Upaya Konservasi Nona Laut ‘Dugong’ di Indonesia

  • Whatsapp
Dugong
Dugong (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh : Muhamad Ronaldo

Beberapa waktu yang lalu Indonesia dikejutkan dengan berita ditemukannya seekor dugong atau duyung di Pesisir Pantai Mattirotasi, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Proses evakuasi mamalia yang terperangkap di perangkap ikan milik nelayan itu pun berlangsung dramatis. Bagaimana tidak, duyung yang terdampar ini memiliki luka di bagian tubuh bagian bawah. Tim gabungan dari Basarnas, BPBD Kota Parepare, hingga Brimop Polda Sulsel lalu terjun mengevakuasi duyung tersebut setelah menerima laporan warga. Tim SAR gabungan yang mencoba mengevakuasi dugong itu mengalami kesulitan saat proses evakuasi. Beberapa kali Dugong sempat memberontak saat dituntun di saluran empang. Selain bobotnya yang mencapai 2 ton, air di empang mengalami pendangkalan mengikuti air laut yang surut sehingga sulit di evakuasi.

Read More

Dugong merupakan mamalia laut anggota ordo Sirenia. Kata ‘’Dugong’’ berasal dari bahasa tagalog yang berarti nona laut atau lay of the sea. Dugong dapat ditemukan di perairan dangkal Samudera Hindia dan Pasifik. Di Indonesia dugong dapat ditemukan di perairan Pulau Bintan, Bali, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Teluk Cendrawasih di Papua. Dugong mudah ditemukan pada padang lamun yang menjadi habitat pakannya. Mamalia laut ini merupakan satwa yang dilindungi. Menurut IUCN
Dugong memiliki status rentan punah(Vulnerable), dan dalam CITES dugong termasuk dalam golongan Appendix I. Selain itu, dugong secara tegas dilindungi oleh Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang pengawetan satwa dan tumbuhan.

Mirisnya, populasi dugong pada saat sekarang ini semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain penangkapan oleh pemburu secara illegal, terjaring di jaring ikan nelayan, dan menurunnya ketersediaan pakan di padang lamun. Padang lamun yang sebagian besar di dominasi oleh tumbuhan laut atau sea grass, menjadi makanan utama bagi dugong untuk bertahan hidup. Adanya faktor seperti pencemaran laut yang dapat menurunkan
kualitas air laut sehingga mengurangi populasi dari sea grass itu sendiri. Dugong yang menyandang status rawan punah dengan populasinya yang terus menurun, maka diperlukan upaya untuk mengkonservasi hewan laut ini.

Salah satu upaya konservasi dugong di Indonesia yang bisa dilakukan yaitu dengan diadakannya program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) yang dimulai pada tahun 2016. Program ini dilaksanakan di tujuh Negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Sri Lanka, Mosambik, Madagaskar, Timor Leste, dan Vanuatu. Program ini merupakan kerjasama antara United Nation Environment Programme-Conservation Migratory Species (UNEP-CMS),

Mohamed bin Zayed Spesies Conservation Fund (MbZ) bersama kementrian Kelautan dan Perikanan, LIPI, WWF Indonesia, dan IPB. DSCP Indonesia merupakan program berbasis masyarakat lokal dengan jangkauan global untuk meningkatkan efektivitas konservasi dugong dan ekosistem lamun. Terdapat tiga program ID1, program ID2, dan program ID3. Propgram ID1 adalah rencana aksi konservasi nasional dugong dan habitatnya, yaitu padang lamun.
Program ID2 adalah meningkatkan kesadartahuan dan penelitian di tingkat nasional tentang dugong dan lamun. Program ID3 adalah pengelolaan dan konservasi dugong dan lamun berbasis masyarakat di Bintan, Kotawaringin Barat, Tolitoli, dan Alor.

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Andalas

Related posts