satwa yang dilindungi. Di sisi lain, keselamatan rakyat adalah prioritas utama. Namun, kedua tujuan ini tidak harus bertentangan.

“Kita tidak meminta pemerintah untuk memusnahkan semua buaya,” jelas Ki Jal Atri Tanjung. “Kita meminta solusi yang cerdas, yang melindungi kedua belah pihak. Ini bisa dilakukan jika ada political will dan koordinasi yang baik.”

Harapan di Tengah Kegelapan

Masyarakat Air Bangis tidak meminta yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin bisa hidup normal kembali. Mereka ingin anak-anak mereka bisa bermain air tanpa harus dibayangi ketakutan. Mereka ingin nelayan bisa mencari nafkah dengan tenang. Mereka ingin tidur nyenyak tanpa mimpi buruk tentang serangan buaya.

Dengan lima solusi konkret yang telah dipaparkan, jalan keluar sudah ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen, koordinasi, dan aksi nyata. POKDARLING telah menyuarakan aspirasi. Advokat Ki Jal Atri Tanjung telah menjembatani dengan pemerintah. Sekarang giliran para pemangku kebijakan untuk membuktikan bahwa mereka peduli.

Air Bangis berhak untuk kembali menjadi tempat yang aman dan nyaman. Masyarakatnya berhak untuk hidup tanpa kecemasan yang terus-menerus mengganggu ketertiban dan keamanan. Buaya berhak untuk tetap eksis sebagai bagian dari ekosistem, tetapi dalam tatanan yang terkelola dengan baik.

Waktu terus berjalan. Setiap detik adalah kesempatan untuk bertindak. Dan setiap tindakan hari ini adalah investasi untuk masa depan Air Bangis yang lebih aman dan sejahtera.

Pertanyaannya sekarang: Akankah pemerintah mendengar dan bertindak sebelum terlambat?

Untuk informasi lebih lanjut atau melaporkan insiden terkait serangan buaya, masyarakat dapat menghubungi POKDARLING Kampung Padang Air Bangis atau langsung berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan BKSDA Sumatera Barat.

Related posts