Ustad Dr. Buchari Bongkar Rahasia Besar Surah Ali Imran 133 yang Bikin Jemaah Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar Tercengang!

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Malam itu, Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat bukan sekadar tempat shalat. Ia berubah menjadi lautan haru yang tak terbendung. Ratusan jemaah yang memadati masjid hingga pelataran dibuat terduduk lepas, tak kuasa menahan getaran yang merambat di dada. Semua mata tertuju pada satu sosok: Ustad Dr. Buchari, M.Ag.

Pria dengan tutur kata yang selalu dirindu itu naik ke mimba dengan langkah tenang. Senyumnya yang khas merekah, menyapa umat yang haus akan siraman rohani di bulan suci. Namun, tak seorang pun menduga bahwa malam itu Ustad Buchori akan membongkar sebuah rahasia besar dari Surah Ali Imran ayat 133—sebuah rahasia yang membuat jemaah tersedu-sedu dan bahkan sang ustad sendiri nyaris tak kuasa menahan air mata.

Dengan suara yang bergetar di awal, Ustad Buchori membuka mushaf kecilnya. Ia membaca ayat yang mungkin sudah sering didengar, namun kali ini dengan penekanan yang sama sekali berbeda:

“Wa saari’uu ilaa maghfiratim mir rabbikum…”

“Perhatikan baik-baik,” ujar Ustad Buchari menghentikan bacaan, matanya menyapu seluruh jemaah. “Allah tidak menggunakan kata saari’ yang berarti ‘bersegeralah’ untuk satu orang. Allah menggunakan kata SAARI’UU! Ada tambahan huruf wawu di situ. Itu artinya apa? Itu artinya BERSAMA-SAMA! BERSEGERALAH SECARA KOLEKTIF! ”

Seketika, suasana masjid berubah hening mencekam. Jantung jemaah seolah berhenti berdetak. Ustad Buchori melanjutkan dengan suara yang semakin berapi-api namun tetap tertahan oleh tangis.

“Jangan pernah berpikir kamu bisa selamat sendirian! Jangan pernah merasa cukup dengan ibadahmu sendiri! Allah menginginkan kita BEREBUT menuju ampunan-Nya SECARA BERSAMA-SAMA! Berebutlah dalam kebaikan! Saling tarik, saling ajak, saling gandeng! Karena ampunan Allah itu seluas langit dan bumi—luasnya luar biasa, tapi harus diraih BERSAMA-SAMA!”

Jemaah mulai tak kuasa menahan tangis. Ustad Buchori lalu mengajak mereka membayangkan pemandangan yang mencekam: saat sakaratul maut datang, seorang hamba akan merasa sangat kesepian. Namun, andai selama hidup ia terbiasa bersama-sama dalam kebaikan, andai ia terbiasa mengajak orang lain bersama-sama berlari menuju ampunan Allah, maka di alam kubur nanti ia tak akan sendiri.

“Bayangkan,” lanjut Ustad Buchori dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya, “di Padang Mahsyar nanti, saat matahari hanya sejengkal di atas kepala, saat manusia berkeringat hingga setinggi telinga, orang-orang yang dulu bersama-sama berebut ampunan di dunia akan dipanggil BERSAMA-SAMA masuk ke dalam naungan Arsy Allah! Mereka yang di dunia selalu bareng-bareng ke masjid, bareng-bareng sedekah, bareng-bareng berjuang di jalan Allah, akan bareng-bareng pula masuk surga!”

Masjid Taqwa sontak bergemuruh oleh isak tangis. Ustad Buchori kemudian menunjuk ke arah jemaah yang saling bersimpuhan.

“Ini Ramadhan! Bulan di mana pintu ampunan terbuka selebar-lebarnya. Jangan kau habiskan sendiri! Ajak keluargamu! Ajak tetanggamu! Ajak teman sekantormu! Mari BERSAMA-SAMA kita berlomba-lomba menuju ampunan Allah! Jangan sampai nanti di akhirat kamu menyesal karena masuk surga sendirian, sementara orang-orang yang kamu cintai justru tertinggal!”

Hingga tausiah usai, jemaah masih larut dalam haru yang tak terperi. Banyak yang saling berpelukan, saling menguatkan, dan berjanji untuk bersama-sama memperbaiki diri. Pesan Ustad Buchori malam itu bukan sekadar ceramah biasa. Ia adalah panggilan jiwa bahwa keselamatan tak cukup diraih sendiri. Harus bersama-sama, harus berjamaah, harus saling menggandeng tangan menuju maghfirah-Nya yang Maha Luas.

Malam itu, Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar menjadi saksi: sebuah ayat kembali hidup, dan ribuan hati berjanji untuk tak lagi berjalan sendiri menuju ampunan Allah.

Related posts