Waduh! Babi Panggang Ambawang di Pidato Jokowi, Disengaja atau Salah Ketik?

  • Whatsapp
Waduh! Bipang aka Babi Panggang Ambawang di Pidato Jokowi, Disengaja atau Salah Ketik?
Bipang Ambawang (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS, NASIONAL — Dunia perbabian sedang naik daun. Setelah heboh hoaks babi ngepet di Depok, akhir April 2021, kini rakyat Indonesia kembali dibuat kaget karena masalah kuliner Nusantara, Bipang Ambawang dari Kalimantan. Bipang Ambawang langsung menjadi topik paling banyak dibicarakan di berbagai media sosial. Semuanya berawal dari pidato Presiden Jokowi soal larangan mudik Lebaran. Dalam pidato tersebut Presiden menyebutkan sejumlah kuliner yang bisa dipesan secara online untuk warga yang tidak mudik tetapi rindu makanan khas daerah.

Dari deretan kuliner khas daerah, Presiden asal Solo itu menyebut Bipang Ambawang dari Kalimantan yang merujuk pada Babi Panggang Ambawang. Pernyataan Jokowi ini pun langsung disambar warganet untuk meminta klarifikasi lantaran Babi Panggang adalah makanan haram untuk umat Islam, sehingga tak layak direkomendasikan Presiden ketika membicarakan Hari Lebaran.

Read More

Pro dan kontra tentu saja langsung muncul. Namun, untuk menyamakan persepsi dari tiap kata dalam kalimat yang digunakan Presiden, mari kita simak potongan pidatonya yang beredar luas di media sosial:

“Bapak Ibu dan saudara-saudara sekalian, sebentar lagi Lebaran, dalam suasana pandemi ini Pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. Untuk bapak ibu dan saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesan secara online. Yang rindu makan Gudeg Yogya, Bandeng Semarang, Siomay Bandung, Empek-Empek Palembang, Bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya, tinggal pesan…”

Warganet menyoroti momen Presiden Jokowi menyebutkan “Bipang Ambawang dari Kalimantan”. Dari kalimat itu kuat dugaan kuliner yang dimaksud Presiden adalah Babi Panggang Ambawang dari Kalimantan. Dugaan itu diperkuat setelah ajakan Presiden disambut akun penjual bipang ambawang. Akun Instagram @bipangambawang mengunggah video RI tersebut.

“Sebuah kebanggaan kami dapat disebut oleh Bapak Presiden @jokowi dalam pidato tadi malam di Kompas TV. Seperti yang disebutkan, bipang ambawang menerima pengiriman ke luar kota di seluruh Indonesia. Untuk pemesanan dapat menghubungi via WA kami: 0811-568-2323,” demikian keterangan dalam akun tersebut.

Kegaduhan dari pernyataan kontroversi Presiden pun langsung coba diredam Kementerian Perdagangan selaku pemilik video tersebut. “Berkaitan dengan pernyataan mengenai Bipang Ambawang, kita harus melihat dalam konteks secara keseluruhan. Pernyataan Bapak Presiden ada dalam video yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan membeli produk lokal,” ujar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melalui keterangan video yang diunggah di Jakarta, Sabtu (8/5)

Namun Kemendag, kata Luthfi, selaku penanggungjawab acara Hari Bangga Buatan Indonesia meminta maaf jika pernyataan Presiden menyebabkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. “Kami memastikan tidak ada maksud apapun dari pernyataan Bapak Presiden, kami meminta maaf sebesar-besarnya jika terjadi kesalahpahaman karena niat kami hanya ingin kita semua bangga dengan produk dalam negeri termasuk kuliner khas daerah, serta menghargai keberagaman bangsa kita,” ujar Mendag.

Okelah, Kemendag secara ksatria mengakui ada kesalahpahaman. Namun, perlu dicatat dalam kasus isi pidato Jokowi yang heboh tersebut, ada tim komunikasi Presiden yang perlu dievaluasi. Perlu dicari tahu siapa yang membuat isi pidato tersebut, dan siapa yang meloloskan hingga di acc. Saya yakin, sebagai seorang Muslim yang taat dan dikenal rajin beribadah, Presiden Jokowi tidak pernah makan makanan yang diharamkan dalam Islam. Tetapi sayangnya kemungkinan Pak Presiden yang tidak sempat mengkoreksi isi teks pidato menimbulkan kegaduhan di masyarakat, khususnya umat Islam.

Tenaga Ahli Utama KSP, atau setidaknya Menteri Sekretaris Negara Praktikno perlu menyampaikan klarifikasi terkait isi pidato tersebut. Jika memang ada kesalahan ada baiknya diakui, apalagi saat ini menjelang akhir Ramadhan dan menyambut Hari Raya Lebaran. Tak perlu lagi klarifikasi pembenaran, karena justru membuat suasana semakin memanas.

Ketua Umum Jokowi Mania (JoMan) Immanuel Ebenezer atau Noel menyalahkan Menteri Sekretaris Negara Praktikno atas viralnya video ini. Ia pun mendorong agar Pratikno dicopot. “Ini sudah kesekian kalinya. Dari surat-surat, administrasi hingga data sambutan presiden pun bisa salah,” kata Noel dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (8/5/2021). “Yang tidak benar ya Pratikno. Harus dicopot dia. Sudah terlalu lama diberi kesempatan.”

Noel mengatakan mestinya data sambutan Presiden di-crosscheck berulang kali. Hal ini untuk meminimalisir kesalahan. “Kalau makanan bipang. Tinggal klik saja si Google sudah keluar itu artinya apa. Jadi ada kelalaian dan kesalahan di Sesneg yang terjadi terus menerus dan berulang kali,” ujar Noel.

Permintaan JoMan barang kali terlampau keras dan mustahil dikabulkan. Pasalnya, Mensesneg yang terpilih biasanya adalah seorang profesional, atau orang yang sangat dipercaya presiden. Pratikno yang mantan rektor UGM bisa dibilang saat ini sebagai seorang profesional dan orang yang dipercaya Presiden Jokowi.

Terlepas dari itu, keterangan dari Kemendag dan Ketum JoMan, serta ucapan terima kasih dari akun penjual @bipangambawang, kita bisa simpulkan jika kuliner “Bipang Ambawang dari Kalimantan” adalah Babi Panggang Ambawang dari Kalimantan. Jadi ketika ada yang memulai memainkan narasi untuk membelokkan Bipang bukan Babi Panggang bisa kita tertawakan.

Salah satunya adalah unggahan Juru Bicara Kepresidenan Fadjroel Rachman di media sosial, Twitter pribadinya. Ia juga mengunggah foto Bipang kue beras bipang.

“Ini BIPANG atau JIPANG dari beras. Makanan kesukaan saya sejak kecil hingga sekarang. BIPANG atau JIPANG dari beras ini hit sampai sekarang. Terimakasih ~,” tulis Fadjroel.

“Ini Bipang (atau Bepang atau Jipang) yang saya kenal di kampung saya Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bipang Kalimantan makanan dari beras dengan gula, makanan saya dari kecil hingga sekarang kalau pulang kampung. Idul Fitri 1442 H ini #TidakMudik lagi ~ #BungFADJROEL #Bipang

Di sini kita sedikit luruskan. Pak Presiden Jokowi menyebutkan “Ambawang” yang berada di Pontianak, Kalimantan Barat. Sementara Fadjroel menyebut Bipang yang dimaksud Presiden Jokowi adalah makanan dari beras dan gula yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jelas ada kekeliruan karena jika merujuk pada GoogleMap, jarak antara Pontianak dengan Banjarmasin adalah 1.215,9 km. Apalagi Presiden Jokowi tidak menyebutkan Bipang Banjarmasin, melainkan Bipang Ambawang.

Ada pula yang menyebut jika pidato Presiden Jokowi bukan ditujukan untuk umat Islam, melainkan untuk umat agama lain. Perlu dicatat, memang tanggal 13 Mei 2021 bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri sekaligus Hari Kenaikan Yesus Kristus.

Sejumlah akun di medsos seperti Twitter dan Instagram ramai-ramai menyatakan jika pernyataan Presiden Jokowi soal Bipang Ambawang adalah untuk umat Nasrani. Karena Presiden Jokowi adalah presiden seluruh umat beragama di Indonesia, tidak hanya umat Islam.

Sebelum saya tanggapi, pernyataan tersebut seperti penegasan jika Bipang Ambawan adalah memang kuliner Babi Panggang. Jika memakai rujukan saudara-saudara kita dari umat Nasrani tersebut, pernyataan Fadjroel pun terbantahkan soal Bipang/Jipang Banjarmasin.

Oke, tanpa mengurangi rasa hormat kepada saudara-saudara Nasrani yang saya cintai karena sebangsa dan setanah air, perlu dicatat, pidato Presiden Jokowi tersebut dibuat untuk memberikan penjelasan terkait mudik Lebaran. Konteksnya adalah pelarangan mudik saat Lebaran, Hari Raya Idul Fitri, perayaan hari besar umat Islam. Di sini Presiden Jokowi ingin meminta umat Islam yang mau mudik harap menahan diri untuk tidak mudik karena masih masa pandemi. Sehingga, Presiden menyarankan, memberi masukan, kepada umat Islam yang tidak bisa mudik tetapi rindu dengan makanan khas daerahnya, bisa memesan lewat online.

Nah, Pakar Hukum Prof Refly Harun juga punya pendapat. Pidato Presiden ini tidak bisa disepelekan, karena masyarakat sekarang sangat sensitif terhadap pemerintah Presiden Jokowi yang dianggap terlalu meng-endores, misalnya di satu sisi kelompok-kelompok non-Muslim atau kelompok-kelompok yang anti-Muslim secara umum. “Walaupun kita tidak bisa mengatakan semuanya anti, tapi paling tidak ada tones seperti itu, di mana idiom-idiom kanan itu sangat tidak disukai pendukung Jokowi. Yang mereka sukai adalah organisasi agama atau kelompok-kelompok siapa saja yang mendukung pemerintahan,” kata dia.

Di sisi lain ada cerita tenaga kerja Cina yang terus berdatangan, padahal pemerintah melarang mudik. “Dalam latar belakang seperti itu, dalam menyebut Bipang Ambawang adalah fatal. Orang akan menganggap tim komunikasi Presiden tidak peka terhadap isu-isu yang seperti ini.”

Lantas bagaimana kita sebagai umat Islam dan rakyat Indonesia menyikapi polemik tersebut. Pernyataan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr Amirsyah Tambunan, bisa jadi jawabannya. Menurut Dr Amirsyah, klarifikasi sangat penting agar kegaduhan terkait menu Bipang yang haram bagi umat Islam tidak terus bergulir.

“Agar kegaduhan ini segera mereda,” kata Sekretaris Jenderal MUI, Dr Amirsyah Tambunan, Sabtu (8/5).

Klarifikasi ini, juga sangat penting agar umat paham apa yang sebenarnya sedang dipromosikan oleh Presiden. “Saya pikir klarifikasi ini harus cepat disampaikan agar publik paham, karena kata Bipang dengan Jipang sebutan diksinya hampir mirip tapi sebetulnya beda produk,” ujarnya.

Menurut Amirsyah jika Bipang Ambawang yang dimaksud dari Kalimantan maka jelas bahwa yang dimaksud adalah babi panggang. Yang disampaikan dalam pandangan Sekjen MUI menimbulkan pertanyaan. Karena imbauan tersebut dikemukakan di tengah bulan suci Ramadhan dan menjelang Lebaran Idul Fitri bagi umat Islam. “Ini penting (yang) sebetulnya dimaksud itu apa, agar tidak menimbukan salah paham.”

Amirsyah mengungkapkan sebaiknya dan sudah seharusnya kita fair dalam menilai pidato Presiden, teks dan konteksnya dalam suasana menjelang Idul Fitri yang merupakan perayaan terbesar untuk Umat Islam. Sehingga tentu yang dibicarakan adalah makanan halal, bukan makanan haram. Ia juga berharap tim media Istana harus ksatria minta maaf kepada masyarakat yang menghormati perbedaan keyakinan terkait makanan halal dan haram.

Namun, karena masih Ramadhan, sebaiknya kita, khususnya umat Islam, menahan diri berkomentar mengingat bisa mengurangi keberkahan di bulan suci. Ada baiknya kita berdoa agar kekeliruan (bukan salah ketik) seperti ini tidak terjadi lagi. Terlebih ada yang perlu juga disoroti ketimbang Bipang Ambawang, yakni kedatangan ratusan WN China ketika larangan mudik diberlakukan. Tabik. (Rep)

Related posts