Waduh! 14 Persen dari Anak yang Lahir di Bukittinggi Stunting

MINANGKABAUNEWS, BUKITTINGGI – Kasus kekerdilan/pendek (stunting) masih menjadi momok di Indonesia. Pada 2019 berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), angka kasus stunting di Indonesia tercatat 27,67 persen dari jumlah kelahiran.

Sedangkan, World Health Organization (WHO) menargetkan angka kasus stunting suatu negara tidak lebih dari 20 persen. Meski berada di bawah angka Nasional dan Provinsi Sumatera Barat, dalam upaya menekan terjadinya kasus stunting di Bukittinggi.

Read More

Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi menyelenggarakan kegiatan Pertemuan Penguatan Posyandu dalam Rangka Penurunan Stunting di Balcone Hotel, Padang Hijau, Senin (4/10/2021). Kegiatan tersebut diikuti oleh utusan Posyandu Kelurahan dan Kecamatan se-Kota Bukittinggi.

Kepala Dinas Kesehatan diwakili Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Darmayanti, dalam keterangannya sebutkan, pelaksanaan kegiatan tersebut menitikberatkan pada penguatan Posyandu sebagai garda terdepan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan serta edukasi informasi kesehatan, khususnya pemantauan tumbuh kembang anak.

“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang diakibatkan kekurangan gizi kronis, yang dapat mengakibatkan berkurangnya kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan data e-PPGBM atau aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat, kasus stunting di Bukittinggi mencapai 14 persen dari jumlah kelahiran, sebutnya lagi,” ungkap Darmayanti dalam rilis pers.

Darmayanti lebih lanjut mengatakan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bukittinggi 2021—2026, kasus stunting ditargetkan turun menjadi 10 persen. Oleh karena itu, peran Posyandu sangat penting dalam mengawal 1000 hari kehidupan (masa ibu hamil sampai dengan anak berusia 2 tahun_red).

“Melalui pemantauan pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif, serta pemantauan tumbuh kembang anak setiap bulannya. Dengan peran yang dijalankan oleh Posyandu tersebut, faktor resiko dan kejadian stunting dapat terdeteksi,” jelas Kasi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat itu.

Ia menambahkan kegiatan Pertemuan Penguatan Posyandu dalam Rangka Penurunan Stunting ini bertujuan mendorong penyelenggaraan peran Posyandu dapat berjalan dengan optimal sebagai tempat mendeteksi dini permasalahan gizi, serta pengukuran berat dan tinggi badan yang tepat bagi balita.

“Untuk mewujudkan peran tersebut, sarana dan prasarana yang tepat, keterampilan kader, baik dalam pelayanan maupun penyuluhan, serta keterlibatan lintas sektor terkait merupakan sebuah keniscayaan,” terangnya lebih lanjut.

Pelaksanaan kegiatan Pertemuan Penguatan Posyandu dalam Rangka Penurunan Stunting menampilkan narasumber dr. Indra Weni, M.Ph (Dinas Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sumbar),  Liliyarni, S.K.M, M.K.M (Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar), drg. Salvi Raini, M.M (Kabid PPSDK Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi), dan Noni Anida , S.Gz (seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi.

Related posts