Urgensi Literasi Digital di Masa New Normal

  • Whatsapp
Rezi Rahmat, M.Pd
Rezi Rahmat, M.Pd.

Oleh: Rezi Rahmat, M.Pd.

Literasi Digital
Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Hampir semua aspek kehidupan sudah melibatkan media digital. Media digital sendiri adalah format konten yang dapat diakses oleh perangkat-perangkat digital. Tidak hanya itu, seseorang juga bisa membuat dan mengupload konten di perangkat-perangkat digital tersebut. Media digital bisa berupa website, media sosial, gambar dan video digital dan lain-lainnya yang terhubung dengan jaringan internet. Namun secara umum yang paling sering digunakan dan diakses oleh masyarakaat adalah media sosial. Di media sosial mereka berkomunikasi dengan teman maya, saling bertukar informasi, bisnis, dan tidak jarang media sosial menjadi tempat mencurahkan isi hati dan perasaan. Bahkan ada juga yang mendapatkan jodoh dari media sosial tersebut.

Read More

Dalam penggunaan media digital perlu memahami literasi digital. Literasi digital adalah kemampuan dasar mengoperasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat, dan mengkomunikasikan konten/informasi dengan kecakapan kognitif maupun teknikal (www.literasidigital.id).

Urgensi Literasi Digital
Adanya literasi digital memberikan wawasan mengenai media digital. Mulai apa saja media digital, fungsi, dan bagaimana cara memanfaatkannya Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat dan semua pengguna media digital memahami literasi digital. Jika tidak memiliki literasi digital yang baik, maka bisa saja penggunanya akan terjerumus untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam bermedia digital seperti melakukan ujaran kebencian, hoax, bully, konten-konten pornografi dan lain sebagainya.

Jika seseorang tidak bijak dalam bermedia digital, maka besar kemungkinan akan terjerat pidana dari Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Hal ini terbukti dari data yang diambil dari safenet.or.id sampai bulan Oktober 2020 tercatat ada 324 kasus pidana yang terjerat UU ITE. Pada tahun 2021 ini juga terjadi kasus penyimpangan bermedia digital. Kasus tersebut yaitu, kasus penghinaan Palestina yang dilakukan oleh seorang petugas kebersihan di Gerung, Nusa Tenggara Barat dan kasus penghinaan terhadap Palestina oleh seorang siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) di Bengkulu. Keduanya melakukan penghinaan terhadap Palestina di akun Tiktok yang kemudian menjadi viral di dunia maya, seperti yang dilansir dari www.kompas.com. Dari kasus-kasus yang terjadi, artinya masih banyak masyarakat yang belum memahami dan menggunakan media digital dengan baik.

Kolaborasi dan Sinergistitas
Pemerintah memiliki peran besar dalam menciptakan interaksi yang positif di ruang digital. Maka untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) meluncurkan program literasi digital nasional dengan tema “Indonesia Makin Cakap Digital” pada kamis lalu (20/5), seperti yang dikutip dari kanal Youtube Kemkominfo TV dan Siberkreasi. Program ini bertujuan untuk membekali penggunan media digital atau warganet dalam berinterasi di ruang digital baik dari segi etika, kemampuan, keamanan dan budaya digital.

Pemerintah mesti bekerja keras untuk mewujudkan program literasi digital secara nasional. Salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah melalui kementerian terkait adalah melakukan sosialisasi secara intensif dan menyeleruh kepada masyarakat di setiap kabupaten kota yang ada di Indonesia. Sehingga seluruh lapisan masyarakat mendapatkan informasi dan pemahaman dasar mengenai literasi digital.

Tidak hanya masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan pun harus ikut serta dalam mensukseskan program literasi digital nasional. Setiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP/Mts), dan Sekolah Menengah Atas (SMA/MA/SMK), serta Perguruan Tinggi mesti memberikan edukasi mengenai penggunaan media digital yang baik dan benar. Apalagi semenjak adanya pandemi Covid-19 terjadi perubahan dalam sistem pembelajaran yang awalnya dilakukan secara tatap muka beralih pada pembelajaran secara daring dan pembelajaran jarak jauh yang memanfaatkan media digital dalam setiap prosesnya.

Disamping itu, peran orang tua juga menentukan suksesnya literasi digital. Orang tua perlu memberikan pendampingan dan pengawasan terhadap anak-anaknya dalam menggunakan media digital. Sebagai orang tua yang beragama Islam, penting memberikan pemahaman agama kepada anak bahwa ada adab dan etika dalam berkomunikasi baik itu secara langsung aupun di media digital. Salah satunya dengan menggunakan bahasa qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut dan penuh kesantunan). Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah surat Thaha ayat 44: “ Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan lemah lembut.” (Q.S Thaha/20: 44).

Dalam bahasa keseharian masyarakat di Minangkabau terdapat bahasa kiasan terkait berkomunikasi yang baik Seperti ungkapan berikut: “Mangango-ngango dulu sabalum mangecek” maksudnya sebelum mengeluarkan sebuah ucapan kepada orang lain hendaknya dipikirkan telebih dahulu, apakah akan membuat orang lain tersinggung atau tidak. Sehingga ucapan yang keluar tidak akan menyakiti orang yang mendengarnya, sebaba telah ia pikirkan terlebih dahulu. Bahasa kiasan ini yang diajarkan oleh orang tua di Minangkabau kepada anak-anaknya. Sehingga anak-anak mereka terhindar dari berkomunikasi dan bermedia digital secara negatif.

Hendaknya pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat dan orang tua saling berkolaborasi dan bersinergi dalam menciptakan serta mensukseskan negara Indonesia makin cakap digital. Semoga semua itu bisa terwujud dan kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam bermedia digital. Wallahu musta’an. (*)

/* Penulis adalah penulis Buku Antologi Sepuluh Ribu Pantun Nasihat. 2) Permainan Tradisional Pembentuk Generasi Emas Indonesia. 3) Menjadi Generasi Milenial Rabani. 4) Pada Senja Aku Bersajak. 5) Keluarga dalam Pusaran Pandemi. E-mail: Rezi.rahmat37@gmail.com.

Related posts