ULAMA ATAU SEKADAR PESULAP KATA? Ketika Media Sosial Menciptakan Ilusi Kealiman

Oleh: Aya Syophia Miza, M.A

Ketua Pusat Perkaderan Ulama Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
Wakil Sekretaris Metodologi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat

Dulu, untuk menjadi ulama, seseorang harus menghabiskan waktu puluhan tahun. Duduk di majelis ilmu, mencium debu kaki guru, menghafal kitab kuning hingga gigi ngilu, dan berguru dari satu pesantren ke pesantren lain. Prosesnya panjang, melelahkan, dan tak jarang menguras air mata.

Namun kini, segalanya berubah.

Di era media sosial, seseorang bisa menjadi “ulama” hanya dalam hitungan pekan. Cukup rekam video pendek dengan judul menggoda, sebutkan beberapa ayat dan hadis, tambahkan sedikit air mata atau tawa, lalu unggah. Jika algoritma berbaik hati, jutaan orang akan menonton. Nama pun melambung. Pengikut bertambah. Undangan ceramah mengalir. Status “tokoh agama” pun melekat begitu saja.

Dan kita—tanpa sadar—turut bertepuk tangan.

Tapi mari jujur: apakah semua yang pandai bicara agama layak disebut ulama?

Saya ingin mengajak Anda menyelami pertanyaan ini lebih dalam. Bukan untuk merendahkan siapa pun. Tapi untuk menyelamatkan agama dari mereka yang menjadikannya panggung pertunjukan.

—

KISAH DI BALIK MIMBAR: KETIKA POPULARITAS MENIPU

Saya masih ingat percakapan dengan seorang teman beberapa waktu lalu. “Lihat itu Ustaz Fulan,” katanya sambil menunjukkan sebuah video yang sedang viral. “Ceramahnya keren banget! Pasti dia ulama besar.”

Saya hanya tersenyum. Bukan karena tidak setuju, tapi karena saya tahu proses panjang yang harus dilalui untuk benar-benar layak menyandang predikat ulama. Saya tahu betapa beratnya kurikulum yang harus ditempuh, betapa dalamnya lautan ilmu yang harus diseberangi, dan betapa besarnya tanggung jawab yang harus dipikul.

Popularitas, saudaraku, hanyalah ilusi. Ia datang cepat, pergi pun cepat. Namun keulamaan adalah amanah yang dipertanggungjawabkan hingga liang lahat.

Persoalannya, kita sering tertipu oleh kemasan. Kita melihat seseorang yang fasih berbicara, lancar mengutip dalil, dan percaya diri di atas mimbar, lalu kita simpulkan: “Ini ulama.” Padahal, antara penceramah dan ulama ada jurang yang sangat dalam. Selebar samudra, setinggi langit.

—

SYURŪṬ ‘ILMIYYAH: JANGAN BICARA SEBELUM BERILMU

Inilah yang sering dilupakan: menjadi ulama bukan soal keberanian berbicara. Bukan soal kemampuan menghafal beberapa ayat dan hadis. Bukan pula soal gaya bicara yang memukau.

Ulama harus memiliki perangkat ilmu yang utuh. Ia harus menguasai Al-Qur’an, tentu saja. Tapi juga hadis dengan segala perangkatnya: ilmu jarh wa ta’dil, ilmu riwayat dan dirayah, ilmu mukhtalif al-hadis. Ia harus mendalami bahasa Arab: nahwu, sharaf, balaghah. Belum lagi fikih, ushul fikih, qawa’id fiqhiyyah, maqashid al-syari’ah, dan turats klasik yang membentang luas.

Dan yang tak kalah penting: ia harus memahami realitas. Persoalan umat hari ini—ekonomi digital, bioetika, kecerdasan buatan, perubahan iklim, hingga dinamika sosial politik—tidak bisa dijawab hanya dengan mencari satu ayat atau satu hadis.

Ada proses yang harus dilalui. Sebuah metode yang sistematis. Seorang ulama sejati tidak melompat langsung ke kesimpulan. Ia melalui tahapan:

Tasawwur → memahami persoalan secara utuh.
Takyif Fiqhi → memetakan persoalan dalam kerangka fikih.
Dalil → mencari landasan dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Istinbath → menarik hukum dengan metodologi yang benar.
Maqashid → memastikan tujuan syariat tercapai.
Analisis Dampak → melihat konsekuensi dari hukum yang ditetapkan.
Kesimpulan Hukum → barulah fatwa dilahirkan.

Bayangkan betapa panjang dan berat proses ini. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara orang yang sekadar menyampaikan agama, dengan orang yang memiliki otoritas keilmuan untuk menggali dan menetapkan hukum agama.

Tidak semua penceramah adalah mufti.
Tidak semua ustadz adalah faqih.
Tidak semua lulusan perguruan tinggi agama adalah ahli fatwa.
Dan tidak semua orang yang pandai menggunakan istilah Arab dalam ceramahnya paham metodologi istinbath.

Agama terlalu besar, terlalu suci, dan terlalu mulia untuk dijadikan wilayah coba-coba. Setiap kata yang diucapkan atas nama Allah akan dimintai pertanggungjawaban. Maka sungguh berbahaya jika kita berbicara tanpa ilmu, berfatwa tanpa metodologi, dan menyesatkan umat tanpa sadar.

—

SYURŪṬ SYAKHṢIYYAH: ILMU TANPA AKHLAK ADALAH BENCANA

Namun ilmu saja belum cukup. Saya pernah bertemu dengan orang yang hafal ratusan hadis, menguasai kitab-kitab besar, dan mampu berdebat dengan sangat meyakinkan. Tapi akhlaknya? Na’udzubillah. Ia merendahkan orang lain, merasa paling benar, dan tak segan menyalahkan siapa pun yang berbeda pandangan.

Di sinilah syarat kedua: akhlak dan ketakwaan.

Orang yang ilmunya tinggi tetapi akhlaknya rendah bisa menjadi fitnah bagi umat. Ilmunya mungkin benar, tapi cara menyampaikannya melukai. Kata-katanya mungkin tepat, tapi sikapnya menyakitkan. Argumentasinya mungkin kuat, tapi hatinya dipenuhi kesombongan.

Padahal Allah telah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)

Perhatikan! Tanda ulama bukan sekadar banyak ilmu, tapi khasyyah—ketakutan yang mendalam kepada Allah. Ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin sadar akan kebesaran Tuhannya, bukan semakin merasa dirinya hebat.

Seorang ulama sejati memiliki:

Ikhlas — tidak menjadikan agama sebagai kendaraan popularitas. Ia tidak peduli seberapa banyak pengikutnya, karena ia tahu bahwa yang melihat amalnya bukanlah manusia, tapi Allah.
Tawadhu’ — tidak merasa dirinya paling benar dan paling tahu. Ia sadar bahwa di luar sana ada banyak ulama lain yang mungkin lebih alim, dan di atas setiap orang yang berilmu ada orang yang lebih berilmu lagi.
Wara’ — berhati-hati dalam berbicara tentang halal dan haram. Ia tidak main-main dengan fatwa karena ia tahu konsekuensinya.
Amanah — tidak menggunakan dalil untuk membenarkan kepentingan pribadi atau kelompok. Baginya, kebenaran adalah kebenaran, meskipun pahit.
Sabar — tidak mudah terpancing oleh kritik dan perbedaan. Ia menerima perbedaan sebagai rahmat, bukan sebagai ancaman.
Akhlak — karena umat membutuhkan teladan, bukan hanya retorika. Umat bosan dengan kata-kata indah yang tidak diikuti perbuatan.

Saya ingat kisah Imam Malik. Suatu hari ada orang yang bertanya kepadanya tentang sebuah masalah. Imam Malik merenung lama, kemudian berkata: “Saya tidak tahu.” Orang itu terkejut. “Tapi Anda Imam Malik, guru besar Madinah!” Imam Malik menjawab: “Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu dengan sesuatu yang tidak aku yakini. Lebih baik aku mengatakan tidak tahu daripada berbohong atas nama Allah.”

Kalimat “saya tidak tahu” justru menjadi tanda kedewasaan ilmiah. Orang yang belum matang sering merasa harus menjawab semua pertanyaan. Sedangkan orang yang benar-benar berilmu mengetahui batas pengetahuannya.

—

JANGAN MENUKAR KEILMUAN DENGAN POPULARITAS

Inilah tantangan besar kita hari ini.

Kita hidup di zaman ketika algoritma menentukan siapa yang terkenal. Tapi algoritma tidak bisa menentukan siapa yang paling alim. Viral bukan berarti benar. Banyak penonton bukan berarti banyak ilmu. Banyak undangan ceramah bukan berarti memiliki kapasitas untuk berijtihad. Jumlah pengikut bukan ukuran keulamaan.

Keulamaan dibangun melalui proses panjang yang tidak selalu terlihat kamera.

Duduk bertahun-tahun di hadapan guru. Mencium tangan mereka, merendahkan hati, dan menyerap ilmu dengan penuh adab.

Membaca kitab demi kitab. Tidak sekadar membaca, tapi mengkaji, memahami, dan menghafal.

Meneliti setiap permasalahan dengan saksama. Tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Berdiskusi dengan sesama penuntut ilmu. Saling mengoreksi dan saling melengkapi.

Mengakui kesalahan dan belajar dari kritik. Tidak merasa malu untuk mengatakan “saya keliru.”

Belajar bahasa Arab hingga mampu memahami teks klasik. Karena tanpa itu, kita hanya membaca terjemahan—dan terjemahan tidak pernah sepenuhnya mewakili makna asli.

Memahami ushul fikih—metodologi penggalian hukum. Karena tanpa metodologi, kita hanya seperti orang yang mengumpulkan mutiara tanpa tahu cara merangkainya menjadi kalung yang indah.

Mengenal khilaf ulama. Menyadari bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat, bukan alasan untuk saling memusuhi.

Memahami realitas umat. Karena hukum yang tidak memahami konteksnya akan menjadi beban, bukan solusi.

Dan yang paling penting: mengamalkan ilmu serta menjaga ketakwaan. Karena ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah—indah dipandang, tapi tak memberi manfaat.

Saya ingin mengajak Anda merenung sejenak.

Pernahkah kita melihat seorang ustadz yang dengan enteng mengharamkan sesuatu, padahal para ulama besar berbeda pendapat? Pernahkah kita mendengar ceramah yang menakut-nakuti jamaah dengan neraka, sementara isi ceramahnya minim ilmu dan penuh opini? Pernahkah kita menyaksikan seorang penceramah yang merendahkan golongan lain, seolah-olah hanya kelompoknyalah yang paling benar?

Ini adalah wajah baru dari “keulamaan” yang instan. Cepat naik, cepat viral, tapi juga cepat melahirkan perpecahan.

Padahal, ulama sejati adalah perekat umat, bukan pemecah belah. Ulama sejati membawa rahmat, bukan ketakutan. Ulama sejati menyejukkan, bukan menakut-nakuti. Ulama sejati mengajak kepada kebaikan dengan hikmah, bukan dengan kemarahan.

—

KADER ULAMA HARUS DIBENTUK, BUKAN DICETAK INSTAN

Jika kita ingin memiliki ulama yang berkualitas, maka proses kaderisasi tidak boleh instan. Kita membutuhkan lembaga yang serius membangun empat pilar:

العِلْمُ — ilmu yang mendalam dan komprehensif.
المَنْهَجُ — metodologi yang benar dalam memahami dan menggali hukum.
الأَخْلَاقُ — akhlak yang mulia sebagai cerminan dari ilmu yang dimiliki.
العَمَلُ — pengamalan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Kader ulama harus mampu membaca turats—khazanah klasik—tetapi juga memahami persoalan zaman. Menguasai fikih, tetapi memahami realitas masyarakat. Menguasai dalil, tetapi memahami maqashid. Mampu berijtihad, tetapi tetap rendah hati.

Inilah ulama yang dibutuhkan umat.

Bukan ulama yang sibuk dengan popularitas, tapi lalai dengan amanah.
Bukan ulama yang pandai berbicara, tapi miskin akhlak.
Bukan ulama yang gemar berfatwa, tapi tak mau belajar.
Bukan ulama yang sibuk mengoreksi orang lain, tapi lupa mengoreksi diri sendiri.

—

PENUTUP: MENGEMBALIKAN MAKNA KEULAMAAN

Maka, mari kita berhenti sejenak.

Sebelum kita mengangguk kagum pada setiap ceramah yang viral, tanyakan pada diri kita: Apakah orang ini benar-benar ulama?

Jangan ukur keulamaan dari jumlah pengikut.
Jangan ukur keulamaan dari popularitas.
Jangan ukur keulamaan dari banyaknya undangan.
Jangan ukur keulamaan hanya dari gelar akademik.

Ukur dengan dua hal:

SYURŪṬ ‘ILMIYYAH — Apakah ia memiliki ilmu dan metodologi yang memadai? Apakah ia memahami seluk-beluk agama dengan benar? Apakah ia mampu menggali hukum dengan metodologi yang tepat?

SYURŪṬ SYAKHṢIYYAH — Apakah ilmu tersebut melahirkan ketakwaan, integritas, amanah, dan akhlak? Apakah hidupnya menjadi cerminan dari apa yang ia ajarkan? Apakah ia menjadi teladan, bukan sekadar penceramah?

Karena umat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang Islam. Umat membutuhkan orang yang benar-benar berilmu, memahami metodologi, mengamalkan ilmunya, menjaga amanah, dan mampu menjadi teladan.

Sebab menjadi ulama bukan tentang seberapa banyak orang mengenal nama kita.
Menjadi ulama adalah tentang seberapa besar kita mampu menjaga amanah ilmu di hadapan Allah.

العَالِمُ لَيْسَ مَنْ يَعْرِفُ كَثِيرًا فَقَطْ، بَلْ مَنْ يَعْرِفُ الْحَقَّ وَيَعْمَلُ بِهِ وَيَدْعُو إِلَيْهِ بِالْحِكْمَةِ

Ulama bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal, tetapi orang yang mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajak kepadanya dengan hikmah.

Dan bagi kita yang bukan ulama? Mari kita belajar untuk tidak terlalu cepat percaya. Mari kita belajar untuk bertanya. Mari kita belajar untuk merujuk kepada para ulama yang benar-benar memiliki otoritas keilmuan dan akhlak. Karena di akhirat nanti, kita tidak akan ditanya tentang siapa yang paling viral. Kita akan ditanya tentang kebenaran yang kita ikuti dan amal yang kita kerjakan.

Selamatkan agama dari para penceramah instan. Kembalikan keulamaan pada jalurnya yang benar: ilmu, metodologi, dan akhlak.

Karena Allah tidak melihat pada popularitas kita, tapi pada ketakwaan kita. Dan ketakwaan hanya bisa diraih dengan ilmu yang benar, hati yang bersih, dan amal yang istiqamah.

—

Wallahu a’lam bish-shawab.

Pos terkait