Tradisi Makan Bajamba, Ada Nilai Moral di Dalamnya

  • Whatsapp

Oleh : Santika Ramadhani

Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai keanekaragaman. Mulai dari tradisi , kesenian, wisata, makanan daerah serta masih banyak lagi lainnya. Terfokus ke Sumatera Barat merupakan Provinsi di Indonesia terletak di pulau Sumatra dengan Padang sebagai Ibu Kotanya. Provinsi Sumatra Barat terletak sepanjang pesisir barat Sumatra bagian tengah, dataran tinggi Bukit Barisan di sebelah timur, dan sejumlah pulau di lepas pantainya seperti Kepulauan Mentawai.

Read More

Di Sumatera Barat ada salah satu tradisi yang sangat menarik dan populer dikalangan masyarakat. Di dalam bahasa Indonesia namanya makan bersama , sedangkan di masyarakat Minangkabau disebut sebagai makan Bajamba. Masyarakat Minang terkenal dengan makan menggunakan tangan kosong , jarang yang memakai alat bantu sendok untuk makan. Hal ini dianggap karena dengan makan menggunakan tangan kosong lebih nikmat dan memiliki sensasi yang berbeda pada saat makan berbeda apabila menggunakan alat bantu makan. Makan dengan tangan kosong dianggap lebih cepat karena makanan yang masuk kemulut lebih banyak kapasitasnya. Pada saat memakan lauknya pun lebih mudah,

Sebelum melakukan makan Bajamba biasanya dilakukan Pembukaan dengan pembacaan pantun- pantun dan surat Al Qur’an. Bukan hanya sekedar makan biasa yang tidak menjunjung tinggi nilai agama. Didalam makan Bajamba ini selalu mengutamakan nilai agama , dengan cara sebelum makan melakukan baca Al Quran serta dilanjutkan dengan berbalas pantun. Ini merupakan suatu nilai yang dapat diambil dari makan Bajamba. Bukan hanya sekedar langsung makan. Tapi memiliki makna untuk selalu bersyukur atas apa yang dimakan dan nikmat yang sudah diberikan Allah. Bersyukur dan berdoa sebelum makan kepada Allah SWT.

Makan Bajamba ini merupakan suatu tradisi makan bersama yang dilakukan dengan cara beberapa orang duduk dilantai biasanya berjumlah tiga sampai 7 orang dengan posisi melingkar didalam atau suatu tempat tertentu. Makanan yang tersedia pada saat makan Bajamba ini bervariasi dan banyak ragamnya. Hidangan disuguhkan dengan loyang atau nampan yang berukuran besar. Lauk pauk disajikan dengan dicampur dan dimakan bersama sama. Lauk pauknya beranekaragam. Tentu makanan yang disajikan adalah makanan khas Sumatera Barat yaitu berupa Rendang daging , asam pangek padeh , gulai ayam , perkedel , Kalio ayam dan berbagai makanan khas lainnya.

Di dalam makan Bajamba memiliki tata cara dan adabnya tertentu. Ini merupakan ciri khas makan bersama di Minangkabau. Pada saat makan , nasi hanya di ambil sesuap saja dengan menggunakan tangan kanan lalu ditambahkan sedikit lauk . Selanjutnya nasi dimasukkan kedalam mulut dengan cara dilempar dengan jarak yang dekat. Pada saat tangan kanan menyuap nasi , tangan kiri menadah dibawah untuk menghindari apabila ada makanan yang tercecer dan tidak berserakan.

Apabila ada nasi yang jatuh ditangan kiri dipindahkan ke tangan kanan dan dimasukkan lagi ke mulut dengan cara yang sama . Ini dilakukan hingga semua makanan yang disediakan habis. Makanan yang disediakan pun wajib untuk dihabiskan secara bersama tidak boleh ada sisa. Bukan hanya soal cara makan saja yang diperhatikan. Tetapi cara duduk pun sudah ada aturannya. Bagi perempuan makan dengan posisi yang tegap dengan cara basimpuah tidak boleh membungkuk. Bagi laki- laki posisinya harus bersila. Tata cara duduk yang seperti itu juga merupakan ciri khas yang di miliki Minangkabau.

Namun saat ini juga sudah minim dan hampir memudar penggunaannya. Padahal kalau dikaji lagi lebih dalam, tata cara seperti ini sudah benar adanya. Dan juga sudah pantas untuk selalu dilestarikan. Duduk basimpuah bagi perempuan itu bertujuan agar aurat perempuan tidak terlihat dan tertutup dengan baik. Perempuan juga akan tampak lebih elegan apabila duduk dengan basimpuah. Bukan hanya duduk sembarangan yang tidak tau aturan dan tidak lagi menggunakan aturan yang sudah ada. Dalam tradisi makan Bajamba ini juga merupakan salah satu tradisi yang sekalian melestarikan nilai adat lainnya. Salah satunya tadi adalah tata cara duduk di Minangkabau.

Adab lainnya yang ada pada saat makan Bajamba ialah tidak mengambil lauk yang jauh dari tempat duduk. Ini merupakan salah satu contoh penerapan untuk menghargai makanan yang ada didepan mata dan menghindari sifat berlebih lebihan dalam makan. Makanan yang ada didepan mata harus disyukuri dan di habiskan dahulu. Biasanya makan Bajamba ini dilakukan pada saat acara acara besar. Upacara adat , hari- hari besar bagi umat agama islam, pesta- pesta adat dan hari- hari penting lainnya. Dalam makan Bajamba ini memiliki maksud dan arti yang sangat bagus.

Kebersamaan salah satunya , kebersamaan pada saat memasak makanannya terlebih dahulu lalu bersama sama juga dalam memakannya nanti. Seperti yang sudah terjadi pada saat sekarang ini . Umumnya masyarakat sudah memiliki rasa individualis dimana hanya mementingkan dan sibuk dengan dunianya sendiri. Adanya makan Bajamba ada suatu wujud untuk menciptakan lagi kebersamaan itu. Cara duduk dan adab saat makan adalah maksud dari bahwa kita manusia memiliki derajat yang sama. Tidak ada status sosial didalamnya. Tidak ada kelas atas dan kelas bawah. Semua disamaratakan. Duduk bersama dibawah membuat kita sadar bahwa kita adalah sama, tidak ada perbedaan derajat.

Keunikan dan ciri khas serta makna yang sangat dalam di dalam tradisi ini harusnya memang harus dilestarikan lagi keberadaannya. Agar tidak dilupakan dan selalu menjadi kebanggaan bagi masyarakat Minangkabau. Agar keunikan ini terlihat lebih jauh dan dikenal lagi diberbagai masyarakat lainnya. Ternyata kita dapat memetik hal baik dan bermanfaat yang ada pada tradisi kita sendiri. Makna- makna tersirat juga ada disana, rasa gotong royong dalam melakukan kegiatan, rasa persamaan, tata cara dan adab yang baik pada makan serta kesetaraan antara umat manusia yang diajarkan disana. Sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai masyarakat Minangkabau untuk kembali lagi mengenalkan tradisi ini kepada khalayak luar agar lebih banyak dikenal dan tetap menjadi tradisi kebanggaan masyarakat Minangkabau itu sendiri.

/*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts