MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Sebuah diskusi panas mewarnai malam di Padang, menguak potensi kolaborasi tak terduga antara mahasiswa dan partai politik untuk mengawal pembangunan Sumatera Barat. Liga Mahasiswa NasDem Sumbar, melalui acara “Sudut Pandang”, menjadi epicentrum pertukaran gagasan yang blak-blakan antara aktivis kampus, politisi, dan praktisi.
Budi Ramadhon, Ketua Liga Mahasiswa NasDem Sumbar, membuka percakapan dengan menyatakan terang-terangan peran organisasinya. “Sejak 14 tahun lalu, kami hadir untuk jujur pada peran. Kami adalah sayap partai dan tulang punggung perjuangan NasDem. Tidak ada munafik dalam perjuangan kami,” tegasnya, menegaskan posisinya tanpa tedeng aling-aling.
Namun, di tengah semangat kolaborasi, muncul suara kritis dari Dodi Irwansyah, Presiden Mahasiswa Universitas Andalas. Ia mengingatkan pentingnya menjaga batas yang jelas. “Ini kolaborasi, bukan peleburan. Tugas kami di kampus adalah mengawal dan mengingatkan lewat demonstrasi dan kritik, memastikan kebijakan tak lepas dari kepentingan rakyat,” ujarnya, menegaskan peran mahasiswa sebagai kontrol sosial.
Dialog semakin memanas ketika senior jurnalis, Two Efly, membeberkan fakta mencengangkan tentang kondisi ekonomi Sumbar. “Kita sedang terpuruk! Peringkat 34 dari 38 provinsi untuk pertumbuhan ekonomi, dengan inflasi tertinggi keempat nasional. Ini adalah kondisi terburuk dalam sejarah Sumbar,” paparnya. Ia lantas menyoroti potensi mahasiswa sebagai motor ekonomi. “Dengan 300 ribu mahasiswa, uang yang berputar di Padang bisa mencapai Rp270 miliar per bulan. Memperbaiki pendidikan sama dengan menyelamatkan perekonomian kota,” tandasnya.
Menanggapi hal ini, Nand Satria dari DPW NasDem Sumbar justru membuka lebar pintu untuk kritik. “Kami butuh kritik dan dorongan dari mahasiswa. Jangan sungkan mengkritik kami! Pendidikan politik yang kami lakukan bukan semata untuk pemilu, tapi untuk membangun Sumbar,” serunya.
Dukungan juga datang dari pucuk pimpinan. Fadly Amran, Wali Kota Padang yang juga Ketua DPW NasDem Sumbar, melihat forum ini sebagai jembatan emas. “Kritik dan masukan sangat kami butuhkan. Kami ingin mahasiswa melihat politik bukan sebagai ruang yang menyeramkan, tapi sebagai kanal nyata untuk menciptakan perubahan,” ajaknya, mengundang generasi muda untuk turun tangan langsung dalam percaturan kebijakan.
Acara yang penuh gelora ini mengakhiri malamnya dengan sebuah kesadaran: meski dengan peran dan caranya masing-masing, sinergi antara semangat kritis mahasiswa dan jalur formal partai politik bisa menjadi kekuatan dahsyat untuk restorasi Sumbar. Sebuah babak baru kolaborasi telah dimulai.






