Tugas Akhir Mahasiswa ISI Padang Panjang Gelar Pameran Foto, Catat Tanggalnya!

Pameran karya foto Mahasiswa ISI Padang Panjang.

MINANGKABAUNEWS.COM,PADANG PANJANG — Pameran karya foto tugas akhir yang digelar dengan memajang 72 foto, diantaranya, Ichsan Saputra 20 karya foto, Rezi Junia Wandina 20 karya foto, Rabbul Jahli 12 karya foto dan Idda Maggi Putri 20 karya foto yang kini menjadi salah satu opsi yang dapat dipilih mahasiswa Prodi fotografi untuk meraih sarjana.

Keempat mahasiswa fotografi ini menggelar pameran foto pada Selasa 25-Rabu, 26 Januari 2022 di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, di Kota Padang.

Read More

Demikian disampaikan Ichsan Saputra saat dijumpai di kampus ISI Padang Panjang, Rabu (19/1/2022).

Ichsan menambahkan “Pameran karya fotografi ini, walau memiliki tema minor yang berbeda, namun kami sepakat dengan tema mayor (besar) Satuneh (Setunas)  karena kami tumbuh menjadi satu menyatu saling mendukung satu sama lain.

Sementara tema saya yaitu ‘Representasi diri melalui medium Korek Api Kayu dalam Fotografi Ekspresi’ Pemilihan tema tersebut didasarkan pada keinginan untuk menampilkan gambaran  suatu keadaan, bereksperimen melalui sebuah media benda yang dapat menggambarkan atau mensifati melalui sebuah media korek Api Kayu.

Karya Representasi dihasilkan dengan menginterpretasikan kegiatan aktivitas sehari-hari  masyarakat Aceh baik segi kehidupan sosial, dan budaya. Aceh yang memiliki karakteristik dan kekhasannya tersendiri” paparnya mahasiswa asal Usi Dayah, Pidie Aceh tersebut.

Sementara Rezi Junia Wandina menyatakan “mengangkat judul ‘Frustasi Wanita dalam  Fotografi Ekspresi’ dengan memotret seorang wanita menyampaikan bahwa setiap wanita telah mengalami frustasi tanpa disadarinya. Melalui dampak-dampak yang saya visualkan melalui karya fotografi ekspresi nantinya.

Pengkarya tertarik untuk menuangkan frustasi tersebut kedalam sebuah karya fotografi ekspresi dengan menggunakan konsep yang mewakili setiap bentuk frustasi dan dapat menyampaikan pesan dari konsep tersebut.

Pengkarya menggunakan objek utamanya yaitu manusia. Saya melihat Wanita dalam menjalani hidup ternyata juga memiliki  masalah yang bertumpuk. Masalah yang dihadapinya tidak dapat diungkapkan seperti laki-laki ketika memiliki masalah. Sehingga wanita lebih memilih menahan  dan dipendam sendiri tak mau mengungkapkan ke orang lain” paparnya saat ditemui.

Sedangkan Idda Maggi Putri mengatakan “Saya mengusung judul  Penciptaan tugas akhir ini ‘Idiyappam dalam Fotografi Dokumenter’ sehingga genre foto yang saya pilih ialah bergenre fotografi Dokumenter.

Dokumenter makanan khas India ini pengkarya memvisualisasikan ke dalam bentuk foto story. Makanan yang dapat ditemukan di Kampung Kaliang, Kota Pariaman sudah ada sejak zaman dahulu,  melalui Akulturasi Budaya. Idiyappam hadir melalui Akulturasi dua budaya yang berbeda melalui proses sosial yang tidak merusak budaya sebelumnya, dengan datang dan masuknya etnis India ke Pariaman, membawa budaya serta makanan khasnya yang dapat bercampur dengan baik.

Idiyappam sebagai makanan khas India dan melalui Akulturasi Budaya keberadaan Idiyappam ini Pengkarya bangun melalui teknik bercerita dalam Dokumenter  menggunakan Sanding, urutan dan blok.” terangnya.

Rabbul Jahli saat dijumpai juga mengatakan “Genre karyanya adalah fotografi model yang bertema ‘Light Painting pada Tubuh Perempuan’.  Selama pengalamannya dalam dunia foto memotret model sangatlah menarik dengan menggunakan teknik Bulb.

Pengalaman empiris inilah membuat saya sangat terinspirasi untuk mengangkat salah satu teknik yang berkembang pada masyarakat urban yaitu light art photography /light Painting. Tekhnik ini nantinya akan dipadukan dengan salah satu genre fotografi  yaitu fotografi Model. Biasanya teknik bulb ini dilakukan dengan proses pergerakan cahaya dengan sengaja dilakukan untuk membentuk suatu tulisan atau goresan cahaya yang diinginkan.

Fotografi Model adalah memotret alias menangkap momen yang melibatkan model. Nama aliran fotografi ini memang berasal dari objek yang difoto. Fotografi model di mulai dari sebuah ide/imajinasi, kemudian dibantu oleh model untuk mendapatkan efek visual yang menarik.” jelasnya.

Tak hanya sampai disitu Rabbul Jahli juga mengatakan Satuneh tu sama dengan setunas. “ kenapa kami memilih tema besarnya Satuneh atau setunas, ibarat nya itu kita itu sama seperti tunas baru yang mencoba untuk bertahan hidup demi menjadi besar. Kita itu dalam menempuh pendidikan di kampus institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang ini sama sama memulai dari awal untuk mencoba mencari jati diri, dan kita bersama sama mencari jati diri dalam dunia perfotografian.  dalam sebuah ajang pameran tugas akhir ini, kami ingin memperlihatkan sejatinya fashion kita itu berada di dalam dunia fotografi.”tutupnya. (Edi Fatra/rel).

Related posts