Walhi Desak KPK Usut Aktivitas Reklamasi Ilegal Danau Singkarak

  • Whatsapp
Aktifitas reklamasi atau penimbunan danau di dermaga Jorong Kalukua, Nagari Singkarak, Kabupaten Solok, Sumbar. (Foto : Ist)

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar mengusut tuntas aktivitas reklamasi ilegal di tepian Danau Singkarak, Kabupaten Solok, yang diduga berpotensi menimbulkan kerugian negara.

“Kita meminta KPK mengusut dan melakukan kajian mendetail terkait potensi kerugian negara dari pemanfaatan aktivitas pembangunan ilegal di Danau Singkarak,” kata Kadep Kajian Advokasi dan Kampanye Walhi Sumbar, Tommy Adam, dalam diskusi bersama KPK dilansir Suara.com– jaringan Minangkabaunews.com, Jumat (22/1/) kemarin.

Read More

Dia menyebut, reklamasi atau penimbunan danau di dermaga Jorong Kalukua Nagari Singkarak Kabupaten Solok telah berlangsung sejak Juli 2016 yang dilakukan oleh sebuah perusaahaan (PT).

Kaluku Indah Permai dengan luas danau yang ditimbun sekitar 30 hingga 50 meter dan panjang 70-100 meter. Menurutnya, pembangunan itu tidak sesuai dengan Perda Kabupaten Solok 1 Tahun 2013 tetang RTRW Kabupaten Solok Tahun 20212-2031.

Pihaknya meminta Kementerian ATR/BPN melakukan upaya tindakan tegas berupa pidana dan perdata terhadap aktivitas ilegal yang tidak sesuai dengan peruntukan tata Ruang.

Walhi juga meminta KLHK memberikan sanksi tegas terhadap kegiatan yang berdampak terhadap kelestarian ekosistem Danau Singkarak dan mengembalikan fungsi danau singkarak seperti sebelumnya dan memprioritaskan agenda penyusunan zonasi sesuai amanat perpres 60 Tahun 2021.

“Kita berharap jangan lagi sanksi administrasi karena itu tidak membuat efek jera dan membuat pengusaha latah membangun dulu sebelum mengurus perizinan. Kita minta ada tindak tegas dalam hal ini,” katanya.

Direktur Korwil IV KPK, Jarot Faizal mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti hal ini secara berkelanjutan dan tidak akan vakum menindaklanjuti temuan ini.

Jika ditemukan kesalahan, katanya, pihaknya akan berusaha melakukan pencegahan dan pengembalian kerugian negara berupa pemulihan Danau Singkarak.

Untuk pembangunan saat ini sejak 2016 hingga 2022 ini, ia menilai ada kelemahan dari pemerintah daerah yang vakum dalam menindaklanjuti hal ini.

“Karena tidak ada peringatan mereka merasa aman membangun reklamasi ini. Kita akan usahakan pencegahan dan pembinaan. Jika tidak bisa, maka tentu kita tindak tegas,” katanya.

Related posts