Tragedi Memilukan! Rumah Gadang Rembang Ambruk, Harta Pusaka Ludes! Ade Herdiwansyah: Ini Bukan Sekadar Bangunan Roboh, Ini Jati Diri Minang yang Sekarat!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS com, PADANG — Suara gemuruh kayu-kayu tua yang patah terdengar begitu nyata di berbagai penjuru nagari di Sumatera Barat. Pemandangan itu bukan ledakan atau gempa, melainkan robohnya Rumah-Rumah Gadang yang telah berdiri kokoh selama bergenerasi. Satu per satu, saksi bisu kejayaan masa lalu itu tumbang, rata dengan tanah.

Yang lebih menyayat hati, di balik puing-puing kayu yang berserakan, ikut terkubur pusaka keluarga yang tak ternilai harganya. Benda-benda bersejarah, gelar pusako, hingga cerita-cerita leluhur yang tersimpan di setiap sudutnya kini lenyap ditelan waktu dan kerusakan.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, bereaksi keras. Ia mengaku tak bisa tidur membayangkan nasib Rumah Gadang yang kian memprihatinkan. Dalam rapat bersama Dinas Kebudayaan, ia mendesak agar ada alokasi anggaran pemugaran segera digelontorkan.

“Banyak banget Rumah Gadang yang sudah ambruk, hampir hancur! Ini darurat budaya!” ujar Vasko dengan nada geram sekaligus prihatin.

Vasko meminta Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) segera turun tangan. Ia tak mau Rumah Gadang hanya tinggal nama dalam buku sejarah. Ia ingin ada aksi nyata. Namun, Vasko mengingatkan, renovasi tak boleh asal tegak lagi. Setiap Rumah Gadang yang dipugar harus memiliki narasi, harus punya story telling, agar generasi muda tahu bahwa di balik setiap tiang dan ukiran, ada sejarah panjang yang patut dibanggakan.

SUARA LANTANG DARI MUHAMMADIYAH: PAK VASKO JANGAN BERHENTI DI FISIK!

Di tengah semangat pemugaran yang digaungkan Wagub Vasko, muncul satu suara yang menekankan hal paling fundamental. Suara itu datang dari Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumatera Barat, Ade Herdiwansyah.

Dengan nada tegas dan penuh kecemasan, Ade Herdiwansyah buka suara. Ia mendukung penuh langkah Vasko, tapi sekaligus melempar ‘bom’ peringatan.

“Saya mendukung penuh Pak Wagub. Tapi tolong, ini jangan cuma urusan fisik semata. Jangan sampai kita hanya sibuk menegakkan tiang dan memasang atap baru, lalu melupakan apa yang membuat Rumah Gadang itu sakral dan bermakna!” tegas Ade Herdiwansyah.

Ade Herdiwansyah menekankan, Rumah Gadang bukanlah bangunan biasa. Ia adalah jantung dari peradaban Minangkabau.

“Rumah Gadang ini sangat penting bagi kami, masyarakat Minangkabau. Coba lihat, bangunan ini berfungsi sebagai pusat kehidupan adat, simbol matrilineal, tempat musyawarah ninik mamak, dan hunian bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan, di balik arsitekturnya yang unik dan tahan gempa, tersimpan filosofi tinggi yang diwariskan turun-temurun. Rumah Gadang adalah bukti bahwa masyarakat Minang bukan hanya pandai merantau, tapi juga punya peradaban agung yang kokoh.

“Rumah Gadang itu melambangkan jati diri, mempererat gotong royong. Jika bangunan ini hilang, maka hilang pula karakter dan filosofi hidup kita. Jati diri Minang akan ikut sekarat!” seru Ade Herdiwansyah dengan nada menggebu-gebu.

Pernyataan Ade Herdiwansyah ini seakan menjadi alarm bagi Pemerintah Provinsi. Ia meminta agar proses pemugaran nantinya tidak berhenti pada perbaikan atap dan dinding. Lebih dari itu, harus ada revitalisasi fungsi dan pemahaman.

“Pak Wagub sudah benar minta ada story telling. Itu harus dilakukan! Anak-anak muda kita harus tahu, bahwa di Rumah Gadang ini dulu para datuk bermusyawarah, di sinilah pusaka disimpan, dan di sinilah struktur sosial Minangkabau yang berbasis matrilineal dijaga,” pungkasnya.

Kini, semua mata tertuju pada langkah selanjutnya. Anggaran mungkin bisa digelontorkan, kayu-kayu baru bisa didatangkan. Tapi tantangan terbesar adalah bagaimana menghidupkan kembali jiwa Minangkabau di setiap Rumah Gadang yang tersisa. Seperti kata Ade Herdiwansyah, jangan sampai yang ditegakkan hanya fisiknya, sementara jati dirinya tetap roboh.

Related posts