MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Di tengah riuhnya polemik yang mendera jagat literasi keislaman nasional, sebuah unggahan sederhana dari seorang ulama besar Ranah Minang mencuri perhatian. Bukan dengan bentakan, melainkan dengan sebuah peringatan halus yang menusuk: “Jangan Main-Main dengan Judul Buku.”
Sosok itu adalah Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar, Datuak Palimo Basa—seorang ulama kharismatik yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat periode 2025–2030 . Beliau bukanlah ulama yang suka mencari sensasi. Mantan Ketua MUI Sumatera Barat dua periode itu dikenal luas sebagai sosok yang arif, mendalam dalam ilmu, dan sangat berhati-hati dalam bertutur.
Namun, melalui sebuah poster digital yang diunggah ke media sosial, Buya Gusrizal seakan tengah menepuk bahu publik dengan lembut, tepat di saat hiruk-pikuk polemik “Buku Islam Ala Prabowo” tengah memanas. Ia tidak menyebut nama buku itu secara gamblang, melainkan menyoroti substansi yang lebih fundamental: tentang bahaya menilai sebuah karya hanya dari kulit luarnya.
“Pernyataan, ‘Jangan Menilai Buku Dari Judulnya’! Ada Benarnya Bila Penilaian Sebatas Dari Judul Karena Itu Merupakan Kesimpulan Yang Dangkal. Namun Bukan Berarti Judul Tak Memberikan Nilai Apa-Apa,” tulisnya dalam poster tersebut.
Kalimat itu seolah menjadi cermin bagi polemik yang sedang bergulir. Di satu sisi, publik diminta untuk tidak terburu-buru menghakimi isi buku hanya dari judulnya. Namun di sisi lain, Buya Gusrizal justru mengingatkan bahwa judul bukanlah perkara sepele. Judul adalah gerbang pertama yang membentuk pemahaman, cerminan dari isi, dan representasi dari tanggung jawab intelektual.
Antara Tabayyun dan Tanggung Jawab Moral
Peringatan Buya Gusrizal ini terasa sangat relevan. Pasalnya, polemik yang melibatkan buku setebal 368 halaman itu bukan hanya soal isi, melainkan juga soal etika dan kredibilitas. Sejumlah tokoh yang namanya tercantum dalam buku tersebut, seperti Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi hingga Gus Kautsar, telah memberikan klarifikasi bahwa mereka tidak pernah merasa dilibatkan dalam penulisan buku tersebut .
MUI Pusat pun telah angkat bicara, menegaskan bahwa buku “Islam Ala Prabowo” bukan merupakan program, kegiatan, maupun produk lembaga tersebut . MUI mengajak semua pihak untuk mengedepankan prinsip tabayun—mencari kejelasan dan tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan.
Dalam konteks inilah, sikap Buya Gusrizal menjadi sangat menarik. Beliau tidak menyerang, tidak menghujat, dan tidak pula membela. Beliau hanya mengingatkan tentang sebuah prinsip dasar dalam tradisi keilmuan Islam: kehati-hatian.
Sebagaimana disampaikannya dalam sebuah forum Mudzakarah Ilmiah di Jakarta belum lama ini, bahwa seorang ulama harus sangat berhati-hati dalam memberikan jawaban. “Banyak sekali pertanyaan itu yang asal jawab di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya prihatin, seraya mengingatkan pentingnya ijtihad jama’an atau ijtihad kolektif .
Judul sebagai Cermin Kejujuran Ilmiah
Dalam poster yang sama, Buya Gusrizal menyindir dengan cerdas: “Kalau Memang Judul Sama Sekali Tak Menjadi Ukuran Penilaian, Buat Saja Buku Tanpa Judul !!!”
Sindiran ini bukan tanpa dasar. Dalam dunia literasi, judul adalah bagian dari tanggung jawab penulis dan penerbit. Judul yang tendensius, provokatif, atau bahkan menyesatkan, bisa menjadi celah masuknya kesalahpahaman yang lebih luas. Terlebih lagi, ketika judul tersebut dikaitkan dengan isu-isu sensitif seperti agama dan politik identitas.
Penulis epilog buku tersebut, KH Asep Saifuddin Chalim, bahkan mengakui bahwa dirinya telah menyarankan agar judul buku diubah. Ia menilai judul “Islam Ala Prabowo” sangat sensitif dan berpotensi menimbulkan tafsir yang salah di tengah masyarakat .
“Saya sudah menyarankan diubah judulnya, karena sensitif kalau itu judulnya. Sensibilitasnya nanti takut diartikan macam-macam,” kata Kiai Asep, dikutip dari Detikcom .
Sebuah Nasihat dari Ranah Minang
Buya Gusrizal Gazahar adalah representasi ulama yang tumbuh dari tradisi intelektual Ranah Minang—sebuah tradisi yang menjunjung tinggi adat dan syarak. Sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, beliau paham betul bagaimana sebuah keputusan atau pernyataan publik dapat berdampak luas bagi umat .
Apa yang disampaikan Buya Gusrizal bukanlah sekadar kritik terhadap sebuah buku. Ini adalah nasihat bagi seluruh elemen bangsa—termasuk para pendukung Presiden Prabowo—untuk tidak terjebak dalam permainan simbol dan pencitraan yang justru dapat merugikan. Sebagaimana diingatkan oleh pengamat politik Agung Baskoro, para pendukung presiden sering kali bertindak “offside” dengan membuat inisiatif yang justru menimbulkan polemik baru .
Di tengah polemik yang kian melebar, nasihat Buya Gusrizal bagaikan setitik embun di pagi hari: menyejukkan, mencerahkan, dan menuntun kita untuk kembali kepada esensi. Bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, kejujuran dan kehati-hatian jauh lebih berharga daripada gempita pencitraan. Dan bahwa judul, sekecil apa pun ia, adalah bagian dari amanah yang harus dipertanggungjawabkan—baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana kata Buya Gusrizal dalam poster itu, “Jangan-jangan Malah Tanpa Judulnya Pula Yang Menjadi Poros Perdebatan, he he.”
Tawa kecil di ujung kalimat itu bukan tanda ketidakseriusan, melainkan isyarat bahwa terkadang, hal-hal yang kita perdebatkan secara berlebihan justru kehilangan esensinya. Dan di situlah kebijaksanaan seorang ulama benar-benar diuji.







