Tradisi Japuik Laki-Laki di Pariaman, Sumatra Barat

  • Whatsapp

Oleh : Santika Ramadhani

Menurut alam pikiran orang Minangkabau, perkawinan yang paling ideal ialah perkawinan antara keluarga dekat, seperti perkawinan antara anak kemenakan. Perkawinan demikian lazim disebut sebagai pulang ke mamak atau pulang ke bako. Pulang ke mamak berarti mengawini anak mamak, sedangkan pulang ke bako ialah mengawini kemenakan ayah. (Navis, A.A, 1986). Disini dapat dilihat bahwa perkawinan yang ideal itu antara keluarga dekat. Dimana sangat dianjurkan karena bertujuan untuk menghindari dampak negatif pembagian harta pusaka. Perkawinan antara mamak dan kemenakan bagian dari manifestasi mamangan “ Anak dipangku kemenakan dibimbing.”

Read More

Suatu istilah yang ada dan selalu melekat dengan prosesi perkawinan khas Pariaman. Yaitu tradisi bajapuik atau japuik dipandang sebagai kewajiban pihak keluarga perempuan memberi sejumlah barang atau uang kepada laki-laki (calon suami) sebelum akad nikah dilakukan. Pemberian ini dikenal dengan uang japuik. Di berbagai nagari, terutama di daerah pantai barat, dikenal uang jemputan yang berupa uang atau benda lain yang diberikan kerabat perempuan kepada kerabat laki-laki. Sistem uang jemputan dilakukan terhadap laki-laki yang bermartabat tinggi yang ditandai mempunyai gelar turunan seperti Sidi, Bagindo,dan Sutan. Besar kecilnya uang jemputan yang diberikan kerabat perempuan kepada laki-laki dilihat dari sebarapa tinggi atau rendahnya martabat dan tingkat gelar yang ia miliki. Semakin tinggi gelar atau martabat yang ia miliki maka akan semakin tinggi uang jemputan yang ia terima dan begitu juga sebaliknya.

Dapat simpulkan bahwa japuik laki-laki di Pariaman adalah tradisi yang sudah ada sejak dahulu yang terjadi secara turun temurun, dimana pihak keluarga perempuan memberikan sejumlah uang ataupun benda lainnya kepada pihak laki-laki. Tinggi rendahnya uang jemputan yang diberikan dapat dilihat dari tingkat pendidikan,penghasilan dan gelar yang ia punya.

Pariaman adalah satu-satunya daerah yang menggunakan tradisi japuik. Tidak ada daerah lain yang melaksanakan tradisi itu yang mana tradisi ini masih terjaga dengan baik dan bahkan sampai sakarang tetap dipakai dan digunakan oleh masyarakat Pariaman. Tentu saja ada hal yang mempengaruhi mengapa tradisi itu masih dipakai. Terutama sekarang ,dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun banyak masyarakat yang menyalahartikan tradisi japuik tersebut. Mereka mengganggap bahwa japuik laki-laki bertujuan untuk merendahkan dan menjatuhkan harga diri laki-laki. Ini menjadi hal menarik sekali untuk dibahas. Tradisi japuik laki-laki yang ada di Pariaman dan mengapa hanya daerah Pariaman saja yang menggunakan tradisi iti. Hal inilah yang akan dibahas diartikel ini, apa sebenarnya tujuan dan mengapa tradisi tersebut masih dipakai sampai sekarang.

Sejarah Japuik Laki-Laki di Pariaman
Adat memberikan uang jemputan pada masa dahulu hampir merata diseluruh Minangkabau. Nilainya sampai sekitar 50 gram emas murni. Kini masih berlaku di wilayah pantai barat, terutama di seluruh kabupaten Padang Pariaman dan oleh penduduk asli kota Padang sekarang. Jika pada masa lalu di kedua daerah itu uang jemputan itu dilakukan bagi orang yang mempunyai darah bangsawan, maka kini telah bergeser kepada setiap pemuda penduduk asli yang mempunyai gelar kesarjanaan. Yang paling tinggi nilainya ialah para sarjana yang diharapkan akan banyak menghasilkan uang seperti dokter dan insinyur teknik. Besarnya uang jemputan itu bukan lagi dinilai dengan emas melainkan kendaraan dan motor, paling rendah senilai sebuah sekuter. Uang jemputan bukan diuntukkan bagi pengantin laki-laki yang dijemput, melainkan untuk ibunya. Disamping uang jemputan, pihak keluarga laki-laki masih juga mengkehendaki uang dapur yaitu untuk biaya perhelatan.

Pada mulanya tradisi bajapuik laki-laki hanya dilakukan dan dilaksanakan oleh kaum bangsawan, namun nyatanya pada saat sekarang ini tradisi tersebut sudah dilaksanakan oleh semua kaum yang ada di daerah Pariaman. Serta pada zaman dahulu bentuk dari uang jemputan bukanlah berupa uang tetapi berupa emas murni 50 gram. Tinggi rendahnya uang jemputan yang diperoleh dapat didasarkan pada tingkat pendidikan dan pendapatan laki-laki. Penetapan uang japuik biasanya ditetapkan dalam acara sebelum perkawinan, biasanya mamak (paman dari pihak ibu) akan bertanya pada calon anak daro, apakah benar-benar siap menikah, karena biaya baralek (pesta) beserta isinya termasuk uang japuik akan disiapkan oleh keluarga wanita.

Pada zaman sekarang ini sudah banyak terjadi pergeseran dan perubahan dari bentuk pemberian japuik laki-laki yang ada di Minangkabau, tidak sesuai lagi dengan yang seharusnya dan yang semestinya. Uang japuik pada umumnya dalam wujud benda yang bernilai ekonomis. Dan dalam perjalanannya uang japuik mengalami perubahan mulai dari model sampai dengan wujud
.
Falsafat adat Minangkabau, bahwa Adat Basandi Syara, Syarak Basandi Kitabullah sudah menggambarkan adanya keselarasan, adanya hukum islam dengan Adat Minangkabau. Apabila diqiyaskan dengan khitbah, tradisi uang japuik dibolehkan dalam hukum islam. Ini adalah salah satu alasan mengapa tradisi japuik masih dipakai dalam masyarakat di Pariaman, karena mereka mengganggap tradisi itu tidak melanggar hukum adat dan agama jadi mengapa harus ditinggalkan

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts