MINANGKABAUNEWS.com, PADANG– Di tengah gemuruh takbir yang menggetarkan hati, ribuan jamaah yang memadati Masjid Al Muttaqin Muhammadiyah, Kelurahan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh, Kota Padang, dibuat terpaku oleh khutbah Idul Fitri yang disampaikan Buya Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H. Dengan gaya retorika yang tajam namun menyentuh, ia tidak hanya mengajak umat merayakan kemenangan spiritual, tetapi juga mengajak mereka merenung sejenak: mampukah kita menyelamatkan negeri ini dari jurang kehancuran?
Mengawali khutbahnya, Buya Ki Jal Atri melukiskan keindahan pagi Idul Fitri, saat para malaikat berjejer di pinggir jalan menyaksikan umat Islam berjalan berbondong-bondong menuju tempat sholat. “Allah bertanya kepada malaikat, apa yang pantas Kuberikan kepada hamba-Ku yang berhasil menaklukkan hawa nafsu selama Ramadhan? Malaikat menjawab, Engkaulah Yang Maha Tahu. Maka Allah berfirman, tiada balasan yang layak selain surga,” ujarnya mengutip QS. Ali Imran ayat 133.
Namun, perlahan suara lembut itu berubah menjadi peringatan keras. Buya mengajak jamaah membuka mata: kemenangan Idul Fitri ini datang di tengah keprihatinan bangsa yang akut. Satu per satu problematika bangsa ia beberkan dengan data yang membuka mata. Dari sisi ideologi, ia menyebut globalisasi dan radikalisme menggerus nilai Pancasila. Di bidang ekonomi, angkanya mencengangkan: utang luar negeri Indonesia per Desember 2025 mencapai Rp6.907 triliun, dengan angka kemiskinan 23,85 juta jiwa. “Masyarakat kita di pinggir pantai, di daerah terpencil, masih bergelut dengan kemiskinan. Sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan masih jauh dari kata sejahtera,” keluhnya.
Tak hanya itu, Buya juga mengkritik keras penegakan hukum yang timpang. “Hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Maling ayam, maling recehan, langsung dipenjara. Tapi maling uang negara triliunan, masih sedikit yang tersentuh,” sindirnya disambut hening jamaah. Ia menambahkan, budaya suap dan sogok telah mengakar, membuat supremasi hukum sulit ditegakkan.
Namun, di tengah kritik sosial yang membumi, Buya tidak sekadar menjadi juru kritik. Ia menawarkan solusi yang ia sebut sebagai “Kepemimpinan Profetik” – sebuah konsep kepemimpinan yang meneladani para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW. “Kepemimpinan profetik adalah kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan sebagaimana yang dilakukan para rasul. Pemimpin seperti ini tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan rohani, sehingga kebijakannya tidak menyengsarakan rakyat,” tegasnya.
Ia merinci empat sifat wajib yang harus dimiliki pemimpin: Siddiq (jujur dan berintegritas), Amanah (bertanggung jawab), Tabligh (komunikatif dan mau mendengar rakyat), dan Fatonah (cerdas dan bijaksana). “Pemimpin yang siddiq akan menolak kebohongan. Yang amanah tidak akan mengkhianati rakyat. Yang tabligh mau berdialog, tidak hanya dengar laporan bawahan. Yang fatonah cerdas membuat kebijakan partisipatif,” paparnya.
Lebih jauh, Buya mengutip QS. At-Taubah ayat 128 yang menggambarkan sifat Nabi Muhammad: ‘azizun ‘alaihi ma ‘anittum (sangat peka terhadap kesulitan umat) dan harishun ‘alaikum (berusaha keras memajukan umat). “Pemimpin harus punya sense of crisis dan sense of achievement. Ia harus merasakan apa yang dirasakan rakyat kecil, bukan hanya duduk nyaman di kursi ber-AC,” ujarnya disambut anggukan jamaah.
Menurut Buya, tantangan pemimpin profetik saat ini sangat kompleks: ketidakpastian global, resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, hingga tuntutan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Namun, dengan mengembangkan keterampilan adaptasi, komunikasi, dan empati, pemimpin profetik bisa menjadi agen perubahan yang membawa transformasi positif.
“Kepemimpinan profetik akan dimiliki oleh setiap pemimpin yang mau mengkaji Al-Qur’an, menadaburi, mengamalkan, dan mengajarkannya. Dengan begitu, ia akan dicintai rakyatnya,” katanya.
Menjelang akhir khutbah, Buya mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali ke fitrah, tidak hanya secara ritual tetapi juga sosial. “Keberhasilan kita mengendalikan hawa nafsu selama Ramadhan harus berlanjut dalam kehidupan berbangsa. Mari selamatkan Indonesia dari kehancuran dengan sikap mulia, perbuatan yang diridhai Allah, dan kepemimpinan yang meneladani Nabi,” serunya.
Khutbah yang berlangsung sekitar 45 menit itu ditutup dengan doa khusyuk memohon keberkahan dan keselamatan bagi umat, bangsa, dan negara. Jamaah yang semula diam terpaku, perlahan mengamini dengan linangan air mata haru.
Buya Ki Jal Atri Tanjung, yang dikenal sebagai advokat sekaligus mubaligh, berhasil membungkus pesan kritis dalam bingkai spiritual yang menyejukkan. Ia tidak hanya bicara surga, tetapi juga tentang bagaimana menyelamatkan bumi pertiwi dari kehancuran – dengan kepemimpinan yang jujur, cerdas, dan penuh kasih sayang, sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.






