Tradisi ‘Batagak Kudo-Kudo’ di Sumatera Barat, Apa Itu?

  • Whatsapp
Batagak Kudo Kudo
Batagak Kudo Kudo (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Tiara Eliza

Batagak kudo-kudo ialah tradisi gotong royong dalam membangun sebuah rumah dalam masyarakat Padang Pariaman, Sumatera barat. Tradisi ini telah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu dan masih diteruskan hingga saat ini. Bukan hanya sekedar membangun rumah saja, tetapi juga untuk mendirikan rumah gadang, mesjid dan lain sebagainya.

Read More

Pada saat acara, masyarakat akan diundang dalam kegiatan ini dan masyarakat yang diundang akan membawa atau mempersiapkan hadiah untuk tuan rumah. Hadiah yang akan diberikan biasanya berupa bahan-bahan material bangunan dan bisa juga dalam bentuk uang jika ia tidak bisa menghadiri acara tersebut atau ia sedang di perantauan.

Sebelum acara dimulai ada kegiatan yang harus dilakukan terlebih dahulu yaitu mufakat awal, mufakat akan dilakukan oleh orang yang sekaum. Mufakat akan membicarakan dimana letak rumah yang tepat untuk dibangun, ukurannya, serta kapan waktu acara atau pengerjaannya dilakukan. Hasil dari mufakat tersebut akan disampaikan oleh penghulu suku, lalu penghulu suku akan menyampaikan kepada penghulu suku lainnya.

Selanjutnya maelo kayu merupakan mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan. Umumnya kayu-kayu, penebangan dan pemotongan akan dilakukan secara bergotong royong. Akan tetapi, pada saat ini tradisi itu telah mulai kian berkurang atau jarang sekali kita bisa menemukan kegiatan tersebut.

Kayu yang akan dijadikan tiang akan direndam terlebih dahulu di dalam lumpur, tapi ada juga yang merendam kayunya ke dalam parit dan dibiarkan begitu saja selama bertahun-tahun atau bisa juga kayu dioleskan dengan minyak solar dan kayu ditutup oleh terpal. Tujuannya supaya kayu tidak mudah lapuk atau dimakan oleh rayap.

Kemudian mancatak tiang tui, bahan-bahan bangunan yang sudah ada akan diolah oleh masyarakat atau para tukang untuk digunakan dalam batagak kudo tersebut. Batagak tiang atau menegakkan tiang-tiang secara gotong royong didirikan untuk menyangga rumah, setelah tiang-tiang ditegakkan maka para tukang akan mulai menyusun batu bata dan memulai pembangunannya atau biasa disebut dengan kudo-kudo.

Lalu upacara terakhir dilakukan batagak kudo-kudo yakni manaiki rumah, kegiatan ini dilakukan setelah rumah telah dibangun, acara ini akan menjamu para undangan dan berdoa bersama sebagai petanda ucapan rasa terima kasih kepada semua masyarakat dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Dengan batagak kudo-kudo ini pembangunan akan lebih cepat selesai dan mempererat tali silaturahmi sesama masyarakat, rasa kekeluargaan yang dimiliki oleh masyarakat sekitar untuk bergotong royong dalam pengerjaan dan dana untuk pembangunannya.

Tetapi untuk saat ini batagak kudo-kudo hanya sekedar menggelar acara baralek atau pesta, rumah telah selesai dibangun oleh tuan rumah hanya meninggalkan bagian atapnya saja. Jadi mereka akan mengadakan acara batagak kudo-kudo dengan maksud menyelesaikan rumah mereka. Acara ini akan digelar sehari. Tuan rumah akan mengundang banyak orang untuk menghadiri acara tersebut.

Para undangan akan berdatangan dengan membawa sejumlah seng untuk diberikan kepada tuan rumah atau bisa juga diganti dengan sejumlah uang.

/* Penulis adalah Mahasiswi Universitas Andalas

Related posts