Trump Klaim Serangan ke Situs Nuklir Iran Berhasil Total, Serang Balik CNN dan New York Times, Ternyata?

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, INTERNATIONAL — Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, pada Rabu pagi mengklaim bahwa serangan militer terhadap fasilitas nuklir Iran yang baru-baru ini terjadi merupakan “salah satu serangan militer paling sukses dalam sejarah.” Ia juga mengecam dua media besar Amerika, CNN dan The New York Times, yang menurutnya telah bekerja sama untuk meremehkan keberhasilan tersebut.

Melalui akun media sosialnya @realDonaldTrump pada pukul 08.48 waktu setempat, Trump menulis:

> “CNN berita palsu, bersama dengan New York Times yang gagal, telah bersekongkol untuk merendahkan salah satu serangan militer paling sukses dalam sejarah. Situs nuklir Iran benar-benar hancur! Times dan CNN sedang dihajar oleh publik!”

Pernyataan tersebut langsung menyita perhatian publik, mendapat lebih dari 370 ribu suka dan puluhan ribu komentar hanya dalam beberapa jam. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Departemen Pertahanan AS ataupun Gedung Putih terkait klaim Trump.

Klaim Trump tentang penghancuran total situs nuklir Iran berpotensi memicu ketegangan geopolitik yang signifikan, terutama jika terbukti benar. Para analis keamanan internasional menyebut bahwa serangan semacam itu, jika terjadi, bisa menjadi eskalasi besar dalam konflik lama antara AS dan Iran.

“Sebuah serangan langsung terhadap infrastruktur nuklir Iran akan menempatkan kawasan Timur Tengah pada jalur konfrontasi terbuka,” ujar Dr. Rebecca Caldwell, pakar hubungan internasional dari Johns Hopkins University. “Jika serangan itu benar-benar terjadi, dampaknya tidak hanya militer tapi juga ekonomi global.”

Pasar global pun mulai merespons. Harga minyak mentah Brent tercatat naik 3,2 persen pada sesi perdagangan pagi waktu Asia, dipicu oleh kekhawatiran akan gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.

Kritik terhadap Media dan Strategi Lama Trump

Pernyataan Trump juga menyoroti taktik komunikasinya yang konsisten sejak kampanye presiden 2016, yaitu menyerang media arus utama dan membingkai narasi media sebagai musuh publik.

“Trump menggunakan pola lama: mendefinisikan keberhasilan versinya, lalu menggiring opini publik dengan mengorbankan media,” kata Dr. Karen Hill, analis politik dari Brookings Institution. “Ini bukan sekadar respons spontan, tapi bagian dari strategi komunikasi politik yang sudah dirancang.”

CNN dan The New York Times belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan Trump, namun beberapa jurnalis dari kedua institusi telah menulis secara terbuka mempertanyakan keabsahan informasi mengenai serangan militer yang disebut-sebut Trump.

Meski Trump menyebut serangan terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai kenyataan, hingga kini tidak ada pernyataan dari lembaga-lembaga keamanan nasional Amerika yang membenarkan atau membantah peristiwa tersebut. Pemerintah Iran pun belum merilis komentar resmi. Namun media lokal Iran, Fars News Agency dan Press TV, belum melaporkan adanya kerusakan signifikan terhadap situs nuklir mereka.

Pakar intelijen independen juga menyebut bahwa tidak ada indikasi visual atau satelit yang mendukung klaim Trump sejauh ini.

“Jika memang benar ada serangan sebesar itu, setidaknya akan ada indikasi dari satelit atau pergerakan diplomatik besar-besaran,” ujar Andrew McAllister, analis di lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS). “Sampai saat ini, kami belum melihat bukti nyata.”

Pernyataan mengejutkan dari Donald Trump kembali mengguncang diskursus politik dan keamanan internasional. Di tengah ketidakjelasan fakta lapangan dan absennya konfirmasi resmi, klaim sepihak seperti ini menambah ketegangan geopolitik dan memicu kekhawatiran pasar.

Apakah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran benar-benar terjadi? Dunia masih menunggu jawaban pasti. Yang jelas, Trump sekali lagi membuktikan kemampuannya menguasai panggung, meskipun dari luar Gedung Putih.

Related posts