Tidak Lagi Covid-19, Inilah Ancaman Menakutkankan Versi Moody’s

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA — Lembaga internasional Moody’s mengungkapkan ancaman baru bagi perekonomian Global. Bukan lagi Covid-19 melainkan perang antara Rusia-Ukraina.

Hal ini tercermin dari dampak ketegangan kedua negara tersebut yang membuat harga komoditas global melonjak. Ini disebabkan rantai pasok yang terganggu sehingga terjadi kelangkaan dan harga mencapai titik tertinggi.

“Risiko terbesar yang dihadapi rantai pasokan global telah bergeser dari pandemi ke konflik militer Rusia-Ukraina dan ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang telah diciptakannya,” tulis ekonom Moody’s Analytics, Tim Uy dalam sebuah laporan yang dikutip dari CNN, Minggu (6/3/2022).
Baca: Fitch & Moody’s Sematkan Rating Utang Rusia Sebagai ‘Sampah’

Sebagai informasi, Rusia adalah produsen utama untuk komoditas minyak dan gas (migas) atau energi, gandumg dan paladium. Kemudian Ukraina adalah pengekspor utama gandum.

Sehingga ketegangan kedua negara menyebabkan ketersedian akan komoditas tersebut mulai terganggu dan memberikan dampak besar bagi banyak negara di dunia.

Oleh karenanya, Moody’s melihat bahwa perang antara kedua negara yang terus berlanjut akan makin memperburuk keadaan terutama bagi industri yang bergantung pada sumber daya energi.

Salah satunya adalah Eropa yang paling merasakan lonjakan dari harga energi karena bergantung pada Rusia untuk penyediaan minyaknya.

Konflik Rusia-Ukraina memberikan dampak kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara sehingga biaya hidup masyarakat ikut naik. Begitu juga biaya modal bagi perusahaan maskapai karena kenaikan harga bahan bakarnya.

Lanjut Moody’s, konflik kedua negara ini juga dapat menambah tekanan pada industri komputer karena kekurangan chip. Sebab, Ukraina memproduksi 70% neon dunia, gas yang digunakan dalam pembuatan chip komputer.

Begitu juga dengan harga mobil yang akan ikut naik. Sebab, Rusia juga memasok 40% untuk kebutuhan paladium dunia. Dimana ini merupakan sumber daya utama yang digunakan dalam produksi semikonduktor.

“Kita dapat memperkirakan kekurangan chip global akan memburuk jika konflik militer berlanjut,” pungkas Uy.

Related posts