Tragedi Itaewon Tewaskan 151 Orang, Inilah Penyebabnya

MINANGKABAUNEWS.com, INTERNATIONAL — Tragedi Itaewon menewaskan sedikitnya 151 orang, 19 di antaranya warga negara asing. Para korban diyakini tewas karena gagal jantung akibat berdesakan dan terinjak-injak dalam kerumunan ribuan orang yang merayakan pesta Halloween.

Para korban diyakini tewas karena gagal jantung akibat berdesakan dan terinjak-injak dalam kerumunan ribuan orang yang merayakan pesta Halloween.
Kerumunan orang-orang yang berdesakan di gang atau lorong sempit di Distrik Itaewon, Seoul.

Petugas kepolisian memeriksa lokasi korban tewas dan luka-luka di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Minggu, 30 Oktober 2022, setelah massa yang sebagian besar anak muda yang merayakan perayaan Halloween di Seoul terperangkap dan terlindas saat massa masuk ke gang sempit.

MOON Ju-young (21), seorang saksi mata kejadian sedang berada di tengah kerumuman di Distrik Itaewon, Seoul, Korea Selatan, ketika tragedi itu terjadi.

Ia sudah merasakan tanda-tanda masalah ketika berada di gang-gang sempit sebelum insiden pesta Halloween Itaewon itu terjadi. Apalagi, menurutnya, pesta itu 10 kali lipat ramainya dari pesta yang biasanya ia pernah saksikan.

Bukti-bukti video di media sosial menunjukkan ratusan orang memadati gang sempit dan miring, sehingga mereka tidak bisa bergerak ketika petugas darurat dan polisi berusaha membantu mengeluarkan para korban dari kerumunan.

Moon Ju-young tetap tak menduga jika pada akhirnya pesta itu kemudian menjadi tragedi yang memilukan.

Dalam kebingungan di tengah kerumuan yang tak terkendali orang salling bergerak ke sisi berlawanan untuk bisa segera keluar, namun justru menjadi benturan dan tumpukan yang tidak bisa bergerak sama sekali—stuck.

Orang yang di posisi tengah macet, tidak bisa berkomunikasi, dan tidak bisa bernapas, seperti penuturan Sung Sehyun saksi yang selamat kepada CNN.

Mayoritas para korban adalah wanita muda berusia 20-an, menurut keterangan dari pihak keamanan Korea yang bertugas di Distrik tersebut saat kejadian. Mereka tak bisa berbuat banyak di tengah kerumunan yang membludak tidak terkendali.

Kerumunan orang-orang yang berdesakan di gang atau lorong sempit di Distrik Itaewon, Seoul.

Kontur jalan sebagian distrik itu berupa jalan turunan. Meskipun gang sempit itu telah penuh sesak, namun orang-orang terus berduyun-duyun masuk dari semua arah ke gang sempit yang sudah penuh sesak.

Ketika orang-orang yang berada di atas jalan yang miring itu berjatuhan akibat berdesakan, kerumunan di bawah mereka terguling-guling menimpa satu sama lain. Dan dengan segera menjadi kekacauan yang mengerikan.

Seperti kesaksian dari Jamil Taylor, salah satu dari tiga tentara asal Amerika Serikat yang kebetulan juga berada di tempat kejadian.

Mereka adalah bagian dari kerumunan yang turun dari gang sempit dan curam di distrik tersebut, tetapi mereka dapat melarikan diri ke area sampingnya.

Dan tepat ketika mereka berhasil keluar dari kerumunan, tiba-tiba tragedi itu bermula, ketika semua orang jatuh di atas satu sama lain seperti kartu domino.

Menurut Jamil, pengunjung di bagian atas jalanan gang yang miring mencoba memaksa turun, meskipun jalanan sudah penuh. Kemudian desakan itu menyebabkan orang-orang mulai berjatuhan.

Sementara di bagian bawah tak ada cukup orang yang bisa menahan laju desakan dan orang yang berjatuhan di antaranya yang membuat situasi menjadi buruk.

Jamil dan Dane Beathard (32) bersama satu rekannya juga merasa gugup dengan kejadian yang begitu cepat dan tiba-tiba, karena mereka tepat di tengah kerumunan itu, saat semuanya berantakan.

Mereka melihat sebagian orang-orang terjepit begitu rapat ke dalam gang sehingga petugas darurat tidak bisa mengeluarkan mereka dari kerumunan yang penuh sesak.

Mereka kemudian berusaha membantu beberapa korban dengan menariknya keluar dari tekanan dan membawanya ke tempat yang aman sehingga petugas tanggap darurat dapat memberikan bantuan pernapasan.

Para korban mereka tempatkan di klub terdekat yang mulai buka menampung para korban. Sehingga memenuhi lantai klub dengan orang-orang yang digeletakkan di lantai.

Tumpukan orang yang panik karena tak menemukan jalan keluar atau tak bisa bertahan dari desakan dalam kondisi jalan yang miring membuat mereka menjadi korban pertama yang terjatuh, ditambah dengan teriakan kepanikan yang menenggelamkan semua suara, sehingga tak bisa lagi berkomunikasi untuk mengatasinya.

Petugas kepolisian memeriksa lokasi korban tewas dan luka-luka di Itaewon, Seoul, Korea Selatan, Minggu, 30 Oktober 2022, setelah massa yang sebagian besar anak muda yang merayakan perayaan Halloween di Seoul terperangkap dan terlindas saat massa masuk ke gang sempit.

Distrik Itaewon yang menjadi episentrum tragedi Hallowen adalah kawasan kehiduan malam di Korea Selatan.

Pesta Halloween yang dipadati pengunjung muda berusia 20 tahunan dan dewasa muda dengan cepat menjadi kerumunan besar massa yang memadati gang sempit berubah mencekam karena membuat massa tak bisa bergerak di tengah desakan, mengakibatkan para remaja terutama perempuan berada dalam posisi terjepit.

Puncak keramaian ini terjadi karena ini adalah acara Halloween pertama di Seoul dalam tiga tahun setelah Korsel mencabut pembatasan Covid-19 dan social distancing. Larangan memakai masker dicabut dan menimbulkan euphoria kegembiraan yang meledak.

Sehingga akumulasi massa yang selama ini terbelenggu covid memanfaatkannya sebagai kesempatan bebas untuk pertama kalinya. Sehingga akumulasi pengunjung mencapai 100.000 orang di distrik Itaewon yang sempit dan memiliki kontur jalanan miring.

Sejak keluar dari kereta dan stasiun pengunjung sudah ramai dan padat, begitu juga dengan deretan toko-toko sehingga pengunjung sudah mulai sulit berjalan santai.

Belum lagi karena sebagian besar pengunjung pesta Halloween di Korea mengenakan topeng dan kostum Halloween yang semakin mengurangi keleluasaan gerak ketika berdesakan.

Seperti menurut penuturan Alleciangeline, seorang warga Indonesia dalam video yang menceritakan bahwa di Korea, Hallowen benar-benar dirayakan. Banyak orang memakai kostum party dan biasanya party itu identik dengan perayaan Hallowen di Itaewon.

Situasi semakin memburuk menjelang malam. Beberapa saksi menggambarkan kerumunan semakin tidak terkendali dan cemas saat malam semakin larut. Dan puncak tragedi itu terjadi pada pukul 22.20 waktu setempat.

Sebagian dari mayat yang kemudian ditemukan dari kerumunan di dekat kelab malam diperkirakan mengalami henti detak jantung, serangan jantung yang mematikan karena desakan yang masif di lorong sempit tersebut.

Korban yang diperkirakan tewas dalam Tragedi Halloween di Itaewon, pada Sabtu malam waktu setempat, telah mencapai angka 151 orang.

Ratusan orang mengalami serangan henti jantung setelah ribuan orang berdesakan memadati jalan sempit di distrik Itaewon, tanpa kendali. Apalagi insiden itu terjadi menjelang larut malam pukul 22.20 (1320 GMT), yang semakin sulit dikendalikan.

Pemicu tragedi Itaewon yang menyebabkan ratusan orang berjatuhan adalah akibat cardiac arrest alias henti jantung akibat desakan yang padat dan terinjak-injak, sebagaimana penjelasan Kepala Departemen Pemadam Kebakaran Yongsan-gu, Choi Seong-bum. Setidaknya 82 orang korban terluka.

Pertolongan pertama yang diberikan kepada korban yang tergeletak di jalan berupa tindakan CPR (cardiopulmonary resuscitation). Dua WNI yang kebetulan berada dalam situasi kekacauan itu juga menjadi korban dan sedang dalam perawatan intensif.

Saksi mata menyebutkan tak hanya kepadatan, tapi juga terjadinya bentrok di tengah kerumunan massa yang menjadi pemicu insiden di Itaewon.

Tak sekadar kericuhan biasa, disebutkan juga banyak yang melihat peserta malam pesta menggunakan narkoba. Saksi juga melihat banyak barang bukti narkoba yang diamankan polisi.

Hingga kini, pihak berwenang mengatakan pihaknya masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab pasti tragedi Itaewon. Karena hingga laporan terakhir, pihak berwenang menerima 44 laporan langsung dan 311 panggilan dengan total 355 laporan orang hilang saat ini.

Pembelajaran dari Tragedi
Pengelolaan even atau perayaan dan pengendalian keramaian dan kesadaran tentang keselamatan menjadi salah satu yang dikritisi banyak pengamat atas insiden tragedi Itaewon, seperti dikemukakan Shin Dong-min .

“Ini adalah bencana buatan manusia yang dipicu oleh kurangnya kesadaran tentang keselamatan,” kata seorang profesor di Universitas Transportasi Nasional Korea, Shin Dong-min, kepada TV nasional Korea Selatan, YTN News, seperti dikutip AFP.

Tragedi ini juga menjadi bentuk kewaspadaan bagi pihak kemanan, petugas pemadam kebakaran, pemilik area kejadian, bahkan bagi personal, jika mengalami kejadian seperti halnya tragedi di Itaewon.

Mereka harus mulai memahami secara mendasar bentuk pertolongan pertama untuk korban-korban dalam kondisi darurat, seperti penggunaan solusi PCR. Seperti bantuan pernapasan buatan untuk korban yang mengalami gangguan sesak nafas dan henti jantung.

Kita belajar banyak dari tragedi yang tak hanya membuat kita kehilangan orang-orang terdekat dalam sekejap, karena sesuatu yang tidak kita duga dan kurangnya kesadaran tentang keselamatan yang sering kita abaikan

Related posts